Masker Hilang dari Pasar, Pembina Industri Harus Bergerak Cepat

Oleh:Sabar Hutasoit

 

MASKER dan alat pelindung diri (APD) di pasar dalam negeri sulit dicari. Kalaupun ada, harga masker meroket bagaikan meteor, maka tidak heran, warga Indonesia bingung sebab di satu sisi pemerintah mengaturkan agar seluruh warganegara wajib pakai masker tapi maskernya sulit ditemukan alias tidak disediakan dalam jumlah yang memadai sesuai kebutuhan.

Beberapa warga ada yang berencana patungan untuk membeli masker dalam bentuk paketan yang harga-nya selangit, tapi lagi-lagi untuk mendapatkan masker yang harga selangit itu tidak segampang apa yang dibayangkan. Isitilahnya sekarang membeli masker ada yang inden, bisa seminggu atau dua minggu inden, barangnya baru nongol.

Kementerian Perindustrian selaku lembaga pembina sektor industri sudah perah menginstruksikan agar para produsen tekstil dan produk tekstil rame-rame mengalihkan kegiatan produksinya ke bidang poduksi yang kini sedang dibutuhkan seluruh warga yakni masker.

Jika instruksi itu secara cepat dilaksanakan dan semua yang berkompeten peduli, rasanya kesulitan untuk mendapatkan masker di dalam negeri tidak akan seperti sekarang ini.

Belum lagi kalau kita bicara dengan keberadaan serta kemampuan sektor industri kecil yang jumlahnya cukup banyak. Jika seluruh pelaku industri kecil di bidang industri tekstil diberdayakan memproduksi masker, penulis dan rakyat Indonesia yakin, kebutuhan akan masker sebagai dampak dari ganasnya semburan virus corona, akan terpenuhi dan harganya pun akan tetap standar.

Sebenanya menurut informasi yang dikeluarkan Dirjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, sejumlah pelaku IKM di dalam negeri sudah menyatakan siap memproduksi masker dan APD untuk ikut membantu pemerintah dalam upaya percepatan penangangan COVID-19.

Kesiapan Mereka Dimana

Tapi bukti kesiapan mereka sudah ada dimana. Jangan-jangan pernyataan kesiapan itu hanya isapan jempol sehingga perlu diperiksa hingga ke sentra-sentra produksi apakah mereka memproduksi atau tidak.

Dalam kaitan inilah rasanya para pembina industri kecil dibutuhkan untuk memberi perhatian yang lebih serius lagi mengawasi dan terus megerahkan para pelaku industri agar melakukan produksi secara maksimal.

Para IKM tersebut sesuai data berada antara lain  di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Masih sesuai data, kapasitas produksi masker dari masing-masing IKM tersebut juga tidak tanggung-tanggung mencapai angka 50 hingga 500 lembar per hari sementara untuk  APD, mereka sanggup membuat 20-250 buah per hari.

Dirjen IKMA diharap dapat  mendorong mereka untuk bisa memproduksi masker non-medis mengingat kebutuhan saat ini teramat tinggi dan persyaratannya yang tidak terlalu memberatkan sehingga pelaku IKM dinilai mampu memproduksinya.

Jika para pelaku IKM memanfaatkan keadaan ini secara positif  dalam arti tidak untuk meraih untung yang sangat besar, maka  musibah vius corona bisa menjadi solusi untuk mempertahankan bisnis IKM dalam negeri di tengah kondisi mewabahnya virus yang sangat merisaukan seluruh lapisan ini yang tentunya dengan memanfaatkan kain yang mereka miliki atau bermitra dengan penyedia tekstil. (penulis seorang wartawan tinggaldi Jakarta)

 

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar