Koruptor Betobatlah, Alam Sudah Marah

Oleh: Sabar Hutasoit

Sabar Hutasoit

Sabar Hutasoit

RASANYA negeri yang sama-sama kita cintai ini tidak habis-habisnya didera bencana, bahkan bencana alam itu silih berganti, susul menyusul dan lokasinya gonta-ganti. Sekitar lima bulan lalu kita dikejutkan letusan Gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara. Belum selesai penanganan bencana alam Gunung Sinabung, muncul lagi bencana banjir di sebagian daerah wilayah NKRI.

Tidak berhenti disitu, Gunung Kelud di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Jawa Timur memuntahkan lahar panas membuat warga sekitar tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing. Sudah pasti, kepanikan warga Gunung Kelud, tidak jauh beda dengan kekhawatiran warga Tanah Karo dan warga NKRI yang terkena banjir.

Para warga korban bencana alam banjir dan korban letusan gunung berapi kendati mendapat penampungan di lokasi pengungsian, kenyamanan jiwa mereka tetap akan terganggu, khususnya bagi keluarga yang masih punya anak-anak balita.

Sudah barang tentu, para pengungsi itu tidak akan kesulitan soal makan dan minum serta tidur seadanya. Namun untuk membuang hajat, dapat dibayangkan bagaimana mereka yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan orang harus antri di tempat pembuagan hajat yang pasti jumlahnya sangat terbatas. Tapi begitulah kondisinya. Namanya saja sedang ditampung di lokasi pengungsian. Mereka harus sabar menerima keadaan ini walau waktunya bukan satu dua hari, akan tetapi sudah berbulan-bulan lamanya.

Syukur kita ucapkan kepada para relawan dan donator yang mau dan bersedia mengorbankan tenaga dan rupiahnya untuk membantu para korban bencana alam tersebut. Ternyata masih ada yang peduli terhadap penderitaan rakyat yang dilakuakn tanpa pamrih.

Akan tetapi perlu ada catatan bahwa keadaan yang amat memilukan ini, walau tidak disengaja, dimanfaatkan juga oleh sejumlah politisi bahkan pengurus partai politik yang secara terus-terusan menebar pesona, tentunya di lokasi penampungan.

Nampaknya keadaan yang teramat memprihatinkan ini dijadikan sebagai ajang ‘’kampanye’’ oleh para pengurus partai dan para calon legislatif yang akan berlaga nanti bulan April 2014, pada pesta rakyat pemilihan anggota legislatif. Singkatnya, para politisi dan pengurus partai politik memanfaatkan bencana alam untuk menarik simpati para korban, agar nanti bulan April, jangan lupa memilih namanya.

Akan tetapi, saking aktifnya memberi bantuan kepada para korban, para politisi itu dianggap mengganggu karena suara sirine mobil ambulans yang mereka bawa ke lokasi penampungan sering dibunyikan walau tidak ada korban yang dievakuasi di dalam ambulans tersebut.

Maka tidak heran jika Bupati Malang, Rendra Kresna meminta kepada para pengurus parpol agar tidak terlalu over mempertontonkan apa saja yang dibawa membantu korban.

Melihat bencana alam yang silih berganti, susul menyusul dan terkesan tidak habis-habisnya mendera negeri kita yang berlandaskan Pancasila ini, rasanya ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa kecuali, seluruh warga negara Republik Indonesia dan secara khusus kepada para pemimpin yang diberi legalitas oleh rakyat memimpin negeri, untuk mengoreksi diri. Introspeksi, melihat ke belakang dan masing-masing merenungi diri dan jangan sampai ada satu orang-pun yang merasa lebih hebat dari yang lain. Masing-masing warga negara mengosongkan diri, khususnya mereka-mereka yang sedang berurusan dengan hukum yang erat kaitannya dengan korupsi.

Di hadapan manusia, kita boleh bersilat lidah dengan mengedepankan kekuasaan agar jeratan hukum bisa terhindar. Di hadapan hakim yang sekaliber apapun, penjahat bisa berkelit apalagi dibarengi dengan embel-embel kekuasaan. Tapi di hadapan Tuhan, wou…jangan coba-coba bersandiwara.

Karena itu, mari…bertobatlah…merundukkan kepala minta ampun kepada Tuhan dan akuilah segala perbuatan Anda. Jangan tunggu sampai negeri ini hancur. Yakinilah, bencana alam yang terjadi di negeri ini akhir-akhir ini adalah teguran dari yang maha kuasa agar seluruh pemangku kepentingan bertobat secara nasional. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar