Kohesivitas

Oleh: Edi Siswoyo

Ilustrasi

Ilustrasi

MEMPRIHATINKAN. Konflik antar kelompok masyarakat di Indonesia semakin menjadi-jadi. Tak ada bulan dan tahun yang dilewati sepi dari kerusuhan dan kekerasan antar kelompok masyarakat. Kohesivitas–daya rekat–keindonesiaan terasa semakin memudar. Tak jarang persoalan kecil dan sepele menjadi penyulut kekerasan dan kerusuhan seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, di Ambon, Maluku, di Mataram Nusa Tenggara Barat, di Timika, Papua, di Lampung Selatan, Sumatera dan ibu kota Jakarta.

Kekerasan dan kerusuhan di Lampung pekan lalu sungguh mengenaskan. Persoalan sepele–keributan antar pemuda di tempat parkir motor–menyulut konflik antar kelompok masyarakat di Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Amuk massa dari dari desa tetangga, Kota Dalam mengakibatkan 65 rumah warga habis terbakar dan rata dengan tanah. Sedikitnya 75 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal dan ratusan orang terpaksa mengungsi ke sawah dan kebun karet.

Kenapa itu terjadi ? Wilayah Provinsi Lampung sudah sejak dahulu oleh pemerintah dijadikan daerah tujuan transmigrasi dan dikenal sebagai “miniatur Indonesia”. Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo di Lampung Selatan, Lampung satu diantara wilayah mini Indonesia. Desa tarnsmigran itu tumbuh dan berkembang sesuai namanya sido dan waluyo (menjadi sehat), sido dan mulyo (menjadi makmur).

Konflik sosial yang terjadi di Sidowaluyo mengingatkan kita betapa penting semangat bhineka tunggal ika (walau berbeda-beda tetap satu) dikembangkan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang majemuk. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata kohesivitas antar kelompok masyarakat yang plural dengan berbagai suku, ras, agama dan antar golongan (sara) terasa semakin pudar.

Sentimen sara begitu mudah berkobar seperti padang rumput kering yang terbakar oleh puntung rokok. Bisa jadi kerusuhan dan kekerasan di Desa Sidowaluyo hanyalah sebuah puncak dari gunung besar ketidakadilan, kesenjangan dan kemiskinan yang tersembunyi di balik lautan kehidupan masyarakat.

Memang, bhineka tunggal ika dan kohesivitas sosial perlu terus dibangun dan dikembangkan dalam bingkai keindonesiaan. Bersamaan dengan upaya itu, akar permasalahan yang menggunung di bawah laut kehidupan masyarakat perlu dicarikan jalan ke luar, sehinga tidak mendorong konflik yang bersifat suku, agama, ras dan antar golongan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia. Semoga !*

Berita Terkait

Komentar

Komentar