Kehidupan Ekonomi Dunia

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

MANUSIA, hewan, tumbuhan adalah makhluk ciptaan Tuhan. Mereka pada dasarnya memiliki hak yang sama, yaitu hak untuk hidup dan berpenghupan. Yang membedakan diantaranya adalah bentuk pisiknya, sifat-SIFATnya dan khusus manusia diberikan akal oleh Tuhan.

Ketiganya juga memerlukan oksigen, air, udara dan makanan agar mereka dapat hidup dan mampu menghidupi dirinya dalam kurun waktu yang lama. Oksigen, air dan udara pada dasarnya adalah sumber energi.

Tumbuhan dan juga binatang adalah sumber makanan, bukan hanya untuk manusia yang diberi akal saja yang memerlukan makanan. Tumbuhan dan hewan juga membutuhkan untuk menjamin kelangsungan hidupnya.

Sebutir biji jagung misalnya, dia dibutuhkan oleh manusia sebagai sumber makanan, hewan juga memerlukannya sebagai sumber makanan, bahkan sebutir biji jagung karena perkembangan teknologi dibutukan pula sebagai sumber energi baru terbarukan (non fosil) untuk diproses menjadi bioetanol.

Singkat cerita untuk menjamin kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan, ketiga makhluk hidup tersebut membutuhkan energi dan pangan. Secara ekonomi dan ekologis, energi dan pangan menjadi sangat strategis sehingga kuantitas dan kualitasnya harus dijamin sebab kalau terjadi kekurangan maka bencana kemanusiaan akan mengancam, juga bencana bagi tumbuhan dan hewan.

Karena itu, muncul isu tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan untuk menjaga keberlangsungan kehidupan makhluk hidup. Dunia terus berkembang, ilmu pengetahuan dan teknologi makin berkembang dan makin canggih. Demikian pula kegiatan ekonomi berkembang pesat seiring dengan makin meningkatnya kebtuhan manusia untuk bisa terus hidup sejahtera dan makmur.

Sesejahtera dan semakmur apapun manusia bahkan menjadi kaya raya, dia tidak akan pernah bisa lepas dari energi dan makanan sebagai kebutuhan pokok. Kebutuhan yang lain seperti rumah, pakaian, kendaraan darat, laut dan udara, telivisi, hiburan dan bentuk kenikmatan yang lain adalah hanya sekedar pelengkap dan alat-alat kelengkapan untuk kehidupan manusia di zaman modern.

Lepas dari takdir Illahi, manusia akan panjang dan pendek umurnya akan sangat tergantung dan bergantung kepada adanya ketersediaan energi dan pangan dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang memadai. Penjajahan dan peperangan (secara militer dan ekonomi) terjadi karena masalah pangan dan energi (bahkan sudah terjadi dimana-mana di dunia).

Jarang terjadi perang antar negara hanya gara-gara jumlah pakaian dan lain-lain tadi tidak cukup tersedia di pasar, paling-paling harganya akan naik, habis itu semua bisa menjadi normal. Melihat perkembangan yang terjadi di dunia dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan, pernah satu media memberitakan (maaf lupa nama medianya) bahwa hal yang akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dunia ke depan adalah energi, pangan, pariwisata, hiburan dan perjudian (gambling).

Kita semua boleh setuju boleh tidak dengan analisa itu. Tapi kalau dilihat dari sisi kehidupan dan dalam prosesnya, sebagian besar penduduk dunia makin bertambah sejahtera dan makmur dengan ditandai makin meningkatnya pendapatan dan derajat kehidupannya yang bersifat material dan imaterial, maka manusia memang akan menjadi amat bergantung dengan lima faktor sumber pertumbuhan ekonomi tadi di masa kini dan di masa depan.

Energi dan pangan adalah hal yang esensial bagi kehidupan manusia. Agar keperluan hidupnya sebagai makhluk hidup terpenuhi baik secara kuantitas dan kualitas, pasti membutuhkan investasi yang masif untuk pengembangan riset dan teknologi, produksi dan distribusinya.

Angkanya bisa mencapai triliunan dolar AS. Pasarnya pasti besar. Omzet dan kapitalisasinya juga tak kalah besar sehingga uang yang berputar di pasar dan pangan di dunia bisa mencapai triliunan dolar AS juga.

Semua yang terlibat dalam investasi dan bisnis energi dan pangan dunia pasti akan mendapat manfaat yang tidak sedikit secara ekonomi. Secara imaterial, ketika tingkat kesejahteraannya makin membaik, begitu pula kemakmurannya, maka mereka pasti mulai pingin menikmati suatu kehidupan yang hatinya bisa terhibur, “terpuaskan dan kenikmatan yang lain.

Mulailah dia ingin berwisata (wisata gunung, wisata hutan, wisata laut, wisata belanja dll). Tidak hanya itu, dia juga butuh hiburan dan kebugaran (musik, drama. film, konser, balap mobil, berkuda, golf dll). Bahkan saking makmurnya atau mulai bisa hidup makmur, mulailah sebagian manusia yang pola hidupnya seperti itu ikut-ikutan berjudi.

Dari judi beneran sampai yang bungkusnya pasar finasial (yang oleh sebagian kalangan bermain di pasar finasial juga mengandung unsur judi karena spekulatif sifatnya). Itulah dunia nyata dalam kehidupan manusia di dunia yang halal yang haram sudah campur aduk kayak gado-gado atau karedok.

Kalau adonannya tepat, mungkin enak dimakan tapi kalau salah adonannya bisa mencelakakan. Memang ke lima kegiatan ekonomi yang dijelaskan tadi betul adanya dan menantang bagi yang mau berkiprah sebagai investor, pebisnis dan pengguna dan penikmat sekaligus.

Tapi yaitu tadi. Di dalamnya ada yang halal ada yang haram. Celakanya, ketika sudah diolah seperti gado-gado dan karedok dan cita rasanya enak dan enak sekali, maka kita menjadi lupa daratan. Catatan kecil yang perlu diangkat adalah, kehidupan di dunia bisa seperti itu.

Pertumbuhan ekonomi boleh dibuat dengan proyeksi yang sangat menjanjikan.Tapi hakekat kehidupan di dunia itu sendiri sejatinya tidak harus seperti itu. Artinya, kehidupan di dunia itu apa yang bisa kita peroleh dan bisa kita nikmati sejatinya tidak lebih sekedar modal investasi untuk hidup pada kehidupan lain di akhir zaman. Mencari rezeki, wajib untuk memenuhi kehidupan , tapi kita harus dapatkan rezeki yang halal. Saling memberikan manfaat bagi sesama umat manusia di dunia. Bukan untuk mereka yg hidup di benua Amerika, Eropa dan Asia saja. Tapi juga di benua yang lain.

Bukan pula hanya untuk menjamin kehidupan manusia dan kemanusiaan saja ketika berbicara tentang energi, pangan, hiburan, pariwisata dan “judi” barangkali, tapi kelimanya juga diperlukan oleh binatang dan tumbuhan.

Oleh karena itu,kehidupan di dunia harus saling menyayangi antara manusia dengan manusia yang lain dimanapun mereka hidup dan mencari penghidupan. Manusia juga harus bisa memberikan kasih sayang kepada binatang karena tanpa binatang, kita belum tentu bisa hidup meskipun binatang tidak dikarunia akal oleh Tuhan.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar