Mayoritas Industri TPT Skala Besar Sudah Terapkan Sistem Industri 4.0

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Mayoritas industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional skala besar yang produknya untuk ekspor, sudah menerapkan sistem industri 4.0.

Hal itu dikatakan Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka,   Muhdori kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Sementara itu, industri TPT skala kecil menengah, diharapkan nantinya akan dapat mengadopsi sistem baru itu dari perusahaan pionir yang telah menggunakan sistem industri 4.0.

Dikatakan bahwa dengan telah diterapkannya, sistem industri 4.0, itu artinya, sektor industri TPT nasional sudah memasuki industri modern yang tidak kalah lagi dengan industri kelas dunia.

Selain itu kata Muhdori, industri TPT nasional memiliki keunikan tersendiri yang mana produk Indonesia diterima oleh seluruh konsumen di negara manapun.

‘’Garmen yang diproduksi Indonesia itu bisa diterima oleh buyer seluruh dunia,’’ terang Muhdori.

Ditambahkan oleh Muhdori bahwa perkembangan lain yang dialami industri TPT nasional adalah tentang desain. Desainer Indonesia tidak lagi harus menunggu pesanan dari buyer asing untuk kemudian didesain.

Akan tetapi, desain garmen yang dibuat desainer Indonesia, sekarang ini sudah langsung diterima oleh konsumen di luar negeri. ‘’Ini kemajuan yang sangat menggembirakan,’’ katanya.

Sementara itu, Menyeri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat mengunjungi PT. Mattel Indonesia mengatakan target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada tahun 2018 telah ditetapkan sebesar 5,6% atau lebih tinggi 0,2% dibanding target pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,4%.

Pada triwulan II tahun 2018 pertumbuhan industri pengolahan nonmigas mencapai 4,41%, mengalami peningkatan dibandingkan triwulan II tahun 2017 yang mencapai 3,93%.

Dalam upaya mencapai target pertumbuhan industri tersebut, pemerintah terus berupaya meningkatkan kinerja industri melalui berbagai paket kebijakan guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Salah satu diantaranya dengan melakukan deregulasi berbagai peraturan, perizinan dan birokrasi yang masih dirasa menghambat.

Upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif serta memudahkan para pelaku industri untuk berusaha di Indonesia.

Tercatat pada semester I tahun 2018 sektor industri memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan nilai investasi, dengan jumlah penanaman modal dari kelompok manufaktur mencapai Rp. 122 triliun melalui 10.049 proyek atau menyumbang 33,6% dari total nilai investasi sebesar Rp. 361,6 triliun.(sabar)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar