Lestarikan Kesenian Tradisional Garut

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

GARUT, (Tubas) – Berangkat dari kepedulian terhadap warisan nenek moyang dalam upaya awal menghadapi era ekonomi kreatif, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut menempuh langkah secara bertahap agar kesenian daerah tetap hidup. Antara lain, menginventarisasi kesenian tradisional kemudian diperbarui, dan didokumentasikan.

“Hal itu dilakukan selain untuk lebih dikenal oleh generasi muda, juga sebagai bahan untuk pembinaan dan pengembangannya,” kata Kabid Kebudayaan Disparbud Kabupaten Garut Drs. Asep Ajun.M.Si., kepada Tubas, baru-baru ini.

Menurut Asep, banyak seni-budaya tradisional di Kabupaten Garut yang harus dilestarikan. Seperti seni tradisional Cigawiran. Seni tradisional tersebut merupakan seni vokal yang mempunyai kekhususan yang berbeda dengan lagam tembang-tembang lainnya. Dan seni tradisonal ini diketegorikan sebagai salah satu jenis tembang Sunda yang mempergunakan lagam ala Cigawir.

Tembang sunda cigawiran ini dikembangkan sekitar tahun 1823 oleh seorang tokoh, yaitu Rd. H. Jalari (1823-1902) dan dilanjutkan oleh Rd. H. Abdullah Uswman (1902-1945), Rd. Muhammad Isya (1945-1980), dan saat ini memasuki periode keempat yang tokohnya adalah Rd. Agusa Gaos, Rd. Muhammad Amin, dan Rd. Iyet Dimyati. (sighar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar