Konsumsi Dalam Negeri Mengkanalisasi Pemulihan Ekonomi

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, sekitar 270 juta penduduk Indonesia pada dasarnya adalah konsumen yang setiap hari membelanjakan sebagian penghasilannya untuk mengkonsumsi barang dan jasa. Pengeluarannya rata-rata 56% per tahun terhadap PDB, berarti sekitar Rp 8.000 triliun per tahun.

Jika penduduk kelas menengah Indonesia sekarang berjumlah sekitar 140 juta jiwa, maka potensi buying power mereka pasti lumayan tinggi. Bahkan mereka diramalkan akan “membakar” uangnya sekitar USD 2,5 triliun ( nomor 4 di dunia) untuk keperluan konsumsi pada tahun 2030.Total Asia diramalkan mencapai USD 32 triliun pada tahun yang sama.

KEDUA, buying power dari 140 juta jiwa kelas menengah ini beragam profesinya, dan tidak boleh dilewatkan menjadi target untuk dijadikan energi positif penggerak ekonomi domestik dalam rangka pemulihan ekonomi. Satu-satunya yang masih diharapkan  adalah menggarap pengeluaran belanja konsumsi.

Dalam jangka pendek untuk belanja investasi, belanja pemerintah, dan ekspor masih butuh waktu untuk pemulihannya. China, AS, UE dan lain-lain sekarang ini fokus mengamankan pasar dalam negerinya masing -masing. Upaya semacam ini jangan dipandang sebagai tindakan proteksi karena yang sedang dilakukan adalah bagian dari proses pemulihan dan konsolidasi.

KETIGA, sekarang ini mereka telah menjadi target market place besar untuk dicekoki barang impor. Di saat economy lockdown sekarang ini para market place menawarkan barang-barang konsumsi tahan lama dengan harga yang sangat rendah sekali. Banyak ditawarkan 50% lebih rendah dari harga yang normal.

Umumnya barang impor. Dan ini bukan barang dumping karena sudah berada di gudang-gudang di dalam negeri yang siap jual dan di delever ke pemesannya. Mereka butuh cashflow dan karena itu, mereka lakukan cuci gudang, bukan promo lagi. Barang-barang tersebut sekarang sudah stay at warehouse, baik yang ada dalam bounded warhouse maupun yang non bounded warhouse. Yang masih tertahan dibounded warehouse belum ditarik bea masuk dan PPN impornya, kecuali setelah dipasarkan. Sedangkan yang ada di pergudangan non bounded sudah dipungut bea masuk dan PPN impornya oleh bea dan cukai sewaktu deklarasi dokumen kepabeanan di pelabuhan tujuan.

KEEMPAT,data yang pernah dirilis BI tahun 2017,total nilai transaksi market place di Indonesia sebesar Rp 75 triliun, dengan jumlah pembeli 24,7 juta. 80% yang ditransaksikan adalah barang impor dan 20% barang lokal.

Data lain yang dirilis Google dan Temasek, volume transaksi e-commerce di Indonesia tahun 2018 mencapai USD 12,2 miliar atau setara Rp 172,2 triliun. Angka ini naik 617,6 % dari tahun 2015.Diprediksi akan sentuh USD 53 miliar atau setara Rp 752,6 triliun pada tahun 2025, atau akan bisa sumbang 5% dari PDB Indonesia. E-commerce di Indonesia adalah terbesar di Asean.

KELIMA, domestic obligation dari kelas menengah selalu menjadi harapan untuk mendorong pertumbuhan berkesinambungan. Permintaan dalam negeri yang kuat karena kekuatan daya beli mereka, menyebabkan permintaan terhadap berbagai barang kebutuhan baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan sekunder relatif tidak terpengaruh meskipun ada krisis ekonomi. Persoalannya, di dalam negeri kini selalu tersedia dua macam pilihan yakni produk dalam negeri dan produk impor.

Pergeseran

Ketika di saat yang sama orang kaya baru bermunculan dan mereka tergolong kelas menengah atas tentu gaya hidupnya mengalami pergeseran. Mereka menjadi konsumtif, hedonis, lebih menyukai barang bermerek dan impor minded. Perubahan ini yang menekan kemampuan produksi local

Mereka yang selama ini meramaikan mal-mal besar di dalam negeri maupun di luar negeri. Tapi karena covid-19 mereka sibuk berbelanja melalui market place online. Pola belanjanya yang berubah, tapi yang diburu tetap barang impor. Produksi lokal tetap tertekan pasarnya di dalam negeri.

KEENAM, fenomena globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah mempengaruhi gaya hidup golongan kelas menengah. Mereka tidak bisa di dikte, tetapi mereka cerdas dan makin rasional menentukan pilihan barang dan jasa apa yang pantas dibeli.

Orientasi untuk menentukan pilihan tidak lagi bersandar pada faktor harga, tetapi lebih kepada value barang dan jasa yang akan mereka beli dan lebih customize. Konten teknologi makin menjadi pilihan daripada sekedar bobot konten material. Menggeser konsumsi mereka dari tergantung pada barang impor dengan barang dalam negeri bukan perkara mudah.

Makin naiknya pendidikan kelas menengah Indonesia, mereka lebih beradab (civilized consumers). Artinya mereka lebih suka berburu barang -barang original ketimbang barang-barang KW. Yang bikin celaka karena ada efek luberan gaya hidup dari kelas menengah atas dan tengah, mereka yang tergolong kelas menengah bawah yang kemudian menjadi pemburu barang-barang barang KW dengan harga terjangkau, dan yang penting barang impor.

KETUJUH, sekarang ekonomi sudah sangat berat, dan pemerintah telah melakukan berbagai upaya penyelamatan dan pemulihan, meskipun sebagian kelangan masih menganggap belum cukup. Yang jelas, jika persoalannya kita tarik dari ujung, maka pemulihan ekspor jelas butuh waktu.

Banyak pihak memprediksi bahwa tindakan proteksi akan banyak dilakukan oleh negara mitra dagang,dan pengenaan standar teknis akan diperketat karena covid-19. Prediksi pemerintah, pertumbuhan ekspor akan terkontraksi menjadi minus 14% tahun 2020,bahkan bisa mencapai minus sekitar 15%.Untuk impor kurang lebih sama yaitu minus 14,5%, bahkan bisa menjadi minus 16 % pada kondisi paling berat. Investasi langsung atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), pemulihannya juga butuh waktu.

Karena itu, diprediksi hanya tumbuh 1,12%, dan pada kondisi paling buruk bisa menjadi minus 4,22% pada tahun 2020.Hanya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang diprediksi masih bisa tumbuh positif meskipun turunnya juga drastis, yaitu 3,22% dan pada kondisi sangat buruk bisa hanya 1,6% (konsumsi RT) , sedangkan konsumsi LPNRT akan menjadi minus 1,78% hingga yg terburuk menjadi minus 1,91%.Belanja pemerintah diharapkan tumbuh 6,83% dan paling buruk menjadi 3,73%. Dengan demikian, maka pemerintah memprediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2020 hanya 2,4%, dan paling buruk menjadi minus 0,4%.

KEDELAPAN, berarti yang masih bisa diharapkan bisa menjadi penggerak ekonomi dalam negeri hanya mengandalkan pada belanja konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Upaya jangka pendek yang harus ditempuh, maka tidak usah ragu pemerintah perlu menerapkan kebijakan proteksi untuk sementara. Lakukan pengawasan dan pembatasan impor untuk alasan kesehatan, keselamatan, dan keamanan dan mengerem laju defisit transaksi berjalan.

Menggairahkan perputaran ekonomi dalam negeri dengan membebaskan sementara waktu PPN masukan dan keluaran untuk transaksi dalam negeri. Biaya bunga modal kerja ditetapkan serendah mungkin. Mestinya ini bisa dilakukan karena ada bantuan likuiditas dari pemerintah.

Bunga rendah adalah menjadi keniscayaan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi dan bisnis yang sedang mandeg. Pengorbanan pemerintah dan bank BUMN untuk pemulihan ekonomi mutlak diperlukan untuk mencegah keterpurukan agar tidak semakin dalam. (penulis pemerhati industri dan ekonomi, tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar