Laju Pasar Obligasi Pekan ini Masih Terkonsolidasi

pasar-obligasi-di-indonesia

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, laju pasar obligasi di pekan kemarin masih menunjukkan adanya penguatan meskipun sempat dikhawatirkan adanya sejumlah sentimen negatif dapat membuat pasar obligasi tertekan.

Akan tetapi, terlihat meskipun sejumlah sentimen negatif tersebut sempat mempengaruhi laju pasar obligasi secara harian namun, dalam dalam sepekan laju pasar obligasi mampu berada di zona hijaunya.

Sebut saja misalnya sentimen dari rilis pelemahan GDP Indonesia ke level terendahnya dalam lima tahun terakhir dimana sempat pula membuat laju Rupiah terdepresiasi namun, dapat diimbangi dengan sentimen kenaikan nilai cadangan devisa Indonesia untuk bulan Januari 2015 dan meredanya kekhawatiran akan masalah Grexit di Zona Euro.

Di sisi lain, tampaknya pelaku pasar juga merespon positif rencana Pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM ke depannya. “Terlihat pergerakan harga obligasi, khususnya harga obligasi Pemerintah mengalami kenaikan lebih rendah dari kenaikan harga di pekan sebelumnya namun, untuk obligasi tenor panjang mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari pekan sebelumnya. Mulai terbatas kenaikan tersebut diiringi dengan mulai adanya aksi jual pelaku pasar,” kata Reza, Senin (9/2/15).

Pergerakan yield tenor pendek dan menengah terlihat turun tipis, sementara tenor panjang turun lebih besar. Kelompok tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan rata-data yield -8,69 bps; tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan yield sekitar -2,92 bps; dan tenor panjang (8-30 tahun) turut mengalami penurunan yield sekitar -12,23 bps.

Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo ±5 tahun cenderung melemah tipis harganya hingga -5,62 bps. Sementara dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo ±10 tahun juga turun tipis harga hingga -10,72 bps.

Di pekan kemarin, Pemerintah Indonesia telah melaksanakan Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk seri Seri SPN03150504 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 4 Mei 2015; Seri SPN12160204 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 4 Februari 2016; Seri FR0069 (reopening) dengan tingkat kupon yang dimenangkan sebesar 7,88% dan jatuh tempo pada tanggal 15 April 2019; dan Seri FR0071 (reopening) dengan tingkat kupon yang dimenangkan sebesar 9,00% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Maret 2029 pada hari Selasa, tanggal 3 Februari 2015.

Total penawaran yang masuk sebesar Rp40,23 triliun dimana seri FR0071 memiliki penawaran yang masuk lebih tinggi sebesar Rp 17,21 triliun dengan nilai yang dimenangkan ialah sebesar Rp5,70 triliun.

Di sisi lain, untuk total keseluruhan penawaran yang dimenangkan hanya Rp 40,23 triliun. Total penawaran yang masuk lebih rendah dari total penawaran yang masuk sebelumnya sebesar Rp 54,79 triliun namun, dengan penyerapan yang lebih tinggi. Dari empat seri SBSN yang di tawarkan, Pemerintah menyerap seluruh seri tersebut meski jauh lebih rendah dari jumlah penawaran yang masuk. Pergerakan pasar obligasi yang masih menguat meski diiringi beberapa sentimen negatif membuat permintaan akan tingkat yield masih menurun karena telah terkompensasi dengan pergerakan harganya yang meningkat meski tipis. Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk setiap seri antara lain Seri SPN03150504 (5,75%); Seri SPN12160204 (6,24%); Seri FR0069 (6,76%), dan Seri FR0071 (7,00%).

Dari sisi bid to cover ratio memperlihatkan bahwa angka yang paling besar rasionya senilai 6,82x pada seri Seri SPN03150504 sehingga memberikan gambaran bahwa banyak pelaku pasar yang masih lebih memilih lelang obligasi jangka pendek untuk ditransaksikan karena lebih likuid dan berdurasi lebih pendek. Seri SPN12160107 memiliki jatuh tempo yang lebih cepat / pendek dibandingkan dengan jatuh tempo suku bunga SUN lainnya.

“Tidak jauh berbeda dengan yang kami sampaikan sebelumnya dimana laju pasar obligasi di pekan ini masih akan cenderung mengalami konsolidasi dengan memfaktorkan sentiment-sentimen yang ada,” ungkap Reza.

Imbas dari kurang baiknya rilis GDP Indonesia dan aksi wait and see pelaku pasar pasca melihat belum adanya hasil positif dari kunjungan PM Yunani ke sejumlah negara-negara kreditur dapat mempengaruhi laju Euro yang akan berimbas pada laju Rupiah. Dengan demikian, jikapun ada pembalikan arah melemah maka kami harapkan tidak akan terlalu dalam pelemahannya. Kemungkinan laju harga obligasi akan bergerak dengan rentang ±10 hingga 25 bps. Untuk itu, tetap cermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada. (angga)

Berita Terkait