Ketika Harga Cabai Anjlok

Oleh : Enderson Tambunan

Ilustrasi

KALANGAN masyarakat, terutama ibu-ibu, terkaget-kaget tatkala harga cabai melonjak drastis, beberapa waktu lalu. Memang, kenaikan harga itu secara bertahap, tapi seperti tak terbendung, hingga mencapai sekitar Rp 100.000 per kg. Bayangkan, harga cabai jauh lebih mahal dari harga daging sapi.

Maka, halaman surat kabar pun dihiasi oleh keluhan konsumen, yang merasakan keanehan dengan begitu mahalnya harga cabai. Tak sedikit konsumen yang tak jadi beli cabai, karena mahal. Seorang ibu di Pondok Gede, Bekasi, tak kalah heran ketika membeli tahu sumedang (siap saji) yang hanya dilengkapi dengan dua biji rawit. Biasanya, cukup banyak. “Harga cabai mahal sekali, Bu,” kata si pedagang tahu sambil berlalu.

Begitulah, mahalnya harga cabai saat itu menjadi pusat pembicaraan di berbagai tempat. Memang belum sampai masuk arena diskusi atau seminar. Tapi, kenaikan harga itu menghebohkan.

Sesungguhnya, sudah sering harga cabai melonjak tinggi. Beberapa penyebab naiknya harga cabai, antara lain, hujan terus-menerus dan rusaknya jalan dari sentra produksi ke pasar. Begitulah sering kita dengar penjelasan pejabat terkait bila ditanya, mengapa harga cabai naik.

Seperti biasa, naiknya harga tentu memberikan peluang kepada pihak lain untuk meningkatkan produksi. Dengan memanfaatkan kondisi tersebut, diharapkan keuntungan yang bakal dipetik jauh lebih banyak. Begitu juga halnya setiap kali harga cabai melambung tinggi, banyak petani yang kemudian memperluas lahan pertanian cabainya dengan memanfaatkan benih unggul, pemupukan serta pemeliharaan yang lebih baik. Memang biaya pemeliharaan lebih besar, tapi itu tak soal sepanjang harga bagus. Itu pula yang terjadi beberapa waktu lalu, ketika harga cabai di Tanah Air melonjak tajam.

Di antaranya, kalangan petani di sentra pertanian cabai di Banyuwangi dan Jember pun berupaya meningkatkan produksi. Mereka lebih giat menanam cabai. Tapi, mereka akhirnya kecewa, karena begitu panen tiba, harga cabai turun drastis, menjadi hanya Rp 7.000 per kg (Kompas, 1/3).

Sesungguhnya, kalangan petani cabai itu menyadari bahwa harga komoditas pertanian tersebut tak mungkin lama bertahan di atas, karena masuknya cabai impor dan bertambah luasnya lahan pertanian cabai. Tapi, yang mereka tidak duga adalah harga cabai terus terjun bebas. Menurut petani, kalau harga masih di kisaran Rp 24.000, masih lebih baik. Tapi, yang terjadi kemudian, harga turun terus hingga Rp 7.000 per kg. Dan diperkiralkan harga turun lagi hingga menjadi Rp 5.000 per kg. Jika itu terjadi, maka kerugian sudah di depan mata. Hasil penjualan tak mampu menutupi biaya produksi, termasuk upah memetik. Lalu, disimpulkan, lebih baik tanaman cabai tidak dirawat lagi. Sebab perawatan juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit

Dapat dipahami mengapa kalangan petani cabai itu kecewa berat. Sebab, pada awalnya, mereka telah membayangkan keuntungan besar dari hasil penjualan cabai dalam kondisi harga tinggi. Kenyataannya, jauh berbeda. Yang diharapkan, hasil penjualan masih dapat memberikan keuntungan. Dan menjadi pertanyaan, siapa yang dapat berperan sebagai penampung hasil pertanian ini dengan harga yang tetap memberikan keuntungan bagi petani?***

Berita Terkait

Komentar

Komentar