Kementerian Perindustrian, Kenapa Egois…

Oleh: Sabar Hutasoit

 

TAHUN 2022 ini, semua pihak sangat berharap menjadi tahun pemulihan ekonomi nasional dan menjadi tahun di mana Indonesia diharapkan bisa lolos melewati era pandemic, masuk ke era endemi. Jangan sampai Indonesia kehilangan momentum tersebut. Pasalnya, menurut orang bijak, kesempatan hanya datang satu kali.

Tahun 2022 juga menjadi tahun akselerasi kebangkitan industri agar bisa berekspansi dengan lebih cepat. Artinya, semua pihak di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), tanpa kecuali, harus bisa membangun persepsi publik bahwa sektor industri manufaktur adalah andalan untuk pemulihan ekonomi nasional. Dan hal ini menjadi salah satu kata kunci yang harus dikomunikasikan kepada masyarakat. Melalui apa ? tentunya melalui media massa. Emang ada sarana lain untuk sosialisasi?

Selain itu tahun 2022, Indonesia dipercayai menjadi Ketua G20. Seiring dengan itu, Presiden kita, Jokowi sangat berambisi agar Indonesia dapat menjadi pemimpin yang efektif.

Untuk itu, Indonesia harus bisa memamerkan keberhasilannya dalam pemulihan ekonomi, dalam hal ini sektor industri dan dibarengi dengan pengendalian pandemic.

Kontribusi Kemenperin dalam konteks ini-pun harus lebih nyata, terutama dalam membangun persepsi publik. Agar masyarakat bisa memahami bahwa peran Indonesia dalam G20 positif untuk peningkatan ekonomi rakyat terutama bidang usaha industri kecil dan menengah (IKM)).

Namun entah kenapa, Kemenperin belakangan ini dipersepsikan sebagai kementerian yang egois, cenderung pasif terutama dalam menangani berbagai tantangan ekonomi bangsa.

Tak Bergeming

Contoh yang sangat sederhana saja, kontribusi Kemenperin dipertanyakan publik dalam upaya mengendalikan lonjakan harga minyak goreng di dalam negeri yang terjadi baru-baru ini. Kemenperin sebagai pembina industri seolah tak bergeming, malah Kementerian Perdagangan yang lebih banyak bereaksi.

Padahal Presiden Jokowi sudah berteriak bahwa harus diupayakan agar harga minyak goreng  terjangkau rakyat dan pasokannya aman. Namun tampaknya Kemenperin kurang peka terhadap sinyal yang diberikan Presiden.

Bahkan Kemenperin terlihat kurang menunjukkan keberpihakan terhadap rakyat. Kemenperin seolah sibuk dengan dirinya sendiri tanpa mempedulikan keluhan masyarakat. Tidak piawai membaca pesan Presiden Jokowi. Sibuk berbangga diri.

Banyak contoh lain yang intinya Kemenperin dipersepsikan tak aktif dan tidak dikenal. Termasuk pejabat-pejabatnya. Masyarakat tidak akrab dengan apa yang dikerjakan dan dihasilkan, terutama terkait untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Solusinya harus dibangun komunikasi publik yang baik. Lagi-lagi pertanyaannya melalui apa ? ya, melalui media massa.

Pejabat-pejabat  Kemenperin tampaknya harus bekerja sama yang positif dengan media dan Kemenperin kerja bareng dalam mendukung upaya pemulihan ekonomi.

Semoga tahun 2022 ini, bisa menjadi tahun harapan untuk kita semua. Tahun kolaborasi semua pemangku kepentingan di Kementerian Perindustrian. Kita songsong pemulihan ekonomi di sector industri untuk mengembalikan kesejahteraan rakyat dan lapangan kerja yang sempat hilang karena pandemic.

Semoga Indonesia Jaya, kita semua bisa lolos dari cengkraman pandemic Covid-19. Dengan bahu membahu, bekerja sama. Salam sehat. (penulis, seorang wartawan tinggal di Jakarta)

Berita Terkait