Luhut: Kita Masih Harus Menghadapi Ancaman Radikalisme dari Dalam Negeri

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Tantangan terbesar yang kita hadapi adalah yang berasal dari dalam negeri, bukan luar negeri. Saya pribadi melihat pentingnya mengubah sifat-sifat kita sendiri menjadi lebih disiplin dan efisien.

‘’Jangan lupa, kita sendiri masih harus menghadapi ancaman radikalisme dari dalam negeri,’’ tulis Luhut Binsar Panjaitan dalam FB-nya.

Tulisan ini ditulis Luhut seiring dengan dilantiknya dia menjadi Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi 23 Oktober 2019.

Tentu, lanjut Luhut,  tidak bisa dihindari juga adanya ketidakpastian ekonomi dunia, trade war, Braxit, situasi di Eropa, Timur Tengah, tensi hubungan antara Jepang dengan China, dengan Korea Selatan, maupun kondisi di Latin Amerika.

Melihat banyaknya tantangan di depan mata, maka dengan segala kerendahan hati, kata Luhut, dia lebih dulu meminta maaf jika mungkin akan ada yang tersinggung dengan tempo kerja kami yang cepat sekali, yang kadang-kadang ada menyinggung sana-sini. Tentu tidak ada maksud untuk itu, tapi hanya semata-mata untuk kepentingan nasional saja.

Tidak ada cara lain selain kerja cepat, karena kita semua sebetulnya sedang berpacu dengan waktu. Apalagi dalam menghadapi krisis global sekarang ini diperlukan tidak hanya kecepatan, tetapi juga ketepatan dan keberanian membuat keputusan.

Per tanggal 23 Oktober 2019, tambah Luhut, dia dilantik sebagai Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi oleh Presiden Joko Widodo. Secara total, sudah empat kali saya menjalani proses pindah jabatan selama pemerintahan Pak Jokowi. Meskipun demikian ada satu hal yang terus terulang: saya selalu diberitahu mendadak.

Jika diperhatikan, saya adalah yang paling terakhir dipanggil Presiden pada tanggal 22 Oktober lalu. Saya baru tiba di pelataran Istana Merdeka jam tujuh malam kurang beberapa menit. Itu karena jam 6 lewat saya baru ditelepon protokol istana yang dengan singkat mengatakan, “Bapak ditunggu Presiden!”

Sebelum jam 6 sore itu memang saya sudah sempat mengetik pesan WA kepada sekretaris pribadi saya untuk membereskan semua barang dari kantor. Tepat sebelum saya memencet tombol untuk mengirim pesan, Mensesneg Pak Pratikno menelpon saya. “Pak Luhut besok datang dilantik,” ujar Beliau. ”Saya dilantik apa?” tanya saya. “Lho kan Pak Luhut tetap jadi Menko Maritim,” jawabnya. “Kok saya nggak diberitahu?” kembali saya bertanya. “Pak Luhut kan enggak perlu diberitahu, kan sudah terpatri,” pungkasnya di akhir pembicaraan kami sebelum saya memutuskan untuk mandi.

Akhirnya sesi interview dengan Presiden berlangsung. Kami pun berbincang mengenai banyak topik termasuk hal-hal di luar penugasan saya. Saya tidak lagi bertanya tentang panggilan yang mendadak ini karena saya sudah tahu jawaban Beliau.

“Pak Luhut sudah tahulah itu,” pasti begitulah jawaban Pak Jokowi sama saat melantik saya pertama kali menjadi Kepala Staf Presiden 2015 silam. Jawaban yang sama juga terulang saat pelantikan saya yang kedua menjadi Menko Polhukam, dan terus begitu di pelantikan ketiga saya menjadi Menko Maritim.

Di luar obrolan kami yang agak ke sana ke mari, ada satu hal yang menjadi penekanan dan fokus Beliau kepada saya, yaitu mengingatkan bahwa semua program harus berjalan.

Target dan Tantangan

Sesuai arahan dan perintah Presiden tersebut, maka target saya sebagai Menko adalah untuk membantu memasukkan investasi sebanyak mungkin ke Indonesia.

Dana dari luar negeri tersebut akan masuk ke bidang-bidang hilirisasi, penghematan energi, kemudian untuk pembangunan berbagai industri strategis seperti petrochemical, refinery (pengolahan/penyulingan/kilang),  program B20-B30, pengurangan impor di sektor energi, serta efisiensi di semua lembaga-lembaga di bawah koordinasi saya yang tentu akan dilaksanakan setelah berkoordinasi dengan menteri-menteri terkait yang sekarang jumlahnya berkembang.

 

 

Kenapa Investasi?

Mungkin ada yang bertanya kenapa investasi ditambahkan ke dalam salah satu portofolio saya? Saya hanya bisa menjawabnya sebagai mystery of life. Karena selama ini saya diberi kesempatan oleh Presiden Jokowi untuk menangani investasi dan saya bisa mengawinkan kemauan beberapa investor besar dunia dengan kebutuhan dan potensi kita.

Di tengah gejolak ekonomi dunia, saya masih bisa dipertemukan dengan investor yang memiliki kemampuan funding mencapai miliaran bahkan triliunan USD.

“Mereka berasal dari Abu Dhabi, Tiongkok, Amerika, Singapura, dan bahkan perorangan seperti Masayoshi Son dengan SoftBank-nya,’’ tulis Luhut.

Dekatnya hubungan para investor dengan Pak Jokowi dan kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan di Indonesia saat ini memudahkan pekerjaan saya selaku eksekutor Presiden.

Contohnya, baru kemarin saya berkomunikasi per telepon dengan Masayoshi Son yang mengundang saya makan bersama di rumah pribadinya di Tokyo. Kesempatan seperti ini dapat memberikan 3 atau 4 jam untuk kami membicarakan skenario besar investasi di Indonesia.

Ucapan Terimakasih

Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada Presiden Joko Widodo yang telah begitu mempercayai saya sampai saat ini dengan memperluas portofolio Menko Maritim dan Investasi.

Saya betul-betul berharap bahwa nantinya Beliau akan mendapat manfaat yang utuh dari kepercayaan yang diberikan kepada saya. Saya juga ingin mendedikasikan pekerjaan saya demi kepentingan nasional, utamanya untuk para generasi muda Indonesia yang sekarang berumur 20-an tahun yang tentu akan bisa menikmati hasil pekerjaan kami dalam 10 atau 20 tahun ke depan.

Secara khusus saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga saya, terutama istri yang selalu setia mendampingi dan mendukung saya. Saya tahu bahwa sejak dulu sampai sekarang, dialah yang paling banyak berkorban karena tugas-tugas saya. Maka dari itu saya berkomitmen untuk mengatur waktu, supaya kami berdua tetap bisa menikmati masa tua bersama.

Terimakasih juga untuk bisikannya di hari pelantikan kemarin. Katanya, “Pa, 5 tahun lagi lho. Kamu itu sudah 72 dan bakal jadi 77, nggak muda lagi.”

Saya akan terus mengingat itu, dan selalu menjaga kesehatan, menjaga hati tetap senang, olah raga senang, berpikir positif, tidak berpikiran jahat pada orang, dan tidak dendam pada orang yang berseberangan pendapat. Meski mungkin saya tidak akan jadi sehebat Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad yang tetap segar bugar untuk ukuran seorang senior yang berusia 94 tahun.  (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar