Laju Pasar Obligasi Pekan ini Cenderung Terkonsolidasi

6172923_20140826095521

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, laju pasar obligasi di pekan kemarin terlihat variatif dan beberapa obligasi cenderung melemah harganya seiring adanya aksi jual. Variatifnya sentiment turut memicu aksi jual pada beberapa seri obligasi meski tidak jarang pula beberapa seri obligasi juga ramai ditransaksikan.

“Sempat terjadi aksi jual pasca sentimen negatif dari hasil pemilu Yunani dimana Partai Oposisi memenangi Pemilu dan masih tertekannya laju Rupiah akibat pergerakan laju US$ yang kian menguat pasca pertemuan The Fed namun, juga tertahan dengan adanya sentimen dari pemberian stimulus ECB dan perkiraan akan turunnya inflasi, meski kami belum terlalu yakin inflasi akan turun pasca Pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi dan semen,” papar Reza, Senin (2/2/15).

Terlihat pergerakan harga obligasi, khususnya harga obligasi Pemerintah mengalami kenaikan lebih rendah dari kenaikan harga di pekan sebelumnya. Begitupun dengan pergerakan yield-nya yang juga hanya turun tipis. Kelompok tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan rata-data yield -19,04 bps; tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan yield sekitar -9,24 bps; dan tenor panjang (8-30 tahun) turut mengalami penurunan yield sekitar -10,41 bps.

Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo ±5 tahun cenderung melemah tipis harganya hingga 15 bps. Sementara dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo ±10 tahun mengalami kenaikan tipis harga 3,37 bps.

Di pekan kemarin, Pemerintah Indonesia telah melaksanakan Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk seri Seri SPN-S14072015 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 14 Juli 2015; Seri PBS006 (reopening) dengan tingkat imbalan yang ditawarkan sebesar 8,25% dan jatuh tempo pada tanggal 15 September 2020; Seri PBS007 (reopening) dengan tingkat imbalan yang ditawarkan sebesar 9,00% dan jatuh tempo pada tanggal 15 September 2040; dan Seri PBS008 (reopening) dengan tingkat imbalan yang ditawarkan sebesar 7,00% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Juni 2016 pada hari Selasa, tanggal 27 Januari 2015.

“Total penawaran yang masuk sebesar Rp19,06 triliun dimana seri PBS008 memiliki penawaran yang masuk lebih tinggi sebesar Rp 9,51 triliun dengan nilai yang dimenangkan ialah sebesar Rp1,11 triliun,” ujar Reza.

Di sisi lain, untuk total keseluruhan penawaran yang dimenangkan hanya Rp 2,2 triliun. Total penawaran yang masuk lebih tinggi dari total penawaran yang masuk sebelumnya sebesar Rp 13,75 triliun namun, dengan penyerapan yang lebih rendah. Dari empat seri SBSN yang di tawarkan, hanya terserap 3 SBSN sementara untuk seri PBS006 tidak terserap. Pergerakan pasar obligasi yang masih menguat meski diiringi beberapa sentimen negatif membuat permintaan akan tingkat yield masih menurun karena telah terkompensasi dengan pergerakan harganya yang meningkat meski tipis.

Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk setiap seri a.l SPN-S14072015 (6,07%); PBS007 (8,16%); dan PBS008 (7,12%). Dari sisi bid to cover ratio memperlihatkan bahwa angka yang paling besar rasionya senilai 10,30x pada seri SPN-S14072015 sehingga memberikan gambaran bahwa banyak pelaku pasar yang masih lebih memilih lelang obligasi jangka pendek untuk ditransaksikan karena lebih likuid dan berdurasi lebih pendek. Seri SPN12160107 memiliki jatuh tempo yang lebih cepat / pendek dibandingkan dengan jatuh tempo suku bunga SUN lainnya.

Laju pasar obligasi di pekan ini cenderung berpeluang terkonsolidasi jika sentiment yang ada kurang mendukung, terutama sentiment dari rilis data-data ekonomi Indonesia. Kebetulan pekan ini merupakan awal bulan dimana data-data ekonomi makro internal akan dirilis. Rilis inflasi (terutama) akan menjadi perhatian pelaku pasar dan begitupun dengan laju nilai tukar Rupiah.

“Dengan demikian, jikapun ada pembalikan arah melemah maka kami harapkan tidak akan terlalu dalam pelemahannya. Kemungkinan laju harga obligasi akan bergerak dengan rentang ±10 hingga 25 bps. Untuk itu, tetap cermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada,” ungkap Reza.

Pada pekan ini, Pemerintah akan kembali melakukan Lelang Surat Utang Negara dalam mata uang Rupiah akan dilakukan pada hari Selasa, 3 Februari 2015. Jumlah indikatif yang dilelang sebesar Rp12 triliun untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2015.

Adapun seri-seri yang akan dilelang sebagai berikut:

1. Seri SPN03150504 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 4 Mei 2015;

2. Seri SPN12160204 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 4 Februari 2016;

3. Seri FR0069 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 7,875% dan jatuh tempo pada tanggal 15 April 2019;

4. Seri FR0071 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 9,000% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Maret 2029. (angga)

Berita Terkait