Ketertiban Dalam Masyarakat

Oleh: Ciptadi

Ilustrasi

Ilustrasi

KETERTIBAN, ketenteraman, kedamaian dalam suatu kehidupan bermasyarakat termasuk soal yang pokok. Hasilnya akan sagat mempengaruhi kehidupan kita secara individuil.

Ketertiban memanglah merupakan kebutuhan yang termasuk pokok bagi manusia. Di dalam suatu masyarakat yang kacau balau, di mana ketenteraman termasuk suatu yang sulit digapai akan menjadi suatu kemewahan, oleh karena tidak semua orang dapat memperolehnya, maka hidup manusia dengan sendirinya menjadi merana.

Adanya Negara, alat-alat perlengkapannya, Undang-undang dan Peraturannya dimaksudkan untuk menjamin ketertiban di dalam masyarakat itu. Kadang-kadang ketertiban itu tidak dapat diatur dengan halus dan secara baik-baik, tetapi dibutuhkan unsur paksaan atau pidana. Tetapi pokoknya semua menuju kepada suatu tata-kehidupan yang tertib dan damai.

Mengatur ketertiban dalam masyarakat memang bukan soal gampang dan sederhana, sekali pun dalam mengusahakan ketertiban itu digunakan ancaman kekerasan. Apabila hal ini kita renungkan, menyadari bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, jadi manusia adalah hamba Tuhan yang telah disertai akal, maka tidaklah terlalu sulit untuk menunjukkan sebab-sebabnya.

Kita mengetahui bahwa jiwa manusia yang sejati berasal dari Tuhan. Jiwa manusia ini sajalah yang menjadi pokok dalam pembinaan ketertiban masyarakat, maka tidak akan timbul masalah ketertiban. Tetapi kita mengetahui pula bahwa jiwa manusia itu dipengaruhi oleh akalnya, nafsunya dan perasaannya.

Dari ketiga hal inilah muncul “aku” (ego) manusia yang lalu mengadakan pemisahan bahkan sering-sering mendatangkan pertengkaran diantara sesama manusia. “Aku” (ego) kita biasanya maunya selalu melekat pada dan mengejar hal-hal keduniawian, baik yang materiil (barang-barang) maupun yang immateriil (misalnya kemashuran).

Dari kecenderungan ini timbullah persaingan-persaingan, perselisihan-perselisihan dan bentrokan-bentrokan diantara kepentingan masing-masing orang di dalam masyarakat itu. Sekalipun kita mengakui dan menyadari perlunya terdapat ketertiban di dalam masyarakat demi kesejahteraan hidup kita sendiri, namun, “aku” kita sering-sering mempunyai garis politiknya sendiri yang tidak mau didamaikan.

Pedoman garis politik sang “aku” ini semata-mata dituntun oleh keuntungan diri pribadi, tanpa mempedulikan apakah tindakan-tindakannya itu nanti akan mengeruhkan suasana tertib di dalam masyarakat.

Umat manusia yang sadar bahwa dirinya adalah hamba Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan dan kemampuaan yang ada pada dirinya adalah pinjaman Tuhan semata, maka tidak akan memberikan keleluasaan kepada sang “aku” untuk main menangnya sendiri. Ada cara yang ampuh agar “aku” tidak leluasa mempengaruhi jiwa, adalah dengan berusaha tidak melekat kepada soal-soal keduniawian, artinya segala sesuatu yang dapat berubah/rusak.

Cara yang lebih jelas ialah dengan berusaha menyikapi keadaan dunia ini dengan watak utama, yaitu: rela, menerima, jujur, sabar dengan watak rela sebagai kunci utamanya. Keempat watak ini dapat diumpamakan sebagai pisau yanng tajam yang akan mampu memotong setiap ikatan dengan barang-barang keduniawian. Maka dengan dilepaskannya diri manusia dari ikatan-ikatannya dengan kepentingan keduniawian, kecenderungan untuk bersaing, bertengkar, dan lain-lain perbuatan yang mendatangkan ketidak tertiban akan hapus dengan sendirinya.

Sedangkan yang tinggal adalah rasa ingin selalu dekat kepada Tuhan, dan apabila keinginan ini dijabarkan dalam tindak kemasyarakatan, menjadi: kasih sayang kepada sesama, tolong menolong, serta lain-lain sifat utama yang jusru merupakan kebalikan dari tingkah laku yang mendatangkan iklim tidak tertib itu.

Dengan demikian jelas pula bahwa rasa ingin selalu dekat kepada Tuhan, sekalipun sasarannya adalah kebahagiaan manusia sebagai individu, namun mempunyai efek pada kehidupan bermasyarakat. Sebab, memang soal kesejahteraan individu adalah integral dengan kesejahteraan (ketertiban, kedamaian) masyarakat.

Jika kita bandingkan ketertiban yang terjadi karena manusia sadar dirinya adalah hamba Tuhan yang senantiasa ingin dekat dengan-Nya dan selalu memohon tuntunan-Nya,dengan ketertiban yang diusahakan oleh kekuasaan keduniaan, maka kelebihan dari ketertiban yang disebut pertama, ialah karena ia memancar dari situasi batin manusia itu sendiri. Bukan ketertiban yang dipaksa dari luar.

Oleh karena itu, sebagai anggota masyarakat hendaknya kita membangun jiwa sejati kita dengan selalu berusaha mendekat dengan Tuhan agar jiwa kita senantiasa dituntun agar dapat menjadi tertib secara pribadi, sehingga akhirnya dapat membangun ketertiban di dalam masyarakat. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar