Lancar Bertutur, Ragu Bertindak

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

PARA filsuf, para ahli sejarah dan para tukang dongeng pada umumnya sangat jagoan dalam bertutur kata. Kalimat-kalimat yang terbentuk sangat berstruktur baik dan benar dilihat dari kaidah tata bahasanya. Pendek kata, subyek, predikat dan obyeknya pasti benar. Pilihan katanya tepat bahkan indah penuh pesona. Tak salah mereka karena memang kebiasaannya di situ.

Para ahli masa depan, tukang menerawang kehidupan pada umumnya juga memiliki kemampuan yang sama. Para ahli yang seperti itu ketika dia diberi tanggungjawab untuk memikul tugas menjadi komandan lapangan yang banyak bersinggungan dengan hal-hal yang praktikel belum tentu punya nyali dan berkemampuan mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Gamang, galau, takut salah atau takut disalahkan campur aduk menyertainya. Akhirnya rumus yang dipakai adalah ntar sok. Apa mau dikata semua momen bagus lewat begitu saja. Manusia seperti itu memang tidak cocok menjadi kapten kesebelasan. Jadi manager tim juga nggak cocok-cocok amat. Cocoknya menjadi staf ahli atau staf khusus. Atau tadi menjadi filsuf atau juru dongeng.

Dalam kehidupan yang lagi semrawut, kotor, jorok, banyak tikus dan kecoaknya kalau mau dibenahi agar menjadi lebih rapi, tertib dan bersih memang diperlukan tindakan yang nyata dan tepat. Apalagi kalau kondisinya sudah gawat darurat. Tindakan tersebut tidak berwujud uraian kata-kata indah dan mempesona, tapi tindakan yang beruwjud nyata dan dapat dirasakan.

Jadi pemimpin di negeri ini butuh manusia yang cakap bertindak bukan hanya bisa bertutur kata saja. Pemimpin apa saja baik di pemerintahan maupun di lingkungan bisnis. Cakap mengambil keputusan sesuai dinamika lapangan dan sesuai harapan serta masalah yang perlu diselesaikan.

Mau mengganti stafnya tidak perlu nunggu keputusan KPK. Ganti saja cepat-cepat kalau memang secara instinktif apalagi sudah tahu bahwa stafnya bermasalah. sehingga mengganggu jalannya roda organisasi yang dipimpinnya. Ibaratnya kita harus ganti busi kalau secara instinktif kendaraan yang kita pakai suka ngadat dan kemudian kita ganti busi baru, pasti akan lancar lagi. Begitu saja kok repot.

Risk taker inilah ciri kepemimpinan yang kita harapkan. Negeri ini bukan negeri dongeng. Mau laki mau perempuan sama saja. Kalau dia lelaki, kita butuh laki-laki sejati, energik dan mampu menjadi kapten yang baik dan menjadi jenderal lapangan yang tegas dan bisa mengorganisir anggotanya untuk memenangkan pertandingan.

Menghasilkan prestasi yang gemilang dikandang sendiri dan dikandang lawan. Kalau toh harus perempuan paling tidak seperti sosok Margaret Thatcher, sosok singa betina yang tegas dalam mengambil keputusan penting dan strategis. Tidak lebay kalau mau menjadi pemimpin di negeri ini di masa depan.

Berwibawa dan kharismatik. Dan untuk menjadi seperti itu, tidak harus berkumis tebal, senyumnya hanya dikulum dan tidak original. Tahun 2014 dan seterusnya kita tidak perlu pemimpin yang hanya pandai berorasi tapi tidak pernah berprestasi dan meninggalkan legacy, kecuali hanya mampu berkorupsi, berkolusi merampok uang rakyat untuk kepentingannya sendiri, keluarga dan kelompoknya.

Santun dan sopan bertutur kata perlu kita lakukan. Namun konteksnya agar apa yang kita sampaikan tidak menimbulkan amarah dan kebencian. Hal yang demikian memang dibutuhkan dalam cara kita berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Tapi bagi para pemimpin, para decision maker yang diperlukan adalah kemampuannya mengambil keputusan dalam situasi apapun dalam keadaan normal atau tidak normal.

Jadi kita perlu nakoda yang mampu bertindak dan sanggup membawa kapalnya sampai ke pelabuhan tujuan dengan selamat dan para penumpangnya puas karena kepemimpinan dan seluruh crewnya memberikan pelayanan terbaiknya walau ombak dan badai menerpa.

Coba kita bayangkan kalau selama berlayar kita hanya dengerin pidato, terus-terusan mendengar dongeng kan bosan, padahal ombak dan badai sedang mengancam. Lebay amat kata penumpangnya yang belum sempat mabuk laut. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar