Laju Rupiah Masih Melanjutkan Pergerakan Negatifnya

rupiah-melemah

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, adanya pemberitaan kemenangan Partai Oposisi Yunani dalam Pemilu di akhir pekan sebelumnya memberikan sentimen negatif pada laju Euro.

Pelaku pasar khawatir jika partai oposisi yang memenangi pemilu maka Yunani akan mengalami default/gagal bayar, keluar dari Zona Euro, dan berbagai persepsi lainnya. Tentu saja sentimen tersebut membuat laju Euro terus menunjukkan pelemahan dan dimanfaatkan US$ untuk menguat sehingga Rupiah pun terjungkal ke zona merah.

“Laju Rupiah sempat menguat seiring mulai meredanya tekanan Euro pasca Pemimpin partai oposisi (pemenang pemilu Yunani) mengatakan akan melakukan negosiasi penyelesaian utang Yunani dengan para kreditur tanpa membuat Yunani keluar dari Eurozone,” kata Reza, Senin (2/2/15).

Di sisi lain, apresiasi Rupiah juga turut ditopang kenaikan Yen dan Yuan. Yen menguat setelah Menteri Ekonomi Jepang mengatakan tidak ada waktu untuk membuat perencanaan untuk menggapai target inflasi 2%. Sementara Yuan menguat setelah PboC menguatkan reference rate pasca pelemahan Yuan.

Di lain hari, tidak jauh berbeda dengan laju IHSG, laju Rupiah turut tersengat sentiment dari pertemuan The Fed. Tampaknya sudah menjadi siklus dimana setiap berlangsungnya pertemuan The Fed maka laju Rupiah cenderung turun.

Pelaku pasar pun lebih memilih untuk mentransaksikan US$ dengan berharap akan adanya kepastian The Fed terhadap pengumuman suku bunganya. “Padahal kami belum melihat adanya indikasi adanya perubahan suku bunga The Fed dalam pertemuan kali ini dimana The Fed masih akan melakukan penilaian terhadap seberapa kuat perekonomian AS,” ungkap Reza.

Laju Rupiah masih melanjutkan pergerakan negatifnya setelah laju US$ kian bergerak naik pasca selesainya pertemuan The Fed. Turunnya Rupiah juga dibarengi dengan penurunan Won pasca memangkas suku bunga acuannya dan turunnya Yen seiring dengan pelemahan pada investasi saham+obligasi serta penjualan ritelnya. Dengan pelemahan tersebut dimanfaatkan bagi US$ untuk menguat. Rp 12.715-12.487 (kurs tengah BI). (angga)

Berita Terkait

Komentar

Komentar