Kemenperin Dorong SCG Kembangkan Produk Turunan Industri Kimia dan Karet

TERIMA KUNJUNGAN - Menteri Perindustrian Saleh Husin menerima kunjungan President & CEO SCG Mr. Roongrote Rangsiyopash di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 4 Maret 2016.(istimewa/tubasmedia.com)

TERIMA KUNJUNGAN – Menteri Perindustrian Saleh Husin menerima kunjungan President & CEO SCG Mr. Roongrote Rangsiyopash di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 4 Maret 2016.(istimewa/tubasmedia.com)

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian mendorong SCG mengembangkan produk turunan untuk industri kimia dan karet di Indonesia. Hal ini mengingat kinerja unit bisnis kimia SCG tengah agresif serta Thailand sebagai negara asal SCG merupakan produsen karet terbesar di dunia.

“Maksud kunjungan perwakilan dari SCG ini, selain meperkenalan Roongrote Rangsiyopash sebagai Presiden dan CEO SCG yang baru, mereka juga ingin mempelajari potensi pasar untuk mencari peluang investasi baru di Indonesia,” ujar Menteri Perindustrian Saleh Husin usai pertemuan dengan President & CEO SCG Roongrote Rangsiyopash di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (4/3).

Menperin menjelaskan, pihaknya terus membuka peluang kepada para investor industri yang akan mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif, termasuk melalui berbagai paket kebijakan ekonomi dan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) untuk izin investasi yang hanya memakan waktu tiga jam.

Untuk SCG, Menperin mengharapkan investasi baru yang dikembangkan SCG berupa industri turunan sehingga mendorong proses hilirisasi di Indonesia. “Jadi, kami minta produk derivatif mereka juga dapat dikembangkan di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor,” ujarnya.

Sementara itu, Roongrote menyampaikan, SCG telah memiliki tiga bisnis utama. Pertama, SCG Cement-Building Material yang memproduksi semen, beton, mortar, ubin keramik, atap keramik, dan papan semen. Kedua, SCG Chemicals yang memproduksi olefin, vinyl chloride monomer, polyethylene, polypropylene, poly vinyl chloride, dan polystyrene.

Dan, ketiga, SCG Packaging yang memproduksi kemasan kertas dan kemasan makanan. “Hingga saat ini SCG memiliki lebih dari 200 perusahaan dengan jumlah karyawan sebanyak 52.500 orang di seluruh dunia,” ungkapnya.

Roongrote juga menambahkan, kinerja perusahaan tahun 2015 menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 35% y-o-y, berkat hasil kinerja unit bisnis kimia. “Dengan prospek perekonomian ASEAN yang lebih baik khususnya Indonesia, kami terus mempersiapkan investasi lanjutan yang strategis,” ujarnya.

Di Indonesia, sejak tahun 2011-2012, SCG melakukan investasi secara intensif pada beberapa bidang usaha. Yang meliputi 24 perusahaan dengan jumlah karyawan sebanyak 7.100 orang. Sedangkan, nilai asset SCG di Indonesia mencapai Rp. 17.167 triliun atau mendekati 50% dari total asset SCG di wilayah ASEAN.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Industri Kimia, Tektil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Harjanto menilai hilirisasi industri karet nasional terus dikembangkan untuk meningkatkan serapan hasil produksi karet petani. Saat ini, konsumsi karet alam domestik oleh industri sekitar 18 persen dari toal produksi.

“Karet alam hasil produksi petani sebenarnya dapat diolah industri menjadi beragam produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi. Thailand merupakan produsen karet terbesar dunia, kami berharap SCG dapat mengembangkan industri pengolahan tersebut di Indonesia,” tuturnya. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar