Kemenperin Kembangkan Teknologi Berbasis Revolusi Industri 4.0

SEMARANG, (tubasmedia.com) – Peningkatan kemampuan dan daya saing industri dalam negeri merupakan salah satu kunci menuju pemulihan ekonomi di era pandemi saat ini. Namun dalam penerapannya, pembangunan industri memiliki konsekuensi terhadap lingkungan, untuk itu perlu adanya penguasaan teknologi dan terobosan manajemen penanggulangan pencemaran industri.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dimana  Kementerian Perindustrian terus mendorong para pelaku industri manufaktur di dalam negeri untuk dapat mendukung kelestarian lingkungan hidup melalui standar industri hijau. Hal ini juga sejalan dengan program prioritas yang terdapat di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Searah dengan kebijakan tersebut, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Doddy Rahadi, mengamanatkan agar seluruh Satuan Kerja dibawah BSKJI harus aktif mengembangkan inovasi teknologi dalam penyelesaian permasalahan-permasalahan industri serta dalam hal peningkatan daya saing.

Untuk menjawab tantangan tersebut, BSKJI melalui satuan unit kerjanya Balai Besar Teknologi Pencegahan Pecemaran Industri (BBTPPI) Semarang menciptakan inovasi terkait dengan pemantauan lingkungan secara real time berbasis teknologi revolusi industri 4.0 yang terintegrasi dalam sistem informasi digital. Menanggapi hal tersebut, Kepala BSKJI menyampaikan peran Kemenperin dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi industri khususnya terkait lingkungan, dimana salah satunya adalah air limbah.

“Dalam rangka mendukung rekayasa di bidang revolusi industri 4.0 dan standard industri hijau, kami telah melakukan sejumlah inovasi terkait dengan sistem pemantauan limbah air industri yang dapat dimonitor secara real time dengan memanfaatkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan terintegrasi dengan Sistem Informasi Digital 4.0 (SINDII 4.0) yang telah dikembangkan oleh BBTPPI sebagai sistem informasi berorientasi kepada pelayanan industri,” jelas Doddy.

Sistem monitoring air limbah ini terdiri dari perangkat analisis digital untuk parameter pH, suhu, TSS, COD, NH3-N, dan debit. Analisis tiap perangkat deteksi digital ini dikembangkan secara komprehensif untuk dapat ditransmisikan melalui internet gateway yang dikembangkan oleh BBTPPI dan mempunyai jaminan enkripsi data sehingga dapat diintegrasikan ke dalam SINDII 4.0 yang mempunyai fungsi sebagai evaluasi data pengukuran secara aman dan tersimpan dalam database server. Data pengukuran dapat dipantau baik secara real time, sehingga fleksibel dapat dilihat kapan dan dimanapun melalui perangkat yang terkoneksi ke jaringan, baik gawai digital berbasis smartphone maupun komputer. Database yang tersimpan secara Big Data memungkinkan evaluasi data secara periodik bagi industri. Untuk itu, Kepala BSKJI menambahkan terkait keunggulan alat tersebut.

Menganggapi hal tersebut, Kepala BBTPPI, Ali Murtopo Simbolon, menyampaikan terkait tahapan dari pemasangan sistem pemantauan air limbah tersebut.

“Saat ini perangkat deteksi, internet gateway, dan konstruksi peralatan sudah terpasang dan terhubung dengan dashboard SINDII 4.0, sehingga sudah bisa dimonitor data dari tiap parameternya. Tahap selanjutnya adalah kalibrasi sensor serta melihat uji performa alat dan konektivitasnya. Melalui rangkaian alat ini kami berharap menjadi solusi alternatif dalam pilihan sistem pemantauan kualitas air limbah secara terus menerus,” jelas Ali.

Kepala BBTPPI menambahkan terkait kesiapannya dalam mendukung pengembangan sistem monitoring air limbah tersebut.

“Kedepannya kami akan mengembangkan sistem monitoring air limbah dengan menerapkan teknologi artificial intelligence, untuk implementasi reuse air dari IPAL dan juga jika terjadi permasalahan, maka sistem monitoring air limbah tersebut dapat langsung memberikan alternatif solusinya,” pungkas Ali.(sabar)

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar