Ku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

JUDUL di atas terinspirasi oleh sajak buah karya Chairil Anwar. Filosofi dan maknanya sangat dalam bagi penuntun kehidupan manusia di dunia. Sebagai pandangan yang bersifat filosofis juga harus bisa kita pandang bahwa secara religi dan kultural bahwa mimpi ingin hidup seribu tahun lagi harus kita maknai dan fahami sebagai sumber inspirasi dan motivasi agar hidup kita penuh dengan cinta kasih, kedamaian, nilai kebaruan dan semangat pembelajaran.

Hidup lebih maju, hari ini lebih baik dari hari kemarin serta lebih bermanfaat untuk kepentingan peradaban. Apalah arti sebuah umur panjang dan sampai bermimpi ingin hidup seribu tahun lagi, jika kehadiran kita di muka bumi hanya sekedar hadir, tapi sama sekali tidak memberi manfaat bagi lingkungan di mana kita semua hadir.

Seribu tahun lagi adalah jalan panjang yang tidak rata dan mulus. Penuh pendakian dan penurunan. Berkelok tajam dan tidak selamanya lurus. Kehidupan seribu tahun lagi pasti penuh duri dan onak dan banyak pula fatamorgana ketika beberapa saat kita berada pada jalan yang lurus dan mulus. Pendek kata, dalam semua aspek kehidupan akan selalu ketemu dan berhadapan dengan yang namanya ancaman dan tantangan serta hambatan dan gangguan.

Oleh sebab itu, apa perlu kita berniat untuk hidup seribu tahun lagi. Dan apakah kita mampu menjamin bahwa jika kita bisa hidup seribu tahun lagi ada faedahnya bagi sebuah peradaban. Jawabannya tergantung dari kita sendiri.

Tuhan menciptakan kita karena orang lain memerlukan kita. Cinta kasih dan rasa ingin saling membantu dan saling memuliakan dengan penuh kedamaian ada di dalamnya. Jika kita bisa mewujudkan cita-cita kemanusiaan yang seperti itu di seribu tahun lagi, boleh jadi Tuhan tidak keberatan mengabulkan doa kita.

Tapi jika hidup ini kita isi hanya dengan memelihara perselisihan, permusuhan, korupsi, tawuran, berbohong, menyiksa rakyat, mau menang sendiri, merasa lebih pintar sendiri, lebih benar sendiri dan sebagainya, jangankan seribu tahun, satu haripun kita tidak layak untuk hidup.

Selain itu, manusia juga amat senang yang aneh-aneh. Sudah jelas kapasitasnya terbatas masih sempat-sempatnya percaya pada dunia mahluk halus meminta pertolongan agar bisa menjadi presiden, menjadi gubernur atau bupati/walikota. Bukan minta pertolongan kepada Tuhan sang pencipta. Manusia suka berspekulasi, siapa tahu kalau Tuhan tidak meridoi, permintaannya dapat dikabulkan oleh mbah dukun yang ada di pucuk gunung.

Ini adalah langkah sesat. Lebih baik kita mawas diri penuh introspeksi apakah hidup kita ini sudah banyak memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan. Dalam konteks seperti itu, seperti yang terurai sejak awal pada jalan pikiran penulis, maka kita ingin hidup seribu tahun lagi, kita fahami maknawinya yang lebih membumi dan lebih realistis bahwa manusia itu harus hidup penuh dengan cita-cita luhur.

Ilmu yang Tuhan berikan kepada kita, harus kita amalkan untuk membangun sebuah peradaban baru yang mencerahkan walau hanya sekelumit yang dapat kita berikan. Jangan suka berharap reward dari siapapun apakah bentuk gratifikasi atau sanjungan, karena tanpa kita minta, asal di sepanjang hidup kita selalu menebar kebaikan dan selalu mengajak berlomba dalam kebajikan, Tuhan akan punya perhitungan sendiri untuk memberikan reward-Nya kepada kita. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar