MARZUKI USMAN: Harus Ada Sistem Cegah Kebakaran Hutan

Laporan : Redaksi

ilustrasi

ilustrasi

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Bencana asap tebal di wilayah Sumatera, terutama di Provinsi Riau, menyebabkan polemik, dan menimbulkan protes dari negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Soal asal tebal itu hampir setiap tahun terjadi, karena pembakaran lahan untuk lahan perkebunan atau keperluan lain.

Mantan Menteri Kehutanan Drs Marzuki Usman, belum lama ini, mengatakan kepada TubasMedia.Com, munculnya masalah asap, karena kita tidak pernah belajar menyiasati apa yang pernah terjadi. Kemudian tidak ada sistem menghadapi bencana asap. Padahal, hampir setiap tahun kita menghadapi bencana asap.

Marzuki mengatakan, kita tidak pernah menyiasati bagaimana Australia mencegah dan memecahkan kebakaran hutan, atau Amerika Serikat menghadapi kebakaran di Colorado, misalnya. Ia mengakui, ketika menjadi Menteri Kehutanan, ia mengingatkan para pemilik kebun atau lahan di daerah Sumatera supaya memiliki menara pengawas, memiliki waduk persediaan air untuk memadamkan kebakaran.

“Harus ada sistem untuk mencegah dan memonitor kebakaran hutan. Masak sudah berpuluh tahun kita belum bisa juga mencegah atau menyelesaikan masalah kebakaran hutan? Bencana asap bukan hanya mengganggu tegara tetangga, tetapi juga mengganggu di dalam negeri sendiri,” kata Marzuki Usman, Menhut pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Marzuki juga mengingatkan negara-negara tetangga kita bahwa sebenarnya pun mereka mendapat pasokan oksigen dari Indonesia. “Jadi, mereka juga harus diingatkan jangan hanya suka memprotes. Mereka juga mendapat oksigen dari kita,” katanya.

Dikemukakan, dalam era globalisasi kita masih cenderung mengutamakan hal-hal yang berciri seremonial. Kita harus beraksi, harus berbuat. “Sekarang bukan lagi saatnya mengutamakan seremoni, tapi harus bertindak. Buatlah sistem untuk menghadapi asap dan kebakaran. Jangan hanya mengatasi kebakaran, tapi berbuatlah untuk mencegah kebakaran lahan di Riau dan sekitarnya,” katanya.

Ia kembali mengingatkan, dulu, ketika menjabat sebagai Menteri Kehutanan, ia menginstruksikan agar setiap pemilik izin lahan membuat sistem untuk mencegah dan mengatasi kebakaran.

“Kalau ada perusahaan yang di lahannya terjadi kebakaran, maka semua izin harus dikembalikan kepada pemerintah. Sebab, perusahaan itu tidak mampu menjaga lahannya dari kebakaran,” katanya. Tapi, instruksi itu tidak pernah menjadi kenyataan karena tidak didukung oleh berbagai pihak yang berkepentingan.

Negara Agraris

Dikatakan, ini ironi yang menyedihkan. Seharusnya kita mengekspor komoditas hasil pertanian karena negara kita adalah negara agraris yang besar. Hal itu sering kita klaim di dunia internsional. Bahkan, kita pernah berhasil berswasembada beras yang dinyatakan oleh Badan Pangan PBB. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ternyata kita masih “mengekspor” asap yang mengganggu negara tetangga.

Pemerintah mengerahkan lebih dari 3.000 aparat keamanan untuk mengatasi asap di Riau. “Seyogianya aparat Kodim dan Kepolisian di daerah bersangkutan sudah cukup untuk mengatasinya. Sekali lagi, kalau sistem dan prosedur sudah ada dalam mencegah dan menghadapi masalah asap, tidak perlu terlalu heboh dan berlebihan, hanya membangun sistem yang tepat,” katanya.

Dalam menghadapi globalisasi, katanya, kita tidak bisa lagi hanya berkutat pada hal-hal yang seremonial. “Kalau kita tidak bertindak, maka kita akan habis tergulung oleh globalisasi. Sebentar lagi kita akan kedatangan, orang-orang yang berpikir dan bertindak global, sehingga kita menjadi penonton, tanpa mampu berpartisipasi, kalau masalah asap saja pun kita tidak bisa selesaikan,” katanya.

Marzuki Usman berharap para pemegang dan penentu kebijakan di negara ini tidak lagi terpola oleh mental seremonial, tapi lebih kepada bertindak untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Tahun depan (2014) kita akan disibukkan oleh pemilihan umum.

“Kita lupa bahwa dunia sudah mengamati gerak-gerik kita dan mencari momen untuk memasuki negara kita, sementara kita sendiri belum sempat mempersiapkan diri. Sekarang baru klaim asap, nanti di masa depan mereka akan menyerbu masuk ke wilayah kita di bidang perdagangan dan perekonomian, terutama kalau pemerintah dan masyarakat kita belum sempat mempersiapkan diri,” katanya. (apul)

Berita Terkait

Komentar

Komentar