Kredibilitas Pemerintah Terus Diuji

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

PUBLIK punya ukuran sendiri untuk mengatakan apakah pemerintahnya benar-benar bekerja dengan baik menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Ukuran yang paling sering diungkapkan adalah tidak omong doank, nyata yang dikerjakan, dan hasilnya dirasakan oleh masyarakat luas.

Kalau ini terjadi, maka hampir pasti tanggung gugat publik tidak akan terjadi secara masif. Masyarakat merasa terpuaskan, karena apa yang dibutuhkan dan diingingkan dapat dipenuhi oleh pemerintah sebagai institusi yang dianggap memiliki kekuasaan dan kewenangan mengurus kehidupam masyarakat di negeri ini. Ada rasa kepuasan pada masyarakat, karena tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dianggap berhasil merespons dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan masyarakat.

Apa pun bentuknya dan di bidang apa saja asal daftar menu kebutuhan dan keinginan masyarakat terpenuhi dan tercukupi, masyarakat akan berucap terima kasih banyak kepada pemerintah dengan ketulusan yang tinggi, tanpa harus disuruh-suruh. Adab ketimuran sebagai orang Indonesia pasti akan muncul dengan sendirinya secara spontan. Inilah kredibilitas pemerintah di mata masyarakat.

Dipandang kredibel jika pemerintah bisa menjawab daftar menu kebutuhan dan keinginan masyarakat. Dan dinilai tidak kredibel kalau kondisi sebaliknya yang terjadi dan senjata pamungkas yang dipakai oleh masyarakat yang paling ringan hanya berujar, pemerintah omong doank. Menjadi sebuah ujian berat soal kredibilitas itu, manakala pemerintah dengan segudang kewenangan serba gamang untuk melangkah dan mengambil keputusan penting yang isunya masuk dalam daftar menunya masyarakat.

Contoh paling terkini adalah soal kenailkan harga BBM dan naiknya harga bahan pangan pokok. Pemerintah suka salah membaca dan mencermati fenomena yang terjadi di masyarakat. Kesalahan yang paling fatal adalah menempatkan posisi masyarakat seakan hanya pandai berkeluh-kesah, tak mau tahu tentang apa kesulitan yang sedang dihadapi pemerintah. Padahal, tidak sepenuhnya benar sinyalemen itu.

Belajar dari KAI

Kita bisa belajar dari cara PT KAI bekerja menangani berbagai bidang yang menjadi tanggung jawabnya langsung sebagai penyedia jasa layanan kereta api. Ada dua hal yang dapat dicatat dari tindakan manajemen PT KAI yang kita anggap baik, yakni ketegasan dan perbaikan pelayanan. Siapa pun yang terbiasa menggunakan jasa KA, baik untuk penumpang maupun barang, kondisinya sekarang sudah semakin baik. Tarifnya tidak bisa dibilang murah lagi, tapi arus penumpang/barang tetap tinggi di hari-hari biasa maupun di musim liburan. Okupansi tempat duduknya rata-rata tinggi, baik untuk KA ekonomi, maupun bisnis dan eksekutif ke berbagai jurusan di Pulau Jawa. Kuncinya hanya dua, yakni tegas dan pelayanan prima. Kalau dipikir persoalannya menjadi sederhana, yaitu hanya masalah skil manajerial.

Tujuannya jelas, yaitu memuaskan pelanggan (costumer satisfaction). Di lingkungan pemerintah pada dasarnya juga sama, yaitu hanya memerlukan skil manajerial yang tinggi dari para pengambil keputusan penting dan bisa memuaskan para pelanggannya, yakni masyarakat.

Kredibilitas pemerintah tidak terus-menerus menjadi batu ujian jika pemerintah secara real time dapat memberikan jaminan kepuasan pelanggan kepada masyarakat yang dilayani. Pemerintah fokus saja kepada soal yang berkaitan dengan masalah costumer satisfaction setiap waktu kalau kredibilitasnya tidak mau jeblok. Kesan hanya bisa bekerja bagi-bagi kue kekuasaan harus dihilangkan dengan bekerja bagi tanggung jawab untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Jangan lagi repot-repot membangun pencitraan dengan memasang iklan di TV, karena yang diperlukan masyarakat adalah hasil dan manfaat. Kalau sudah berhasil ditunjukkan pasti citra baiknya akan datang sendiri. Dan dari situ masyarakat pasti akan memberikan apresiasi dan dukungan kepada pemerintah di rezim manapun, tanpa basa-basi.

Kredibilitas pun otomatis akan terbentuk dengan sendirinya, karena pemerintah tidak lagi dibilang omong doank dan terlalu banyak berjanji, tapi janjinya tidak dapat ditepati.Karena itu, pantas kalau kemudian kita mengatakan bahwa kredibilitas pemerintah terus diuji. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar