Kemenperin Terapkan Inovasi Teknologi Mencegah Pencemaran Udara

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Selain berdampak positif terhadap perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja, ternyata sektor industri berdampak negatif terhadap lingkungan. Karenanya, perlu penguasaan teknologi dan manajemen penanggulangan pencemaran industri.

Langkah ini juga sejalan dengan arahan Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, dimana industri harus mengimplementasikan standard sustainability yang dapat dicapai dengan penerapan industri hijau.

Industri hijau dimaksud harus mengedepankan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Guna menjawab tantangan tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Doddy Rahadi, kepada wartawan, Selasa (17/11) mengatakan seluruh Satuan Kerja (Satker) di bawah BPPI harus aktif mengembangkan inovasi teknologi dalam penyelesaian problem di industri untuk meningkatkan daya saing.

Doddy memberi contoh masalah lingkungan seperti pencemaran udara yang dihadapi  PT Sidoagung Farm (SAF) yang berlokasi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

PT SAF adalah perusahaan yang bergerak dibidang pakan ternak dan merupakan salah satu PMDN di tengah banyaknya PMA dibidang industri pakan ternak.

Peran Strategis

Sementara itu, Direktur PT SAF, Asrokh Nawawi menjelaskan bahwa PT SAF yang memiliki kapasitas produksi 300.000 ton per tahun, mampu mensuplai pakan bagi ayam Broiler sejumlah 2,5 juta ekor per bulan dan akan menghasilkan 4.250 ton daging perbulan.

‘’Kami juga mensuplai kebutuhan pakan untuk 7 juta ayam petelur per bulan, dimana menghasilkan 11,156 ton telur per bulan. Oleh karena itu, PT SAF memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan terutama di masa pandemi COVID-19 dan resesi ekonomi saat ini,” jelas Asrokh.

Terkait permasalahan yang dihadapi PT SAF, Asrokh menjelaskan bahwa saat ini perusahaan yang dipimpinnya sedang dalam tahap commisioning, yaitu ada protes dari lingkungan masyarakat sekitar yang mengeluhkan pencemaran udara dan debu.

‘’Pada awalnya kami mencoba mengatasi sendiri, tetapi belum berhasil. Kemudian kami berkonsultansi ke BBTPPI Semarang, selanjutnya ditindaklanjuti dengan survei, dianalisa, serta dibuatkan desain dan peralatannya,” papar Asrokh.

Sebelumnya PT SAF menggunakan wet scrubber tetapi mengalami masalah dan tidak efektif. Akhirnya setelah berkonsultansi dengan BBTPPI berhasil dengan menggunakan inovasi teknologi dry filter. SAF memiliki dua cerobong setinggi 68 meter, dimana dry filter tersebut berfungsi untuk menyaring udara dan uap yang keluar dari mesin press pakan ternak.

Parameter dominan yang keluar sehingga menimbulkan kebauan antara lain H2S (Hidrogen Sulfida), NH3 (Amoniak), kadar air dan partikulat. Parameter tersebut jika terpapar oleh manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan terutama gangguan ISPA. Emisi kebauan ini tidak dapat dihindarkan, tetapi bisa dikendalikan dengan alat pengendali emisi.

Asrokh menambahkan, bahwa perusahaannya sempat berhenti beroperasi karena ada surat pemberhentian sementara dari Bupati Magelang.

“Saat ini PT SAF telah beroperasi kembali karena sudah memenuhi semua hal-hal yang mungkin menjadi hambatan kami sebelumnya. Untuk itu kami sampaikan terima kasih kepada BBTPPI atas bantuan dan dukungannya,” tambahnya.

“Dry Filter”

Menanggapi permasalahan yang dialami PT. SAF, Kepala BBTPPI Semarang, Ali Murtopo Simbolon, menyampaikan upaya BBTPPI dalam menyelesaikan permasalahan industri.

“BBTPPI menciptakan mesin dry filter dan mendesain cerobong asap milik PT SAF yang semula hanya setinggi 32 meter menjadi 68 meter yang bertujuan untuk mengurai bau di udara,” ujar Ali.

Banyak jenis alat pengendali emisi kebauan yang bisa diterapkan pada industri, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi industri masing-masing. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan pemilihan alat antara lain jenis emisi, jenis parameter, letak penempatan dan biaya.

Dengan pertimbangan tersebut, adsorber dengan media karbon aktif sangat tepat untuk mengurangi dampak kebauan yang teremisikan dari unit proses produksi.

Adsorber ini dibuat dengan tiga tingkat dengan pembatas perforated tray yang di dalamnya berisi karbon aktif yang dihamparkan. Tujuan dibuat tiga tingkat agar gas emisi kebauan dapat ter-adsorp sempurna, sehingga begitu keluar cerobong sudah tidak berbau lagi,” jelas Ali.

Ali menyampaikan kesiapan BBTPPI dalam mendukung terciptanya inovasi teknologi pencegahan pencemaran industri, “Teknologi Balai Kemenperin menyelesaikan permasalahan pencemaran industri pakan ternak untuk mendukung daya tahan pangan,” pungkasnya. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar