Media Online Sering tidak Akurat, Ini Kritik Jokowi

20160209142857744

LOMBOK TENGAH, (tubasmedia.com) – Presiden Joko Widodo minta pers nasional membangun optimisme, etos kerja dan produktivitas masyarakat Indonesia. Hal ini disampaikan Presiden pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Pantai Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (9/2).

Presiden hadir didampingi Ibu Negara Iriani Joko Widodo dan sejumlah menteri, seperti Menko PMK Puan Mahari, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Mekominfo Rudiantara, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kapolri, Panglima TNI. Juga hadir Ketua Dewan Pers Bagir Manan, petinggi sejumlah media massa, dan ratusan jurnalis dari seluruh provinsi.

Jokowi mengatakan, di era sekarang pers hadir sebagai fungsi kontrol sosial. Tiap saat masyarakat disuguhi berita yang beragam. Betapa mudahnya sebuah berita dan informasi di media, kadang status di sosial media pun bisa menjadi berita.

“Bagaimana pers dapat menggerakan optimisme publik, membangun etos kerja dan membangun produktivitas masyarakat. Bukan sebaliknya,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, ‎kalau dulu tekanan kepada pers itu datang dari pemerintah. Sekarang terbalik, pers yang menekan pemerintah.

Menurutnya, media mempengaruhi masyarakat menjadi pesimis dan banyak yang berkutat pada berita sensasional. Ia mencontohkan beberapa pemberitaan yang mempengaruhi persepsi masyarakat, misalnya berita dengan judul berita Indonesia diprediksi akan hancur, semua pesimis target pertumbuhan ekonomi tercapai, pemerintah gagal aksi teror tak habis sampai kiamat, kabut asap tidak teratasi, Riau terancam merdeka.

“‎Kalau judul seperti ini diteruskan dalam era kompetisi seperti sekarang, maka yang muncul adalah pesimisme. Yang muncul adalah etos kerja yang tidak terbangun, hal-hal yang tidak produktif,” kata Jokowi.

Padahal, kata Jokowi, sebagian dari pemberitaan itu hanyalah asumsi-asumsi, tapi sangat berpengaruh. Pembentukan karakter, mentalitas dan moralitas ada di tangan pers.

Menurutnya, pemberitaan seperti ini hanya akan menimbulkan ketidakpercayaan. Sementara di era kompetisi dan persaingan antarnegara seperti sekarang, yang dibutuhkan adalah membangun kepercayaan.

‎Arus modal, investasi, dan uang tidak akan mengalir ke Indonesia kalau hilang kepercayaan. Membangun kepercayaan inilah yang diharapkan dari pers.

Jokowi juga mengkritisi online media. Menurut Jokowi, karena mengutamakan kecepatan, kepatuhan pada kode etik jurnalistik pada pemberitaan di online media seringkali diabaikan.‎

Karena ingin cepat tayang, berita di online media kerap tidak akurat, tidak berimbang, campur aduk antara fakta dan opini. Bahkan kadang menghakimi orang lain.

‎Jokowi berharap pers lebih banyak menyampaikan pesan moral dan nasionalisme, seperti lagu-lagu kebangsaan. ‎Pers memang perlu berkompetisi apalagi di era sekarang, tetapi mestinya juga memberikan sebagian waktu dan tempat untuk hal-hal yang membangun optimisme.‎‎

“Harapan saya insan pers tetap berdaya bagi publik sebagai pilar keempat demokrasi yang menghadirkan informasi yang jujur, akurat dan selalu memberikan tempat terbaik bagi suara masyarakat,” katanya. (red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar