Kinerja Impor Mengalami Penurunan Hingga 17 Persen

rachmat-gobel

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel memaparkan sinyal perbaikan kinerja ekspor non migas sepanjang Januari-April 2015 ke beberapa negara mitra dagang seperti India, Malaysia, Taiwan, Vietnam, Arab, Pakistan dan Swiss menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama dibanding tahun sebelumnya.

Ekspor ke India naik 13,4 persen, Malaysia 5,4 persen, Taiwan naik 8,9 persen, Vietnam naik 11,6 persen, Arab naik 17,7 persen, Pakistan 6,0 persen, dan Swiss naik lebih dari 2.000 persen.  “Untuk sektor pertanian yang masih jadi primadona ekspor, meningkat 4,7 persen, sedangkan ekspor industri naik 2,4 persen,” ujar Mendag Rachmat Gobel di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (18/5/15).

Namun disisi lain yang masih dalam perbaikan, Gobel menjelaskan ekspor sektor pertambangan pertumbuhannya negatif sebesar 14,0 persen. Untuk produk ekspor nonmigas yang meningkat seperti bijih logam naik 122.0 persen, untuk perhiasan 45,8 persen, tembaga 35,1 persen dan alas kaki 16,7 persen.

Gobel menjelaskan, untuk total impor selama di Bulan April mengalami peningkatan 0,2 persen dibanding bulan sebelumnya. “Namun, kinerja impor secara kumulatif selama Januari-April masih mengalami penurunan 17,0 persen dibanding periode yang sama,” tandasnya.

Ia menjelaskan, penurunan impor dipicu oleh anjloknya permintaan impor migas sebesar 42,6 persen yang terdiri atas penurunan impor hasil minyak sebesar 45,3 persen dan minyak mentah 38,1 persen.

Menurut negara impor yang menjadi mitra dagang yang mengalami impor tertinggi adalah Australia dengan peningkatan 30,1 persen, barang impor Australia yang naik tajam, antara lain, binatang hidup dan bahan kimia organik.

“Untuk impor masih tetap didominasi oleh bahan baku (penolong) yang nilainya mengalami penurunan sebesar 17,8 persen, bahan yang tergolong penolong antara lain, bahan kimia organik, plastik besi, dan baja,” tuturnya.

Barang modal secara signifikan mengalami penurunan impornya seperti mesin, pesawat mekanik, dan kendaraan bermotor. Untuk barang konsumsi juga turun antara lain daging hewan, mainan dan pakaian jadi bukan rajutan. (marto tobing)

Berita Terkait