Manusia dan Masyarakat

Oleh : Tris

–Disarikan dari Dwija Wara Juni 1957

ilustrasi

ilustrasi

DALAM rangka menyusun masyarakat yang baik, para ahli ilmu pengetahuan sejak dahulu berusaha mengembangkan bermacam-macam teori dalam ilmu tata negara, hukum, ekonomi, sosiologi dan sebagainya. Teori-teori itu dikumpulkan, disusun, diujicobakan mana yang paling cocok untuk membangun suatu masyarakat yang ideal. Dapatkah teori-teori itu digunakan sebagai landasan di masyarakat seperti hitam di atas putih? Semua teori dapat digunakan tergantung dari manusianya. Jadi, dalam membangun masyarat yang terpenting adalah manusianya. Sedangkan susunan masyarakat menjadi obyek yang kedua.

Oleh karena itu, ada baiknya sifat-sifat manusia menjadi dasar persoalan dalam ilmu-ilmu filsafat, baik yang dihubungkan dengan ilmu hukum, maupun sosiologi dan lain sebagainya. Diantara beberapa sosiolog terkemuka dahulu menyatakan bahwa membangun masyarakat dibutuhkan beberapa persyaratan yang penting.

Syarat-syarat itu adalah sifat-sifat manusia yang sangat mutlak bagi mereka yang menjadi pemimpin, apakah sebagai pemimpin negara, badan-badan pemerintahan, partai politik, perusahaan dan sebagainya, yaitu para manusia yang memegang peranan penting dalam berlangsungnya masyarakat. Akan tetapi pada dasarnya sifat-sifat itu juga perlu bagi manusia pada umumnya. Oleh karena setiap manusia mempunyai kesempatan untuk menjadi pemimpin di lingkungannya. Syarat yang terpenting adalah rasa pengabdian atau kebaktian pada masyarakat.

Pengabdian atau kebaktian pada masyarakat adalah suatu kebaktian nyata, yaitu mendahulukan atau mengutamakan kepentingan masyarakat. Hal ini bukan berarti mengenyampingkan atau meninggalkan kepentingan diri sendiri. Oleh karena sebagai manusia secara kodrat tidak mungkin menyingkirkan kepentingan diri sendiri. Seperti sudah diketahui bahwa manusia pada dasarnya mempunyai 2 sifat, yaitu sifat individu dan sosial. Sebagai individu setiap orang mempunyai kemauan, pikiran dan tindakan sendiri-sendiri. Adapun menurut sifat sosialnya harus hidup bersama dalam masyarakat.

Dalam hidup bermasyarakat, manusia harus memiliki dasar lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan diri sendiri, berarti dalam mengejar kepentingan diri sendiri jangan sampai merugikan kepentingan masyarakat. Kebutuhan masyarakat sebenarnya adalah saling membantu dan saling percaya. Hal ini harus dijaga oleh setiap anggota masyarakat, jangan sampai terjadi hubungan saling memusuhi atau saling membenci. Oleh karena pengabdian kepada masyarakat tidak mungkin terjadi apabila ada sifat negatif itu. Syarat agar pengabdian kepada masyarakat menjadi baik adalah:

Kejujuran (faktor subyektif)
Keahlian (faktor obyektif)

Kejujuran

Kejujuran adalah menetapi janji atau kesanggupan yang telah diucapkan atau yang masih ada di dalam hati. Kejujuran adalah faktor subyektif yang sangat dibutuhkan dalam membangun masyarakat yang baik. Jika ini tidak dipenuhi, maka obyektivitasnya tidak akan tercapai. Semua ucapan yang muluk-muluk tanpa ada perbuatan nyata, tidak ada gunanya dan hanya merupakan sandiwara saja. Kejujuran adalah dasar dari segala kebaikan dan kejujuran adalah ilmu dari kebaikan. Oleh karena itu, dalam segala perbuatan hendaknya setiap individu jangan sampai melalaikan kejujuran, baik dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara maupun dalam mengejar kepentingan diri sendiri.

Keahlian

Di samping faktor yang subyektif itu, harus ada faktor yang obyektif yaitu keahlian. Oleh karena walaupun sudah memiliki kejujuran tetapi tidak memiliki keahlian/kecakapan, disaat menghadapi kesulitan-kesulitan akan timbul masalah yang tidak diharapkan. Misalkan: Seorang manajer yang jujur, harus dapat mengatur produksi, karena tidak memiliki kecakapan produksi pun merosot. Pada intinya, dalam hal apa saja dalam kehidupan bermasyarakat yang baik diperlukan kejujuran dan keahlian. Contohnya apabila seorang Pemimpin yang harus mengatur rakyat menuju negara yang adil, makmur dan sejahtera tidak memiliki kejujuran dan keahlian akan membawa kerugian negara yang dipimpinnya.

Keahlian seseorang diperoleh dari pengetahuan dan pengalaman dari bidang yang ditekuninya. Sebab pengetahuan adalah petunjuk yang benar untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Di samping pengetahuan masih juga diperlukan syarat lain, yaitu kemauan yang keras untuk mencapai cita-cita yang benar. Kemauan yang keras ini berhubungan dengan keberanian dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan.

Jangan salah artikan kesabaran sebagai berdiam diri tidak berbuat apa-apa, hanya menunggu dan akan mendapatkan hasil. Bukan, tetapi ketabahan dan ketenangan menghadapi persoalan sukar dan tidak lekas marah ketika menemui kesalahan bawahan atau orang lain. Oleh karena perlu diwaspadai orang yang lekas marah akan menimbulkan lekas putus asa. Kesabaran yang dimaksud adalah tetap bersemangat, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan tanpa perhitungan. Bukankan seorang Pemimpin dalam masyarakat harus dapat memberi semangat dan kegembiraan kepada masyaratnya?

Semoga semua pemimpin di negeri tercinta ini, selalu berusaha menjadi manusia yang memiliki kejujuran dan kecakapan/keahlian, sehingga tersusunlah masyarakat yang baik dan menuju negara yang adil, makmur dan sejahtera. Amin. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar