Local Currency Settlement (LCS) dalam Berbagai Sudut Pandang

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, dari situs resmi Bank Indonesia 6 September 2021 ada penjelasan bahwa kerjasama LCS  Indonesia-China meliputi penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung (direct quotation), dan relaksasi regulasi tertentu dalam transaksi valas antara Rupiah dan Yuan.

Ini model perikatan bilateral antar dua negara mitra dagang untuk pembayaran internasional. Bukan hal baru bagi Indonesia karena sebelumnya telah di lakukan dengan Jepang, Malaysia dan Thailand.

KEDUA, LCS bisa dipandang sebagai kebijakan yang bersifat “special treatment” karena diluar itu ada sistem yang berlaku umum dimana dalam transaksi internasional,kita masih tetap bisa vmenggunakan USD, Euro, Poundsterling, Yen sebagai mata uang yang kuat di dunia. Tapi memang sebagian besar menggunakan USD, dimana sekitar 70% dipakai untuk pembayaran internasional.

Jika selama ini dalam satu transaksi dengan China menggunakan USD, berarti Indonesia harus membayar lebih mahal dilihat dari nilai kurs, maka dengan LCS yang menggunakan direct qoutation  nilai pembayaran internasional yang harus dibayar menjadi lebih murah. Kurs rupiah terhadap USD saat ini Rp 14.357,sedangkan kurs rupiah terhadap Yuan Rp 2.207.

KETIGA, pintu- pintu kecil itu sudah dibuka dan ber-besanan antara China dan Indonesia telah memasuki tahap menata kerjasama by design antara dua negara mitra dagang strategis. Lanskap BELT&ROAD  6 koridor ekonomi di Asia Tengah, Asia Barat, Asia Selatan, dan Indo China telah digerakkan mesin-mesin pembangunan – investasi , dan perdagangan internasional di kawasan itu.

Penulis senang menyebutnya sebagai The Giant Project of GDP. via jalur sutera. Project ini adalah cara China menggelembungkan aset dan kekayaan nasionalnya dengan pendekatan total football, bergerak secara vertikal, horizontal dan diagonal and full funded.

KEEMPAT, dalam kelaziman kerjasama ekonomi, China yang telah tumbuh sebagai kekuatan ekonomi global yang kokoh dan kuat berpijak pada 4 pilar utama, yakni pertanian, industri, ilmu pengetahuan dan teknologi serta militer.

Dalam buku Naisbit yang berjudul China’s’Megatrends ada satu ungkapan bahwa dalam perekonomian global China bersifat terbuka. Jargonnya adalah China di Dunia dan Dunia di China.

Ini prinsip keseimbangan yang menjadi semacam pakem politik luar negeri China dalam membangun kemitraan strategis dengan negara manapun di dunia. Dengan Indonesia terakhir dikembangkan dengan model kerjasama LCS. Kita tahu bahwa China dengan kemajuan yang dahsyad di bidang IPTEK, kini memiliki lebih banyak skses terhadap informasi dibandingkan sebelumnya.

Produk dan layanannya ada dimana-mana. Kredit, investasi portofolio, dan investasi langsung China ada dimana-mana . Poros Indonesia-China (INDO -CHINA) bukan satu rahasia buat siapapun di dunia. Sudah barang tentu banyak agenda yang telah, sedang dan akan dikembangkan oleh dua negara. Tentu selalu juga ada hidden agenda baik dilihat dari kepentingan Indonesia maupun China.

KELIMA, Indo-China harus dibangun dengan sepirit garuda di dadaku menghadapi  panda kung fu. Di arena  Badminton kekuatannya masih berimbang. China sering mengatakan bahwa kekuatan pasangan ganda Indonesia adalah tim yang kuat di dunia dan sulit dikalahkan.

Dalam ekonomi mestinya juga harus ditegakkan prinsip keseimbangan dalam kerjasama, meskipun tidak mudah. Indo-China adalah negara besar dengan penduduk besar. Bedanya dalam perputaran ekonominya. Indonesia belum naik kelas dari negara berkembang menjadi negara maju.

Sedangkan China sudah berada di singgasana sebagai negara maju. Kerjasama bilateralnya adalah berbisnis GDP yang nilainya seperti bumi dan langit. Masyarakat Indonesia hanya punya satu harapan ,yakni jangan bisnis “kedaulatan” .

Harapan itu wajar karena doktrin hegemoni politik dan ekonomi yang dilakukan oleh negara adidaya selalu cenderung bersifat Intervention. Dalam pikiran halusinatif yang muncul dalam pikiran penulis bahwa GDP China secara kumulatif akan membengkak setelah asetnya tumbuh subur terkapitalisasi di wilayah BELT&ROAD, di RECP dan Asia Pasifik keseluruhan, di Afrika dan dunia.

KEENAM, ekonomi Indonesia berarti akan dibangun sebagian dengan Yuan dan sebagian dengan Rupiah. Kurs rupiah terhadap Yuan saat ini adalah Rp 2.207.Kurs ini akan berada dalam sistem ekonomi pasar berarti tergantung dari permintaan dan penawaran.

Kecenderungan ke depan kurs tersebut nilai tukarnya pasti akan naik dipihak Yuan. Akan terjaga keseimbangannya jika Indonesia mampu mengekspor lebih banyak ke China atau ber- investasi lebih banyak di China atau di Koridor Belt&Road sehingga Neraca Pembayaran Indonesia akan aman.

KETUJUH,pada tahap awal sejak kick off 6 September 2021,dalam business practice skema LCS belum akan terjadi gelembung karena banyak  transaksi internasional masih menggunakan USD atau valas lain.

Ke depannyapun rasanya juga belum akan terjadi perubahan signifikan dalam sistem pembayaran  internasional dalam kerjasama ekonomi Indonesia dengan AS, UE, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Timur Tengah dan dengan negara-negara di kawasan ASEAN.

Dan dapat dipastikan Indonesia tetap akan membangun hubungan baik dengan mitra strategis nya di dunia untuk bisnis GDP. Kata kuncinya adalah Indonesia harus mempunyai posisi tawar yang kuat. dalam melakukan kerjasama ekonomi dengan China dan juga dengan negara lain.

Pandangan pribadi penulis selama masa inkubasi dsn masa transisi , posisi nilai tukar rupiah harus terjaga dengan aman dengan mata uang kuat di dunia saat ini. China besar, tapi bukan satu-satunya mitra strategis Indonesia . Tegakkan politik luar negeri bebas aktif,dan jaga kedaulatan Indonesia. Indonesia tetap butuh USD, Euro, Yen, Poundsterling, dan lain – lain dalam era kapanpun. Indonesia kaya tapi belum maksimal mengelola kekayaannya.

Cadangan devisa kita baru sekitar 13% to GDP, Tax ratio to GDP sekitar 9%, ekepor to GDB baru sekitar 25% , impornya di sekitar angka ratio ekspor, investasi sekitar 30% to GDP, konsumsi rumah tangga sekitar 56% to GDP, dan utang luar negeri Indonesia sekitar 41% to GDP.  Utang luar negeri Indonesia dari gambaran itu belum bisa dibayar dari devisa  hasil ekspor, apalagi dari pajak. Salam sehat. (penulis pemerhati ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar