Laju Pasar Obligasi Pekan ini Diharapkan Lebih Stabil

laju-pasar-obligasi-dipredi

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, meski laju IHSG cenderung melemah seiring dengan kurang kondusifnya kondisi pasar saham global namun, tidak banyak berpengaruh pada laju pasar obligasi. Terlihat pergerakan harga obligasi yang masih dapat bergerak positif sepanjang sepekan kemarin.

Di sisi lain, meski laju Rupiah masih dalam pelemahan namun, mulai berkurangnya pelemahan tersebut membuat pelaku pasar tidak banyak melakukan aksi jual pada obligasi. Dengan volatilitas yang cukup tinggi pada pasar saham membuat pelaku pasar memilih instrumen obligasi yang lebih rendah volatilitasnya.

“Terlihat pergerakan harga obligasi, khususnya harga obligasi Pemerintah yang mampu melanjutkan kenaikan yang terefleksi dari turunnya yield yang merata pada seluruh tenor,” kata Reza, Senin (30/3/15).

Penurunan yield rata-rata yang terbesar diraih oleh obligasi tenor menengah (5-7 tahun). Kelompok tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan rata-data yield 3,82 bps; tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan yield sekitar 7,47 bps; dan tenor panjang (8-30 tahun) turut mengalami penurunan yield hingga 6,05 bps.

Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo ±4 tahun mampu melanjutkan kenaikan harganya hingga 36,44 bps. Sementara dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo ±9 tahun mampu berbalik naik harganya hingga 70,51 bps.

Di pekan kemarin, Pemerintah Indonesia telah melaksanakan Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk seri sebagai berikut:

a. Seri SPN-S11092015 (reopening) dengan tingkat imbalan secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 11 September 2015;

b. Seri PBS006 (reopening) dengan tingkat imbalan sebesar 8,25% dan jatuh tempo pada tanggal 15 September 2020;

c. Seri PBS007 (reopening) dengan tingkat imbalan sebesar 9,000% dan jatuh tempo pada tanggal 15 September 2040; dan

d. Seri PBS008 (reopening) dengan tingkat imbalan sebesar 7,00% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Juni 2016.

Total penawaran yang masuk sebesar Rp3,25 triliun dimana seri SPN-S11092015 memiliki penawaran yang masuk lebih tinggi sebesar Rp 1,38 triliun dengan nilai yang dimenangkan ialah sebesar Rp 500 miliar.

Di sisi lain, untuk total keseluruhan penawaran yang dimenangkan senilai Rp 1,98 triliun. Total penawaran yang masuk lebih rendah dari total penawaran yang masuk sebelumnya sebesar Rp 7,63 triliun dengan penyerapan yang lebih rendah. “Dari empat seri SBSN yang di tawarkan, Pemerintah menyerap seluruhnya,” imbuh Reza.

Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk setiap seri a.l Seri SPN-S11092015 (5,81%); Seri PBS006 (7,26%); Seri PBS007 (8,12%); dan Seri PBS008 (6,99%). Dari sisi bid to cover ratio memperlihatkan bahwa angka yang paling besar rasionya senilai 2,76x pada seri Seri SPN-S11092015 yang berdurasi lebih pendek.

Harapan akan lebih stabilnya pergerakan harga obligasi dapat terealisasi seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa diharapkan laju pasar obligasi dapat lebih stabil dengan asumsi sentimen yang ada tidak terlalu negatif dan diikuti dengan masih adanya aksi beli. “Dengan demikian, jikapun terdapat pelemahan lanjutan maka kami harapkan tidak akan terlalu dalam pelemahannya sehingga masih berkesempatan untuk menguat meski tipis,” ujar Reza.

Apalagi kondisi pasar saham terkadang naik dan turun tidak tentu arahnya yang kemungkinan membuat mood pelaku pasar menurun. Apalagi dengan masih adanya aksi jual asing di pasar saham dan rentan terhadap adanya sentimen sehingga pelaku pasar pun lebih memilih instrumen yang lebih stabil.

Masih turunnya total penawaran lelang SUN tersebut memberikan gambaran masih belum terlalu kondusifnya kondisi pasar di pekan kemarin seiring dengan berbagai macam sentimen meskipun jelang akhir pekan kondisi pasar obligasi cenderung menguat. Apalagi dari pemerintah juga tidak terlalu banyak melakukan penyerapan dengan tujuan agar tidak terlalu melonjaknya nilai utang yang akan ditanggung pemerintah.

“Di pekan ini, kami masih mengharapkan laju pasar obligasi dapat lebih stabil dengan asumsi sentimen yang ada tidak terlalu negatif dan diikuti dengan masih adanya aksi beli,” ungkap Reza.

Kemungkinan laju harga obligasi akan bergerak dengan rentang ±50 hingga 85 bps. Untuk itu, tetap cermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada. (angga)

Berita Terkait

Komentar

Komentar