Madu dan Racun

Oleh: Fauzi Azis

Fauzi Azis

Fauzi Azis

MADU di tangan kananku, racun di tangan kiriku. Inilah sebuah tembang dendang ria yang pernah hit di republik ini pada masanya. Madu itu bisa bikin badan sehat. Racun bisa membuat orang tidak sehat bahkan kalau termasuk yang berkategori berbahaya, bisa menjadi pembunuh. Dalam konteks kehidupan seseorang unsur “madu dan racun” bisa saja berhinggap mewarnai suasana kehidupan seseorang datang dan pergi sepanjang waktu hidupnya.

Kebahagiaan, hidup serba berkecukupan, sehat jasmani dan rohani adalah elemen-elemen kehidupan yang selalu menjadi cita-cita dan pengharapan kita semua dalam mengarungi samudera luas kehidupan manusia di dunia. Pada sisi yang berbeda, setiap orang juga memiliki sense untuk menghindari gaya hidup yang bisa merusak tatanan hidup yang dilaluinya. Pendek kata ingin terbebas dari segala bentuk tindakan yang dapat merugikan dirinya dan keluarganya.

Bebas dari perilaku mencuri, menyakiti hati orang lain dan lain-lain. Mereka sadar karena perilaku yang seperti itu, pada dasarnya adalah racun kehidupan. Semua kita berusaha untuk menjauhinya dan pastinya yang akan selalu kita kejar adalah manisnya madu kehidupan. Madu kehidupan hanya akan dapat kita peroleh kalau kita berkarya dan mencari rezeki dengan cara yang halal. Dengan rezeki halal yang kita dapatkan, manisnya madu kehidupan niscaya juga akan dapat kita raih yang bentuknya tidak selalu berwujud (tangible) seperti punya rumah, kendaraan dan kekayaan fisik lainnya.

Madu kehidupan dalam bentuknya yang lain dapat berupa benda tak berwujud (intangible), seperti ketenangan hidup, kedamaian hidup, selalu ingin berbagi dalam keadaan suka dan duka, kebersahajaan dan rasa saling menghormati sesama. Manisnya madu kehidupan mencerminkan bahwa kalau harta dan tahta diperoleh dengan cara yang benar dan halal, maka menggunakannya juga dilakukan dengan penuh pertimbangan matang dan biasanya nilai dan manfaat yang akan diambil adalah yang selalu bermanfaat bagi semua orang.

Sementara itu, hidup seseorang yang bergelimang dengan racun kehidupan seperti mencuri, korupsi dan tindakannya suka menyakiti dan merugikan orang lain, maka kalau toh dia dapatkan madu kehidupan yang bernilai kebendaan, maka sejatinya apa diperolehnya tidak menghasilkan nilai keberkahan, tapi bisa berupa kemudharatan. Hal-hal yang bersifat intangible pun kalau sempat diperolehnya hanya bersifat sementara dan tidak akan abadi.

Racun ya racun bagaimana pun kita gunakan, sifat aslinya tidak akan berubah, yaitu tetap bersifat destruktif dan mematikan. Karena itu, harus kita musnahkan racun kehidupan dari sisi kehidupan kita agar kita tidak terperosok dalam lembah kenistaan dan tidak menghasilkan nilai guna apapun kecuali kerusakan demi kerusakan yang akan menyelimuti hidup kita.

Hari ini dan hari esok untuk menjadikan hidup kita menjadi kehidupan yang lebih baik dan mulia adalah madu kehidupan. Pendidikan tanpa henti yang kita berikan kepada anak cucu adalah yang memberikan nilai agar jati diri dan kepribadian yang terbentuk adalah membentuk pribadi yang insan kamil. Kecerdasan intelektual dan spiritual yang dikuasainya juga harus dapat didedikasikan kepada tindakan yang bernilai kemanfaatan dan keberkahan bagi semua orang, alam dan lingkungannya.

Jangan pernah berobsesi dan bermimpi untuk mem-blending antara madu kehidupan dengan racun kehidupan agar menghasilkan taste tertentu. Madu dan racun memiliki ciri pembeda yang secara diametral 100% mengandung sifat yang berbeda, yaitu yang satu berfungsi sebagai energi positif dan yang satunya sebagai energi negatif yang bersifat merusak dan mematikan. Kalau eksperimen itu mau dikerjakan, maka sama saja kehidupan kita ini secara sadar mengharapkan manisnya madu kehidupan dapat hidup berdampingan secara damai dengan pahitnya racun kehidupan.

Sama saja kita ingin mengatakan bahwa yang halal oke, yang tidak halal boleh jalan terus, dengan win-win solution. Jika terjadi hal yang demikian, maka hidup kita menjadi seperti bunglon. Akal sehat kita, naluri dan kepribadian kita dengan sadar kita pasung sendiri, kita belenggu dengan sangat kuat agar kita tetap bisa berselancar kehidupan yang sarat berisi racun kehidupan. Hari depan kita seperti apa kita tidak tahu.

Yang pasti waktunya sudah sangat terukur bagi masing-masing orang untuk bisa tetap tinggal di dunia. Sikap kita yang paling benar adalah mengisi sisa waktu yang ada ini dengan berkarya dengan jujur dan tulus. Nilai tambah yang akan kita raih adalah makna hakiki manisnya madu kehidupan untuk hari ini, hari esok dan di hari akhir nanti. Itulah nilai moralitas yang harus kita bangun dan ditumbuh kembangkan dan menjadi way of life kita semua, menjadi falsafah dan pandangan hidup kita bersama dalam dimensi kehidupan apapun.

Selanjutnya secara konsisten kita jalankan dalam kehidupan kita masing-masing. Semangat yang harus kita bangun dalam era kehidupan yang taglinenya megelola manisnya madu kehidupan adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan sebaliknya. Kalau ini acuannya, maka elemen keteladan menjadi mengedepan dan lebih bermakna untuk memproduksi gaya hidup yang membuahkan nilai manisnya madu kehidupan dan tidak berlomba-lomba dalam memproduksi produk yang meracuni kehidupan.

Pisahkan dengan tegas antara madu dan racun. Racun tetap racun, madu tetap madu, yang satu merusak yang satunya lagi menyehatkan. Pilih dan gunakan madu dan buang jauh-jauh racun dalam kehidupan kita bersama. Semoga negeri ini akan lebih banyak menghasilkan madu yang membuat manisnya kehidupan. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar