Kelurahan Bambu Apus Membuat Lubang Biopori

Laporan: Redaksi

Nonder Manalu

Kepala seksi prasarana dan sarana umum Kelurahan Bambu Apus Nonder Manalu. (tubas/audy)

JAKARTA, (Tubas) – Pembangunan perkotaan selama ini cenderung meminimalkan ruang terbuka hijau serta menghilangkan wajah alami. Kenyataan itu terlihat di Kota Jakarta dan hal itu akan menurunkan kualitas lingkungan hidup yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara dan penurunan air tanah.

Menurut seksi prasarana dan sarana umum Kelurahan Bambu Apus, Nonder Manalu, berdasarkan motto Kotamadya Jakarta Timur berbunyi Nyok, kite bareng-bareng membangun dan kite jage Kota Jakarta Timur dan sesuai dengan program “Jakarta Hijau” dari Pemprov DKI Jakarta, “Kelurahan Bambu Apus Kecamatan Cipayung telah menerapkan pembuatan lubang biopori sebanyak 2.981 titik, 88 sumur untuk resapan air dan sudah menanam 5.163 tanaman sampai ke Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) untuk penghijauan”. Hal itu disampaikan Nonder Manalu kepada tubasmedia.com di ruang kerjanya baru-baru ini.

Ia menambahkan, apabila Kota Jakarta dibangun dan dikembangkan tanpa memerhatikan kaidah berkelanjutan dan berwawasan lingkungan maka Kota Jakarta akan menghadapi berbagai persoalan lingkungan hidup yang akhirnya merugikan warga masyarakat penghuni kota.

Pada saat ini Kota Jakarta telah menghadapi krisis air dan masalah banjir, pencemaran udara, air dan tanah. Selain itu, pembangunan perkotaan juga perlu dilandasi etika lingkungan. Kalau tidak dilandasi dengan etika lingkungan, maka pembangunan perkotaan akan cenderung merusak lingkungan, menimbulkan pencemaran serta dampak sosial lainnya. (gunawan)

Berita Terkait

Komentar

Komentar