Kemenperin Kembangkan Industri Subsitusi Impor, Tekan CAD

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Untuk menyehatkan perekonomian Indonesia, Presiden Jokowi menginstruksikan kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan kementerian lainnya untuk berupaya menekan defisit neraca perdagangan dan current account deficit (CAD) atau defisit neraca pembayaran. Presiden menargetkan Indonesia bisa mengurangi secara signifikan angka CAD dalam empat tahun mendatang.

Instruksi Presiden Jokowi tersebut menjadi concern semua pihak terkait termasuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi  & Elektronika (llmate), Kemenperin untuk memperbaiki kinerjanya, dengan menggenjot investasi dan ekspor serta mengembangkan industri substitusi impor.

“Untuk menekan impor, kami mencoba meningkatkan implementasi peraturan  mengenai TKDN, disamping menerapkan standarisasi untuk produk-produk tertentu, seperti SNI baja dan SNI ban serta menerapkan IMEI untuk mengatasi masuknya ponsel ilegal. Disamping memberikan insentif kepada industri untuk melakukan kegiatan penelitian,”ujar Andi Rizaldi, Sekretaris Ditjen Ilmate dalam percakapan dengan pers di ruang kerjanya kemarin.

Andi Rizaldi menyinggung berbagai isu yang terkait dengan kinerja dan tantangan yang dihadapi industri Ilmate ke depan.  Diakui, jika melihat perkembangan dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan industri Ilmate masih belum mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan industri Ilmate tahun 2018 hanya tumbuh 4,59%  atau di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai lebih dari 5%. Meski demikian, kinerja industri Ilmate tersebut masih lebih baik dibandingkan pertumbuhan industri pengolahan secara keseluruhan yang mencapai 4,07%.

Kondisi tersebut tidak lepas dari berbagai variabel yang sangat mempengaruhi petumbuhan industri Ilmate, seperti perkembangan ekspor, impor, investasi, konsumsi baik konsumsi pemerintah maupun rumah tangga.

“Untuk meningkatkan konsumsi pemerintah, kami menggenjotnya lewat program TKDN dan E-Katalog. Yang sulit dilakukan adalah mendorong konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga berkaitan erat dengan daya beli masyarakat dan penjualan produk industri mobil, kulkas, mesin cuci, AC dan sebagainya,” tambah Andi Rizaldi.

Multiplier Effect

Data BPS mencatat, ekspor produk industri Ilmate pada semester triwulan II tahun 2019 mencapai US$ 9,92 juta, sementara impor pada periode yang sama mencapai 18,6 juta dollar AS sehingga defisit neraca perdagangan sekitar 8,68 juta dollar AS. Hal itu berarti nilai impor produk Ilmate hampir dua kali lipat dibandingkan angka ekspornya.

Andi Rizaldi mengatakan untuk melihat kinerja industri Ilmate jangan hanya dari neraca ekspor impor tapi harus komprehensif. Sebab, industri Ilmate juga mampu menciptakan  multiplier effect, memberi kontribusi pertumbuhan bagi industri lain.

Dikatakan, sebagian besar impor industri Ilmate adalah barang modal, seperti logam yang dimanfaatkan untuk industri otomotif, industri perkapalan dan konstruksi. “Demikian pula dengan mesin, angka impornya masih lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor,”tambah Andi.

Contoh, industri makanan adalah salah satu penyumbang pertumbuhan tersebar bagi industri pengolahan. Tapi, harus diingat bahwa industri makanan pun mengimpor mesin.

“Nah, nilai impor mesin itu semuanya masuk ke neraca ekspor impor Ilmate. Dengan tanda kutip Ilmate harus mengalah demi pertumbuhan sektor lain,” ujarnya.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan industri lain, seperti industri barang galian bukan logam (semen) sebesar 14,5% pada triwulan III tahun 2019; selanjutnya otomotif 10,4%; industri makanan 9,9% .

“Neraca perdagangan ekspor impor, sektor Ilmate memang masih minus, tapi jangan lupa sektor Ilmate juga menyumbang untuk pertumbuhan sektor lain,”tegas Andi.

Industri Ilmate juga membuat terobosan. Salah satu subsektor industri yang berhasil menekan impor adalah industri elektronika. Pada triwulan II tahun 2019, industri elektronika berhasil menekan impornya menjadi US$ 7 juta dari sebelumnya US$ 11 juta.

Genjot Investasi

Di sisi ekspor impor, industri Ilmate memang masih mengalami defisit. Makanya, sebagai kompensasi, untuk menjaga agar tingkat pertumbuhannya tetap sehat, industri Ilmate terus berupaya menggenjot investasi.

Hal ini tercermin dari nilai investasi pada triwulan II 2019, meliputi investasi industri logam Rp 13,4 triliun; investasi industri otomotif Rp 4,71 triliun dan investasi industri elektronik Rp 2,08 triliun. Sehingga kalau ditotal nilai investasi industri Ilmate pada triwulan I dan triwulan II tahun 2019 mencapai Rp 35,8 triliun.

“Saat ini, kita masih menunggu data investasi dari BKPM dan BPS untuk data bulan Juli-September 2019,”tambah Andi.

Menurut Andi, aspek lain yang penting dicermati dari industri Ilmate bagi perekonomian nasional, antara lain adanya penambahan industri baru. Tercatat pada triwulan II (Januari-Juni) 2019 ada penambahan sekitar 180 industri baru.

Data tahun 2018 menunjukkan, sektor industri Ilmate juga tumbuh dengan bertambahnya 400 industri baru, dengan rencana penyerapan tenaga kerja  sekitar 2 juta orang, meliputi industri logam 600 ribu orang; otomotif 275 ribu orang dan elektronik 200 ribu orang.

Lebih Besar

Presiden Jokowi juga memerintahkan Kemenperin bersama kementerian lainnya untuk mengejar investasi dari negara-negara industri maju seperti Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, termasuk juga Uni Emirat Arab.

Kemenperin menawarkan peluang investasi industri baja; industri otomotif dan industri kimia kepada Jepang dan Korea. Saat ini, industri Ilmate sudah mengantongi komitmen investasi dari Jepang senilai Rp 40 triliun dan Korea Selatan Rp 90 triliun.

Tahun 2020, investasi Ilmate diharapkan akan lebih banyak lagi, meliputi industri otomotif Rp 82 triliun; industri baja Rp 126,9 triliun; industri smelter Rp 451,32 triliun; industri smelter Rp 451,32 triliun; industri permesinan & alat mesin pertanian Rp 1,1 triliun dan industri elektronika dan telematika Rp 3,811 triliun.

“Dengan adanya komitmen investasi dari Jepang dan Korea Selatan dan negara-negara lainnya, kita harapkan target pertumbuhan industri Ilmate sebesar 4,7% dan industri pengolahan secara keseluruhan 4,8% tahun 2020 akan tercapai. Salah satu rencana investasi Ilmate yang segera direalisasikan adalah Hyundai Motor Company dengan total investasi Rp 21,11 triliun. Tentu, realisasinya dilaksanakan bertahap,”demikian Andi Rizaldi. (hes)

Berita Terkait

Komentar

Komentar