Krisis Global

Oleh: Edi Siswoyo

Ilustrasi

Ilustrasi

KRISIS dirasakan sebagai kondisi yang memiriskan hati. Kondisi itu tidak hanya dirasakan dalam kehidupan yang berskala mikro, tetapi juga yang makro dalam pergaulan dunia yang semakin terbuka. Krisis melanda berbagai bidang dan terjadi di mana-mana di muka planet bumi yang semakin tua ini.

Imbas krisis global itu mulai menyerang Indonesia. Itu artinya Indonesia sedang mengetok pintu krisis. Jika pintu terbuka oleh tren penurunan yang terjadi dalam bulan-bulan mendatang, diperkirakan pintu krisis akan terbuka lebar pada triwulan pertama 2012 ini.

Badan Pusat Statitik melaporkan penurunan nilai ekspor telah terjadi sejak September 2011. Pada November lalu nilai ekspor Indonesia tercatat hanya 16.92 miliar dolar AS atau turun 0,2 persen. Penurunan itu terjadi pada komoditas unggulan Indonesia seperti karet, minyak kelapa sawit, kopi, mebel dan kakao.

Gawat. Soalnya, pintu krisis nilai ekspor Indonesia akan membuka luas pintu krisis yang berakibat luas dalam kehidupan masyarakat. Tentu, tidak hanya pada efek domino penerimaan keungan negara yang berdampak pada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional. Penurunan nilai ekspor juga akan membuat banyak pabrik tutup dan tidak sedikit karyawan yang dirumahkan–terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK)–yang menambah besar dan panjang antrean pengangguran.

Benar-benar bikin miris. Tetapi, Ketua umum Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Sofjan Wanandi punya solusi jalan ke luar. Mendorong daya saing produk unggulan Indonesia dilakukan dengan mengurangi ekonomi biaya tinggi, kondisi perlambatan pemulihan ekonomi global perlu dijadikan momentum menjaga pasar domistik. “Jangan lagi kita mudah dikalahkan oleh barang-barang impor yang masuk secara illegal dan produk dumping. Ironisnya, konsumen kita masih lebih berpola pikir impor ” katanya (Kompas, Kamis, 5 Januari 2012).

Solusi yang ditawarkan Sofjan Wanandi itu bukan barang baru. Sudah lama Indonesia sebagai negara besar–potensi sumber daya alam dan pasar domestik–terseret arus kapitalisme dan liberalisme. Krisis kapitalisme global yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropah mau tidak mau berimbas pada nilai ekspor komoditas unggulan Indonesia. Pemanfaatan pasar dalam negeri melalui proteksi terhadap produk impor hanyalah jalan ke luar sesaat.

Solusi jangka panjangnya ? Tentu, harus ada kamauan pemerintah angkat kaki dari kubangan lumpur kapitalisme dan liberalis, berdiri tegak di atas kekuatan kaki sendiri menjadi bangsa merdeka, mandiri dan berkepribadian Pancasila !***

Berita Terkait

Komentar

Komentar