Korea Ingin Investasi di Bawang Goreng Sigi

Laporan: Redaksi

ilustrasi

MENGUPAS BAWANG – Pekerja sedang mengupas bawang untuk kemudian diiris dan selanjutnya digoreng. –tubasmedia.com/sabar hutasoit

SIGI, (tubasmedia.com) – Investor asal Korea Selatan berniat menjalin kerjasama dengan kelompok pengrajin industri bawang goreng yang berdomisili di Desa Bulupountu Jaya, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Hal itu diungkapkan sekelompok pengrajin industri bawang goreng saat ditemui tubasmedia.com di sentra industri bawang goreng Desa Bulupountu, Sigi, Sulawesi Tengah yang juga dihadiri Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, Perdagangan dan Pasar, Kabupaten Sigi, Adri DM Singi.

Di wajah para pengrajin industri bawang goreng tersebut terpancar kegembiraan yang luar biasa saat menceritakan keinginan pengusaha Korea utuk menjalin hubungan kerjasama dengan mereka.

‘’Ya begitu mereka katakan kepada kami saat mereka berkunjung ke sini minggu lalu. Mereka kelihatannya serius ingin membantu kami para pengrajin industri bawang goreng di sini,’’ kata mama Suci, seorang pengrajin bawang goreng.

Namun mama Suci tidak merinci apa saja isi pembicaraan mereka dengan investor Korea. ‘’Pengusaha Korea itu hanya mengatakan bersedia kerjasama di bidang proses dan pemasaran asal bahan baku bawang tersedia dalam jumlah banyak,’’ jelasnya.

Mengomentari hal tersebut, Kadis Adri DM Singi mengatakan kalau soal kesediaan bahan baku bawang tidak usaha diragukan, sebab Desa Bulupountu memang gudangnya bahan baku bawang goreng. Bahkan katanya, 80 persen kebutuhan bahan baku bawang goreng di Kota Palu, dikirim dari Desa Bulupountu.

Kehadiran investor asal Korea tersebut menurutnya sangat bagus karena akan mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat sebab produk bawang goreng akan dapat dipasarkan secara luas hingga ke luar negeri.

Tapi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, menurut Kadis, nanti jika pengusaha asal Korea serius akan dibuatkan memorandum of understanding (MoU) yang isinya secara jelas menyebut apa tanggungjawab masing-masing pihak.

Hal itu katanya perlu diadakan agar kejadian 2005 dimana investor asal China memonopoli perdagangan gaplek (tepung tapioka) tidak terulang lagi. Saat itu katanya, pengusaha China saking semuanya ditangani, haga gaplek dipatok hanya Rp 100/kg. ‘’Jangan terulang lagi seperti itu, makanya perlu ada MoU,’’ katanya.

Sementara itu, kalangan pengrajin industri bawang goreng mengeluhkan pengadaan bahan bakar minyak tanah. Selain harganya yang terus membubung, minak tanah juga sulit ditemukan. Minyak tanah adalah bahan bakar yang mereka pakai menggoreng bawang yang menjadi primadona mata dagangan desa setempat. Namun sering kegiatan menggoreng bawang tertunda karena ketiadaan minyak tanah. ‘’Order yang kami terima dari Jakarta 40 kilo belum bisa kami goreng karena tidak ada minyak tanah,’’ lanjut Hartono pengrajin industri bawang goreng lainnya.

Berkaitan dengan bahan bakar, para pengrajin industri bawang goreng itu serentak mendesak pemerintah agar benar-benar memperhatikan mereka. Katanya, saat pemerintah menghentikan penggunaan miyak tanah dan menggantikannya dengan gas, mereka belum siap dan pembagian tabung gas juga tidak merata.

‘’Kondisi akan kita bahas dengan pihak Hiswana Migas, bagaimana caranya agar para pengrajin industri bawang goreng tidak kesulitan bahan bakar,’’ kata Kadis Adri.

Di Desa Bulupountu katanya tercatat sekitar 100 pengrajin industri bawang goreng di bawah binaannya. Tapi sebagian diantara mereka, menjual bawang mentah ke pengrajin industri bawang goreng di Palu.

Direncanakan, ke depan, seluruh hasil bumi bawang di Sigi agar dijual ke pasar dalam bentuk barang jadi, bukan lagi bawang setengah jadi. ‘’Desa ini akan kita jadikan desa produsen bawang goreng,’’ kata Kadis. (sabar)

Topik :

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.