Krisis Nuklir Iran Dibahas Di Oman

Fasilitas pengayaan uranium di Iran yang di duga akan digunakan untuk membuat senjata nuklir (AP)

Fasilitas pengayaan uranium di Iran yang di duga akan digunakan untuk membuat senjata nuklir (AP)

OMAN, (tubasmedia.com) – Pembicaraan tingkat tinggi sedang berlangsung di Oman menjelang batas waktu 24 November untuk mencapai kesepakatan komprehensif tentang program nuklir Iran.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dan negosiator Uni Eropa Catherine Ashton. Mereka akan berusaha mencari cara untuk mengatasi perbedaan pendapat tentang pengayaan uranium dan sanksi yang diberikan kepada Iran.

Iran membantah klaim yang dikeluarkan oleh Amerika bahwa mereka kini tengah berusaha untuk membuat senjata nuklir. Bantahan ini juga menegaskan program pengayaan uranium yang dilakukan Iran adalah murni untuk tujuan damai.

Sumber dari Teheran mengatakan bahwa pembantu paling senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yaitu Ali Akbar Velayati, mungkin akan bergabung dalam perundingan yang sedang berlangsung.

Pertemuan hari Minggu tersebut dilakukan setahun setelah Iran dan enam kekuatan dunia – Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan Cina – menyetujui kesepakatan sementara untuk membatasi kegiatan nuklir Iran dengan imbalan beberapa bantuan dari sanksi-sanksi yang dijatuhkan Barat.

Iran telah berjanji untuk lebih bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) setelah terpilihnya Presiden Hassan Rouhani tahun lalu dengan imbalan sebuah pengurangan sanksi.

Meskipun kemajuan telah dibuat, John Kerry mengatakan tetap ada kesenjangan yang nyata dalam negosiasi ini. Masalah-masalah terberat yang menjadi kendala termasuk berapa kapasitas yang bisa dipertahankan Iran untuk memperkaya uranium dan seberapa cepat sanksi internasional terhadap negara tersebut akan dihapus.

Sebuah laporan rahasia yang dirilis IAEA baru-baru ini juga bisa menyulitkan kemajuan dalam pembicaraan. Laporan tersebut mengatakan bahwa Iran gagal untuk menjawab pertanyaan mengenai dugaan kegiatan rahasia di beberapa fasilitas nuklirnya.

IAEA mengatakan bahwa meskipun Iran pada bulan Mei lalu menyetujui untuk memberikan informasi tentang dua dari sekitar selusin bidang kecurigaan pada bulan Agustus, itu belum memberikan jawaban yang memuaskan.

Mr Kerry juga telah menegaskan bahwa pembicaraan nuklir tidak terkait dengan kemungkinan kerjasama dengan Iran dalam perang regional melawan militan ISIS di Suriah dan Irak.

Laporan terakhir di media AS menggambarkan sebuah surat dari Presiden Barack Obama untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan kesepakatan nuklir dapat menguntungkan kepentingan bersama mereka dalam memerangi kelompok bersenjata tersebut. (Rizal Surya Pratama)

Berita Terkait