Kenapa Nurdin Ngotot

Ilustrasi

Judul tulisan ini merupakan pertanyaan besar yang menyeruak di kalangan masyarakat. Kenapa Nurdin Halid ngotot untuk tetap bercokol di kursi nomor satu Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Apa yang dipertahankan dan apa kepentingannya.

Prestasi? Tidak menggembirakan. Sejak dia memimpin PSSI, sudah dua periode sejak 2003 hingga sekarang tidak ada prestasi yang patut dibanggakan. Lalu apa yang membuat dirinya tetap ngotot? Bukankah PSSI itu lembaga untuk melahirkan prestasi di bidang olahraga sebagai kebanggaan nasional?

Kalau jawabannya ya, kenapa dong masih tetap mempertahankan Nurdin Halid. Atau barangkali ada kepentingan lain. Uang misalnya. Artinya PSSI dijadikan ajang mengais rejeki yang nilainya cukup besar. Atau jangan-jangan benar juga tuduhan masyarakat bahwa PSSI merupakan sarang korupsi sehingga kursi ketua PSSI menjadi penting untuk dipertahankan.

Satu lagi yang perlu dicatat dari perjalanan PSSI dari sejak lahir hingga sekarang, yang terkenal bukanlah pemain PSSI, akan tetapi pengurusnya. Pengurus PSSI lebih sering menjadi buah bibir atau bahan berita ketimbang pemain bolanya.

Pengurus PSSI hampir-hampir tidak pernah mempersoalkan nasib pemainnya di lapangan hijau dan tidak pernah memikirkan perbaikan mutu permainan. Lihat tuh buktinya. Tim nasional Indonesia menelan kekalahan 1-3 dari Turkmenistan di leg pertama Pra-Olimpiade yang bertanding di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Rabu (23/2/2011).

Apakah Indonesia tidak malu, sementara pengurus PSSI ribut mempertahankan jabatannya, anak-anak asuhnya dicukur gundul oleh lawannya di lapangan hijau. Apa ini tidak memalukan. Nurdin Halid bersama kroninya seolah tidak mau tahu tentang nasib anak-anak asuhnya yang sedang memperjuangkan nama harum Indonesia di dunia internasional.

Bagi Nurdin Halid bersama kroninya, terkesan tidak penting prestasi pemain di lapangan hijau, yang penting mereka tetap menguasai PSSI, entah apa yang membuat mereka senang bercokol. Tapi yang aneh lagi, kenapa Pengda-Pengda di daerah masih mau berpihak kepada Nurdin Halid. Apa yang membuat mereka seolah terbius. Apakah para pengurus Pengda “kebagian” rejeki dari Nurdin Halid.

Semua pihak yang peduli dengan nama harum Indonesia di dunia persepakbolaan, seharusnya satu kata menyerahkan PSSI dipimpin figur yang mengerti sepakbola dan tidak pernah terlibat dengan kasus pidana. Sebaiknya PSSI dipimpin figur yang tahu bola. Pemimpin PSSI tidak perlu diimpor dari dunia politik misalnya atau dari kalangan eksekutif. Serahkan saja kepada mantan-mantan pemain sepakbola. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar