Keluar Masuk Valas Maunya Siapa ?

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, untuk apa kita repot dengan fenomena keluar masuknya valas, toh kita juga sering bicara tentang konsep cash flow yang juga bicara tentang cash in dan cash out.

Tidak ada bedanya ketika kita membahas tentang konsep pendapatan dan pengeluaran. Dengan demikian berarti bahwa hal yang kita bicarakan itu sejatinya adalah soal transaksi keuangan yang mata dagangannya adalah valas. Rupiah statusnya masih sebagai mata uang lokal, meskipun Indonesia sudah nongkrong di G-20.

KEDUA, sebagai mata dagangan, maka setiap valas mempunyai nilai tukar sebagai standar harga. Pasar yang menyelenggarakan transaksi finansialnya. Pergerakannya sangat fluktuatif karena berisi aliran dana/modal dari kegiatan investasi portofolio. Valas yang ditransaksikan tersebut biasa disebut hot money (uang panas).

Sebagai uang panas, maka logikanya tidak bisa dipegang terlalu lama. Karena itu, exit-nya tidak bisa dihambat. Pun masuknya juga tidak bisa dilarang. Pergerakannya dijamin oleh rezim devisa bebas yang diatur dalam UU tentang Lalu Lintas Devisa.

KETIGA, jika kita kemudian mengenal tentang konsep Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) , maka NPI adalah indikator yang mengukur arus devisa (umumnya berbentuk valas, USD dsb) yang masuk dan yang keluar dari Indonesia. Jika NPI-nya negatif berarti banyak valas yang mengalir keluar.

Saat NPI positif, berarti cadangan devisa bertambah. Bagi BI posisi ini amat penting karena dapat memberi rasa aman untuk menstabilkan rupiah. Jika sebaliknya, maka nilai tukar rupiah terhadap USD akan melemah.

Ada kondisi yang membentuk profil dalam transaksi internasional yaitu ketika rupiah terhadap dolar AS lemah, maka produk ekspor Indonesia akan jauh relatif lebih murah, namun produk impor menjadi lebih mahal. Sebaliknya, di kala rupiah menguat, impor menjadi lebih murah, namun produk ekspor menjadi lebih mahal. Ada 3 komponen NPI, yaitu : 1) neraca transaksi berjalan. 2) neraca transaksi modal. 3) neraca transaksi finansial.

KEEMPAT, dari berbagai situasi tersebut, maka pada akhirnya Indonesia sangat membutuhkan posisi NPI yang bisa membuat Bank Sentral merasa aman dan nyaman mengelola kebijakan moneter. Sebenarnya kita belum cukup sreg jika hanya mengkolek neraca dagang saja. Lebih dari itu, yang perlu dijelaskan kepada publik agar makin sreg melihat profil pendapatan negara adalah jika kita mendapat penjelasan rinci tentang profil transaksi berjalan.

Mengapa demikian? Jawaban obyektifnya adalah karena transaksi berjalan lebih menggambarkan arus keluar masuk devisa yang datang dari 3 sumber utama, yakni : 1) nilai ekspor – impor barang dan jasa. 2) pos pendapatan primer, yang meliputi transaksi penerimaan dan pembayaran yang umumnya berupa kompensasi tenaga kerja, dan arus devisa dari hasil investasi ( FDI maupun investasi portofolio.utang luar negeri pemerintah maupun swasta dsb ). 3). pos pendapatan sekunder, meliputi transaksi berjalan yang dilakukan oleh pemerintah, dan transfer dari tenaga kerja (remitasi).

KELIMA, akhirnya jika profil neraca dagang, neraca transaksi berjalan, dan NPI secara periodik dapat dirilis bersamaan dengan saat BPS merilis data kinerja ekonomi, maka publik secara obyektif akan tahu kondisi perekonomian nasional secara fondamental.

Mestinya tidak ada yang perlu ditutupi, ketika pemerintah bersama BI menjelaskan kinerja perekonomian secara periodik ( triwulanan, semesteran maupun tahunan). Tanpa diberi tahu pun sebenarnya ketika pemerintah dan BI meminta agar DHE ditempatkan di dalam negeri sebagian masyarakat sudah tahu alasannya.

Paling tidak dikandung maksud untuk mencapai 2 tujuan, yakni 1) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah . 2) mengamankan posisi NPI yang komposisinya terdiri dari dari catatan tentang transaksi berjalan, transaksi modal, dan transaksi finansial.

Fondamental ekonomi secara obyektif dan menyeluruh dapat dibaca pada NPI. Terkait dengan jawaban atas pertanyaan keluar masuknya valas maunya siapa, maka hanya ada satu jawaban, yaitu maunya pasar. BI akan menjaga keseimbangan pasar  dengan melakukan intervensi pasar dengan cara melepas USD atau valas lain bila nilainya besar. Yang paling bikin pusing tujuh keliling bagi BI adalah jika NPI-nya mengalami defisit berkelanjutan

Sebagai catatan, dapat disampaikan bahwa ketika ekonomi AS mengalami penurunan daya saingnya dapat dilihat dari data neraca perdagangan, neraca pembayaran, dan APBN-nya yang secara berkelanjutan mengalami defisit. Penurunan daya saing AS kalah dengan China. Dalam posisi ini, China kemudian mampu menjadi pemasok, kreditor, sekaligus sebagai investor dan banker untuk konsumen dah pemerintah AS. (penulis adalah pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta).

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.