Ketidakpastian Ekonomi

Oleh: Fauzi Aziz

 

SEMUA ekonom di dunia mengatakan perekonomian global tengah menghadapi ketidakpastian dan kebangkitan ekonomi dewasa ini menjadi “barang mahal”. Perlu energi besar untuk sekedar bangkit apalagi tumbuh.

Apakah betul dunia sedang terperangkap ketidak pastian sehingga dengan nada yang sama semua mengamini bahwa kondisi ekonomi global saat ini dirundung duka, malas tumbuh, atau sakit dan mengapa menjadi malas?

Atau jangan-jangan dalam situasi seperti sekarang bukan ketidakpastian yang sedang berlangsung, tapi benar- benar ekonomi dunia tengah mencari titik keseimbangan baru karena berbagai beban ekonomi untuk menghasilkan output harus dikurangi.

Lain halnya jika yang potret neraca ekonominya langsung terbaca net, maka efek psikologi ekonominya bisa membuat tenang karena tidak ada faktor liabilitas yang harus dibayar sebagai kewajiban.

Artinya, pada kondisi penalaran seperti itu, kita bisa merasa aman karena tidak mempunyai liabilitas, sehingga yang kita miliki adalah aset neto dan inilah nilai ekuitas riil yang kita miliki sebagai kekayaan.

Dengan demikian dapat difahami juga bahwa lebih baik ekonomi tumbuh moderat atau rendah, yang penting tidak punya stok liabilitas. Dan yang dimiliki adalah aset bersih dan ekuitas bersih.

Bukankah nalar ekonomi semacam ini yang benar. Bukankah dengan demikian dapat dikatakan kinerja seperti itu yang dapat kita katakan sebagai kinerja ekonomi dan sekaligus pertumbuhan ekonomi yang realistis dan berkualitas.

Pandangan ini bersifat imajinatif dan ilutif, tapi rasanya masuk akal. Ekonomi secara mikro jika dibaca dengan model berfikir berdasarkan pendekatan balance sheet akan lebih gampang diaudit. Dan kinerja wajar tanpa pengecualiannya dapat dengan mudah dibaca jika aset dan ekuitas neto bertambah dan tumbuh secara wajar atau moderat.

Artinya, dalam agregasi yang lebih makro kondisi perekonomian bisa dikatakan sehat dan stabil bilamana kondisi perekonomian selalu terjaga.

Premis pemikiran imajinatif ini membuktikan bahwa apa yang terjadi pada perekonomian dunia dewasa ini sejatinya bukan masalah ketidakpastian. Jadi yang terjadi dewasa ini adalah semua negara harus melakukan konsolidasi internal, sehingga secara menyeluruh pertumbuhan ekonomi melambat.

Karena kondisi perekonomian global sudah saling tergantung satu sama lain sejak globalisasi berjalan hingga kini, maka setiap proses konsolidasi dalam rangka penyehatan struktur balance sheet-nya oleh negara-negara maju seperti AS, Uni Eropa dan Jepang pasti akan berpengaruh pada kinerja ekonomi negara-negara emerging economy seperti Tiongkok, India, Indonesia dan negara-negara Asean lainnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah berapa proses konsolidasinya akan selesai. Ini yang tidak dapat dipastikan. Pada fenomena yang demikian, kedepan ekonomi global akan kembali pulih. Hanya saja jangan berharap akan terjadi lagi “jor-joran” mengkapitalisasi pertumbuhan ekonomi seperti di masa sebelumnya.

Titik keseimbangan baru pertumbuhan ekonomi kedepan akan dimulai dengan lebih realistik, lebih managable, lebih prudent karena beban liabilitas hampir semua negara di dunia sudah sama-sama membengkak.

Jangan kaget kalau sejumlah negara, seperti AS sampai berani mengambil sikap untuk “memproteksi ekonomi domestiknya dengan alasan melakukan konsolidasi internalnya seperti pernah dikatakan Donald Trump.

Uni Eropa sudah lama bersikap “protektif”, buktinya banyak non tariff barier diberlakukan untuk “menghambat”masuknya barang impor dari negara non Uni Eropa.

Kita yakin dan percaya bahwa jika mekanisme pasar masih mampu bekerja dengan baik, ketika titik keseimbangan baru ekonomi global terjadi, pertumbuhan ekonomi akan berlangsung kembali meskipun tidak sedahsyad seperti sebelumnya.

Orientasinya pasti akan lebih memperhatikan kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Indonesia sebagai salah satu emerging economy juga harus melakukan konsolidasi internalnya agar kinerja ekonominya makin baik dan sehat.

Langkah pengamanan pasar domestik jauh lebih penting dari pada berfikir macam-macam tentang perdagangan bebas. Karena itu Indonesia tak perlu mengambil sikap good boy dalam menyikapi perkembangan ekonomi global. Jadi kesimpulannya ketidakpastian itu adalah ungkapan klise, karena yang terjadi di dunia sekarang adalah konsolidasi ekonomi nasional masing-masing negara di dunia. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi menjadi melambat. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar