Kekuatan Pasar Itu Sendiri yang Menormalkan Keadaan Tanpa Perlu Campur Tangan Pemerintah

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, mutar-mutar berteori ekonomi dan mengotak-atik kebijakan ekonomi sesungguhnya kita berada di area terbuka, dimana permintaan dan penawaran saling melakukan request and over. Yang direquest dan diover adalah modal, barang dan jasa, teknologi dan mesin peralatan, serta tenaga kerja.

Mekanisme  pasar yang menggerakkan arusnya dan manakala terjadi gangguan, kekuatan pasar itu sendiri yang menormalkan kembali keadaan tanpa perlu campur tangan pemerintah.

Alasannya karena bisa menyebabkan ekonomi dan kompetisi berjalan tidak optimal dan ekonomi pasti akan selalu mendapatkan keseimbangannya karena ada invisible hand, meskipun akan memakan waktu beberapa lama.

KEDUA, jika hukum permintaan dan penawaran seperti itu pada dasarnya telah tiada karena invisible hand-nya telah menjelma menjadi pengendali utama pasar. Pendek kata, mereka mempunyai mantra yang bisa menimbulkan sentimen positif maupun sentimen negatif di pasar. Kekuatan pemerintah adakalanya tak kuasa mengendalikan praktek bisnis mereka, bahkan pemerintah yang justru dikendalikan mereka. Dengan kekuatan mesin kapitalnya, pemerintah bisa “terjebak” pada pasaran kerja mereka dan masuk dalam lingkaran korporatokrasi.

Mereka bebas menikmati gaya hidup para kapitalis dimana mereka punya maksud dan tujuan untuk mengkapitalisasi aset , pasar dan keuntungan. Mereka selalu cenderung menghindari pajak dan selalu meminta agar semua keuntungan yang diperoleh bebas ditransfer ke negara asalnya atau supaya dengan cepat dapat dipindahkan ke negara lain yang iklim bisnisnya lebih baik.

Harapan dan keinginan mereka tersebut hampir tidak ada yang tidak dipenuhi oleh pemerintah dimanapun sehingga liberalisasi, deregulasi serta kemudahan dan insentif doing business diobral besar supaya mereka datang menanamkan modalnya.

KETIGA, sang invisible hand kini pingsan terkena serangan virus covid-19. Hanya covid-19 yang bisa membuat mereka pingsan. Meskipun demikian, daya tahannya luar biasa, sehingga ketika puluhan juta manusia terpapar virus covid-19 dan sebagian diantaranya meninggal, mereka tetap bisa mengendalikan pasar finansial, pasar modal, pasar barang dan jasa, serta pasar tenaga kerja di seluruh dunia.

Ketika kita dihadapkan pada kondisi resesi ekonomi,  mengapa doing business mereka tetap jalan, padahal terjadi resesi. Jawabannya betul terjadi resesi, tapi yang terjadi  hanya resesi yang bersifat technical. Angka statistik pertumbuhan ekonominya saja negatif selama dua kuartal berturut-turut dalam tahun yang sama, Atau dalam dua kuartal berturut-turut terjadi penurunan aktivitas ekonomi pada tahun yang sama.

Tidak Perlu Diobati

Jadi secara teoritis sebenarnya hanya terjadi penurunan aktivitas ekonomi sesaat  yang bersifat cyclical. Kalau menurut pak Adam Smith, penyakit tersebut tidak perlu diobati karena mekanisme pasar bisa menyembuhkannya sendiri, alasannya karena pasar dianggap paling tahu apa yang terbaik untuk dilakukan. Tapi menurut pak Keynes tidak bisa begitu, pemerintah harus turun tangan memulihkan aktivitas ekonomi yang menurun dengan memberikan stimulus.

Dalam situasi seperti itu, berarti bahwa invisible hand dianggap gagal menjalankan fungsinya sebagai “pengatur pasar”dan perannya untuk sementara waktu digantikan oleh pemerintah sampai terjadi keseimbangan baru. Pemerintah harus segera campur tangan dengan defisit spending untuk mengatasi pelambatan aktivitas ekonomi.

KELIMA, jadi, apa yang terjadi saat ini sejatinya penurunan aktivitas ekonomi, yang bersamaan dengan itu terjadi pandemi virus covid -19 yang menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tapi statistik ekonomi mempunyai pakem sendiri dan mengatakan terjadi resesi ekonomi.

Ya, semua  tentu ngikut pakem tersebut. Padahal kalau dilihat dari ATHG, yang terjadi sebetulnya hanya karena ada hambatan dan gangguan aktivitas ekonomi global, sehingga permintaan agregat terganggu akibat seluruh rantai pasok global terganggu. Hambatan dan gangguan itu terjadi karena penanganan covid-19 secara umum harus di lakukan lockdown dan di Indonesia menggunakan istilah PSBB.

Dengan memahami situasinya yang seperti itu , maka sesungguhnya dunia menghadapi dua peristiwa  yang berbeda kontennya,yakni pelambatan ekonomi dan pandemi covid-19 atau terjadi peristiwa ekonomi dan peristiwa non ekonomi yang pusat erupsinya satu sama lain terpisah.

Namun konteksnya menjadi saling mengkait manakala sebaran pandemi covid-19 harus dicegah dengan tindakan lockdown yang kemudian menghambat dan menimbulkan gangguan aktivitas ekonomi di seluruh dunia. Yang dikhawatirkan justru jika terjadi depresi karena dampak buruknya pasti berbiaya tinggi  melebihi biaya pemulihan ketika terjadi great depresion tahun 1929/1930 atau krisis keuangan Asia tahun 1997/1998 dan krisis utang tahun 2008/2009 di UE dan AS.

Penyakit Bawaan

KEENAM, ketika hukum sebab akibat digunakan, maka covid-19 menjadi “tersangka” karena covid-19 dikatakan menjadi pemicu terjadinya resesi ekonomi. Padahal kondisi obyektifnya, sektor ekonomi sudah punya penyakit bawaan yakni tumbuh melambat, kemudian ditimpa pandemi covid-19, kondisinya makin memburuk. Atas dasar ini, maka kesibukan pemerintah menjadi terfokus pada penanganan Progam Pemulihan Ekonomi Nasional karena pandemi covid-19.

Kalau covid-19 menjadi penyebab, maka mestinya penyebabnya  ini yang harus dimitigasi dengan cara extraordinary agar dampak sosial ekonominya tidak meluas. Momen wisdom yang semestinya diprogamkan adalah Progam Penanganan Covid-19 Nasional di satu pihak dan Pemulihan Ekonomi Nasional di lain pihak sehingga penganggarannya  dalam APBN mestinya dibuat berimbang untuk mendukung pembiayaan dua progam utama yang berskala nasional tersebut.

Jika penanganan covid-19 keteteran, maka harap dicatat bahwa boleh jadi Indonesia akan berada di gerbong paling belakang dalam mengatasi pandemi, yang tentu menjadi terlambat dalam memulihkan ekonominya. Akibatnya, diperlukan biaya yang lebih besar lagi dari yang sekarang ini berjalan.

KETUJUH, terkait dengan itu, maka menjadi ingat apa yang pernah dikatakan Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebre Yesus yang meminta agar menghentikan politisasi krisis kesehatan global. Bahkan secara khusus menyerukan kepada AS dan China untuk menunjukkan kepemimpinan yang jujur. Demi persatuan di level nasional, jangan gunakan covid-19 untuk poin politik. Solidaritas, dan kejujuran di level nasional maupun global  serta kepemimpinan yang jujur dari AS dan China adalah hal paling penting.

Permintaannya adalah tolong karantinakan politisasi covid-19. Semoga badai cepat berlalu, dan dunia bisa kembali mengenyam kehidupan normal baru yang jauh lebih baik karena ada perdamaian, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat telah kembali pulih.

KEDELAPAN, catatan tersebut penting. Dan kalau memang pandemi covid-19 dianggap menjadi pemicu krisis ekonomi, maka menjadi benar pandangan sebagian para ahli bidang kesehatan dan ahli ekonomi memberikan pertimbangan agar penanganan covid-19 yang lebih diutamakan.

Seperti Permainan

Kasus aktif corona, Indonesia adalah tertinggi di ASEAN. Sendi-sendi kehidupan ekonomi pada skala apapun akan kembali normal bila penanganan covid-19 well organized dan maksimal hasilnya jika karantina politisasi covid bisa dilakukan.

Dunia ini penuh peristiwa dan manusia paling bisa berpola pikir dan bertindak bipolar. Di satu pihak kadang merindukan perdamaian, tapi di lain pihak juga suka perang. Manusia menyukai stabilitas dan pertumbuhan, tapi adakalanya menyukai disabilitas dan turbulensi. Suasana semacam itu seperti permaian, sehingga seperti peristiwa krisis ekonomi oleh sebagian orang dikatakan seperti sudah ada yang mengatur.

Mereka dikatakan sebagai para economic hit man ( bandit ekonomi) yang bisa meruntuhkan perekonomian sebuah negara. Bisa membuat sentimen positif dan juga bisa membuat sentimen negatif baik terhadap kebijakan maupun pasar. Dikatakan juga bahwa mereka bisa mendalangi krisis ekonomi di banyak negara,  mengeringkan keuangan nasional serta membantai sektor produksi dan distribusi nasional. Kita boleh percaya boleh tidak dengan pendapat tersebut.

KESEMBILAN, secara technical krisis sudah terjadi dan kita bisa melihat sendiri  data dan faktanya, baik melalui media statistik maupun kondisi di lapangan. Secara technical juga, krisis seharusnya bisa diatasi karena ibaratnya mesin-mesin ekonomi sedang mengalami gangguan. Instrumennya juga tersedia dengan cukup, baik berupa instrumen moneter, fiskal maupun  instrumen hukum dan administrasi.

Kalau covid-19 harus diatasi dengan vaksin dan obat karena tidak bisa diatasi dengan segala keputusan apapun bentuknya, kecuali harus disiplin menjalankan protokol kesehatan yang berlaku universal untuk cegah tangkal.

Kita sepakat bahwa permintaan dan penawaran agregat barang dan jasa kini mengalami dilema dan trade off. Tapi sebenarnya permintaan dan penawaran modal dan uang tidak mengalami gangguan, buktinya pasar finansial dan pasar modal tetap ramai, bahkan permintaannya malah meningkat  karena dunia butuh likuiditas besar untuk mengatasi krisis akibat dijalankannya defisit spending.

Jadi sekarang ini yang mengalami resesi adalah sektor produksi dan distribusi, bukan sektor keuangan dan perbankan seperti tahun 1997/1998.

Kesimpulannya adalah, dalam rangka menjalankan fatwanya Keynes , maka kebijakan pemerintah yang paling prioritas adalah : 1) Mengefektifkan penanganan covid-19 yang dianggap menjadi pemicu terganggunya permintaan dan penawaran barang dan jasa global. 2) Penyelamatan sektor produksi dan distribusi barang dan jasa. 3). Penyediaan likuiditas nasional dan anggaran subsidi untuk pemulihan kesehatan bagi masyarakat tidak mampu dengan menggratiskan biaya vaksinasi dan obat covid-19.

4). Pengamanan pasar dalam negeri, baik pasar finansial, pasar modal (agar tidak menjadi ajang sepikulasi dan manipulasi uang), maupun pasar barang dan jasa ( mencegah impor yang tidak wajar), dan pasar tenaga kerja( agar tidak dibanjiri tenaga kerja asing).

KESEPULUH, penanganan covid-19 yang paripurna dan bebas dari politisasi corona dan dengan pertolongan Allah, badai virus akan berlalu. Akan segera terbit dari ufuk timur pemulihan ekonomi. Harapannya adalah dengan belanja pemerintah yang besar kedua krisis tersebut akan membuat suasana baru  yakni keluar dari lorong kegelapan yang damai dan bebas dari segala kegaduhan. Yang menarik adalah bahwa ternyata perseteruan pemikiran Adam Smith dan John Maynard Keynes tetap hidup. Salam Sehat. (penulis aalah pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta).

Berita Terkait

Komentar

Komentar