Keripik Ciamis Tembus Amerika dan Jerman

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

CIAMIS, (Tubas) – Bermula dari iseng-iseng ketika pada 1997 Uju Sarju (60), memulai usahanya membuat keripik singkong. Setelah ada pembelinya, Uju tidak hanya membuat keripik singkong saja, dikembangkan ke keripik talas dan pisang. Usaha itu dilakukan di rumahnya di Cisaga, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Kini, produksi keripik Uju tidak lagi dikirim ke pasar dan ke warung-warung. Produksinya telah dibawa ke luar negeri sebagai oleh-oleh. Di rumah dan pabriknya di belakang rumah Uju mempekerjakan delapan orang karyawan dengan sebuah mesin potong keripik dan tiga penggorengan besar.

Keripik singkong, talas dan pisang buatan Uju kuat tahan lama tanpa bahan pengawet, dibuat dengan bumbu rempah-rempah lokal. Dengan begitu Uju tidak bingung. Dia telah mengemas kripiknya dalam kantong plastik yang higienies, yang tahan lama. Keripik kemasan plastik tebal? Ya, inilah kemasan inovasi yang diterapkan Uju untuk memenuhi pasar. Selain tahan lama, kemasan plastik lebih cocok bagi konsumen yang kian terbiasa dengan gaya hidup praktis dan instan.

Bahan baku singkong, talas dan pisang tersedia di dae­rahnya. Dengan bahan baku pilihan, sehari menghabiskan singkong, talas, dan pisang sebanyak dua kwintal, dengan minyak kelapa klentik yang buatan rumah. Un­tuk bahan bakar penggoreng­an tidak menggunakan kayu bakar, melainkan pakai serbuk gergaji dari potongan kayu. Pengapian itu sa­ngat bagus untuk menghasilkan kematangan keripik yang pas dan renyah.
Harga serbuk gergaji dari po­tongan kayu per karung Rp 2.500. Modal produksi per hari Rp 700 ribu dengan meraup keuntungan 40%. Modal awal Uju mengeluarkan Rp 5 juta, termasuk mencakup peralatan dan bahan-bahan kebutuhan produksi.

Harga jual keripik singkong dan talas Rp 15 ribu/kg, keripik pisang Rp 20 ribu/kg, tersedia juga keripik balado pe­das manis dan asin harga Rp 20 ribu. Pelanggan tidak hanya lokal Banjar dan Ciamis, tapi juga ke luar daerah sebagai oleh-oleh. Bahkan sampai ke kota-kota besar seperti Ban­dung, Jakarta, Yogyakarta, Ba­li, Sumatera, Kalimantan bahkan ke Papua juga ke luar negeri, tembus ke Amerika dan Jerman. “Itu semuanya dibawa oleh para pelanggan yang da­tang sendiri,” ungkap Uju.

Lumayan juga sekarang mulai banyak permintaan dari toko-toko yang khusus menjual oleh-oleh dan swalayan yang meme­san keripik buatan Uju. Impian Uju, usaha ke­ripiknya makin maju dan bisa buka cabang di berbagai kota. (azie)

Berita Terkait

Komentar

Komentar