Layani Masyarakat, Pejabat Tak Punya Roh

Laporan: Redaksi

Prof Dr Frans Magnis Suseno

Prof Dr Frans Magnis Suseno

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Pergulatan hidup rakyat sekarang ini semakin berat. Peristiwa bunuh diri akibat rasa kecewa mudah terjadi. Ada apa dengan masyarakat Indonesia? Prof Dr Frans Magnis Suseno banyak mengungkapkan ketimpangan yang sangat kentara di sekitar kita. “Sebagai contoh konkret, pejabat kita tidak punya roh saat melayani masyarakat,” ungkap Romo-panggilan yang akrab Franz Magnis Suseno kepada TubasMedia.Com, di gedung DPR Senayan, baru – baru ini.

Menurut Franz, roh yang dimaksud yaitu rasa ikhlas dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat. Bisa lancar jika pelicinnya lancar juga. Semua orang sudah menjadi materialis. Semua diukur dengan materi, segalanya berkiblat pada uang.

“Uang menjadi Tuhan yang kedua bagi manusia. Ini membuat manusia kehilangan konsep hidup,” ungkap Frans.

Kegalauan dalam hidup bermasyarakat juga dirasakan Romo. Terkadang, kata Romo manusia saat baru berhasil sudah bertepuk dada. Hal itu menjadi pemacu dua hal. Pertama, menimbulkan kesombongan. Ini sangat menjadi energi negatif yang muncul. Rasa bangga berlebihan memacu diri menjadi meremehkan manusia lain.

“Jika ini berlarut akan membuat efek persahabatan yang terabaikan,” kata pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Kedua, kekhawatiran lain muncul anggapan hanya saya yang benar. “Egoisme bisa memunculkan peristiwa yang tidak diduga. Kerusuhan dan letupan konflik adalah akibat dari ini semuanya.” ungkapnya

Romo Magnis merasa prihatin dengan keberadaan ormas-ormas yang sering bertindak anarkis. Bagaimana akan simpatik kepada ormas-ormas yang selalu bertindak terror di masyarakat. Apa pun tujuannya jika sudah diramu dengan terror apalagi tingkah laku anarkis maka sia-sia tujuan akhirnya. “Semua Nol Besar jika yang dikedepankan terror, maka rasa ketakutan masyarakat yang muncul,” ujarnya

Menurut pria berambut perak ini keberadaan ormas harus sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Seperti diketahui belum lama ini terjadi satu peristiwa penyerbuan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (SPAD) Gatot Subroto Jakarta . “Saya yakin masyarakat semakin takut dengan kejadian ini. Masalah debt collector yang sering arogan dan banyak lagi kasus-kasus kekerasan lain yang erat bersinggungan dengan masyarakat bawah,” ungkap pria ramah ini.

Kekerasan yang cenderung dibiarkan oleh aparat kemanan membuat warga merasa hak perlindungan sebagai warga negara diabaikan. Malahan sering masyarakat yang menjadi korban kekerasan jadi trauma. Hal ini sangat merusak kehidupan normal manusia. Kasus John Key menjadi bagian dari contohnya. “Rasa keberpihakan pada warga negara ketika salah satu terbunuh karena persoalan selesai dengan hukum alam, siapa kuat dia menang” kata Romo.

Sikap keakuan ini, tambah Romo menjadi motor penggerak seseorang merasa superhero. Ditambah dengan penerapan solidaritas yang keliru saat berkumpul dengan sesama anggota, maka aroganisme menjadi bagian yang lekat dengan Ormas itu. Bukan tidak mungkin negeri ini menjadi bar-bar. Aturan tidak bisa ditegakkan secara benar. Pondasi ini menjadi acuan dasar sehingga warga masyarakat merasa aman dilindungi negara.

“Jika setiap permasalahan hanya bisa diselesaikan dengan terror, anarkis maka tidak ada lagi kepastian di negara ini,” tegas Romo.

Jadi, menurut Romo solusi yang tepat yakni melakukan approach action dari pemangku jabatan. Diharapkan dengan adanya pendekatan ini aparat kemananan bisa saja memberi pencerahan pada ormas untuk segera meninggalkan cara-cara arogan yang selama ini melekat kental. (rudi kosasih)

Berita Terkait

Komentar

Komentar