Konsumsi Domestik, Investas dan Ekspor

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

SUMBER mesin pertumbuhan ekonomi yang patut terus dicermati adalah perkembangan konsumsi domestik, investasi dan ekspor. Kita harapkan agar pemerintah benar-benar fokus merancang satu paket kebijakan ekonomi yang tidak menimbulkan bias terhadap konsumsi domestik, investasi dan ekspor.

Pasalnya, fakta tidak lagi terbantahkan bahwa ke tiganya adalah menjadi semacam icon strategi di hampir semua negara di di dunia, termasuk Indonesia yang telah mengadopsi kebijakan pasar terbuka dalam mengeksploitasi aliran modal dan teknologi untuk terpadu secara global agar dapat menjalankan perdagangan internasionalnya secara kompetitif.

Penguatan sisi permintaan domestik ini harus mampu diimbangi dengan meningkatnya daya dukung kapasitas perekonomian sehingga mampu menjaga kecukupan di sisi produksi. Terjaganya keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran inilah yang kita harapkan menjadi salah satu satu faktor utama yang menyebabkan perekonomian bisa terus tumbuh.

Tiga kekuatan mesin pertumbuhan itu, yakni pengelolaan konsumsi domestik dan ekspor pada dasarnya adalah berkaitan dengan pengelolaan di sisi permintaan dan kecukupan di sisi produksi dan investasi hakekatnya berkaitan dengan pengelolaan di sisi penawaran.

Peta industri nasional ke depan harus memperhatikan perkembangan yang diperkirakan akan terjadi pada perekonomian domestik dan internasional. Produktifitas dan daya saing adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi agar derap industri di dalam negeri dapat masuk dalam pusaran tersebut.

Tidak ada pilihan menu lain selain itu. Pemerintah Indonesia hanya ada satu, tidak ada pemerintah yang lain di negeri ini. Karena itu, kebijakan yang dihasilkan juga hanya satu, yakni kebijakan pemerintah di bidang ekonomi untuk mengelola pertumbuhan konsumsi domestik yang dapat menggerakkan investasi untuk menjamin kecukupan pasokan dan meningkatkan ekspor.

Peta ekonominya secara statistik dalam 8 tahun terakhir (2005-2012) sudah terbaca dengan jelas bahwa perekonomian Indonesia selama kurun waktu tersebut tumbuh dengan laju rata-rata 6,2%, yang penggerak utamanya adalah konsumsi domestik, 57,19%, investasi pisik langsung/PMTB,30,56%, serta ekspor barang dan jasa,26,61%.

Karena daya saing dan total produktifitas ekonomi nasional relatif rendah, maka sumbangan ekspor Indonesia terhadap PDB,di lingkungan Asean untuk 9 negara yang datanya diolah selama tahun 2005-2011 adalah paling rendah, yakni 28,49%. Jauh di bawah Singapura, 223,29%; Malaysia 101,07% ; Vietnam 75,80%; dan Thailand 75,44%.

Investasi pisik langsung/ PMTB Indonesia pada kurun waktu yang sama berada pada posisi ke tiga yakni 27,95% masih di atas Thailand, 26,57% dan Malaysia, 21,94%: tetapi masih lebih rendah dari Vietnam ,34,44%;dan Laos,28,34%.Meskipun kita sering merisaukan tentang derasnya barang dan bahan impor yang masuk ke Indonesia, namun selama tahun 2005-2011, komponen impor Indonesia terhadap PDB-nya adalah yang paling rendah di antara 8 negara Asean yang lain yakni rata-rata hanya 25,55 %.

Tahun 2012 yang lalu sumbangan komponen impor terhadap PDB hanya 25,81%. Hal ini terjadi karena pertumbuhan investasi di sektor PMTB dan ekspor relatif rendah. Tahun 2012, komponen PMTB tumbuh 9,81% dan ekspor hanya tumbuh 2,01%. Kendati perekonomian Indonesia secara makro makin membaik, namun untuk dapat menggerakkan sektor riil diperlukan dukungan infrastruktur fisik yang berkualitas baik di jawa maupun di luar jawa.

Kontribusi PMTB terhadap PDB untuk Indonesia baru bisa menyumbang di atas 30%,yaitu mulai tahun 2009,sebesar 31,11%;2010,32,08%;2011,32,02%;dan di tahun 2012 meningkat menjadi 33,16%. Ke depan harus dipacu agar bisa lebih besar lagi hingga bisa mencapai 40%.

Vietnam, sumbangan PMTB terhadap PDBnya mencapai posisi di atas 30% dimulai sejak tahun 2002, yakni 31,14%,dan bisa mencapai tingkat tertinggi terjadi dii tahun 2007 sebesar 38,27%. Pada tahun yang sama, Indonesia baru memberikan kontribusi sekitar 24,95%.

Tahun ini, kita harapkan pemerintah dapat menerbitkan paket kebijakan ekonomi yang komprehensif di bidang moneter, fiskal dan administratif yang pro-bisnis yang di dukung oleh parlemen dan pemerintah daerah untuk mengamankan konsumsi domestik, meningkatkan investasi dan ekspor yang tidak terdistorsi oleh kepentingan politik yang idiologinya tidak jelas dalam konteks untuk mengelola pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berdaya saing. ***

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar