Kompromi Ideologi Ekonomi

Oleh: Fauzi Aziz

121114-bb1

SISTEM ekonomi Indonesia sangat liberal. Demikian kata pengamat ekonomi. Dalam posisi Indonesia memiliki keterbatasan modal, teknologi, dan sumber daya manusia, pada zaman globalisasi ini, peran kapitalisme dengan mudah melakukan penetrasi politik maupun ekonomi yang tujuannya, menguras sumber daya ekonomi.

Di sektor pengelolaan sumber daya alam, peran kapitalisme AS sangat dominan. Sektor keuangan, properti, dan bisnis ritel, juga sudah didominasi oleh modal asing. Semuanya terjadi karena kebijakan pemerintah sendiri, terutama sejak pasca krisis tahun 1998, ketika Indonesia menjadi “pasien IMF”. Resepnya, antara lain, liberalisasikan sektor keuangan, perdagangan dan investasi, serta privatisasi BUMN.

“Nasi telah menjadi bubur”, lantas apakah kita akan balik badan dan kemudian mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia akan mengambil sikap “go to hell modal asing”? Rasanya tidak realistis bersikap seperti itu. Orang bisa bilang jangan lebay atau narsis, kita sebaiknya tidak melakukan langkah keliru dalam menyikapi fenomena ekonomi yang sudah mengglobal.

Sikap semacam itu bisa saja muncul di sebagian masyarakat kita yang berpikir realistis dan rasional. Tapi, manakala dinilai dari sudut pandang politik, jawabannya pasti akan cenderung menolak, karena sistem yang liberal dipandang merugikan kepentingan nasional. Sudut pandangnya akan dengan mudah mengatakan, Indonesia akan terjajah kembali jika kita membiarkan sistem ekonomi nasional menjadi sangat liberal.

Laman: 1 2 3

Berita Terkait

Komentar

Komentar