Melati Bunga Hati

Oleh: Ny. SM Darmastuti

Pangestu

Seorang sopir yang baik menurut saya adalah dia yang bisa membuat saya tertidur ketika mobil melaju. Beberapa kali saya mengalami bepergian dengan mobil menempuh jarak jauh, saya sulit tidur karena pengemudi mobil tidak begitu baik mengemudikannya. Akibatnya badan terasa capek dan tidak merasa segar ketika sampai di tujuan. Ketika anak saya baru saja bisa menyetir dan memperoleh SIM-nya, saya tidak bisa santai bila berkendaraan dengannya.

Logika saya bisa menerima bahwa sebenarnya anak saya, yang waktu itu baru menginjak SMA punya keterampilan motorik jauh lebih baik daripada bapaknya, dan cara dia menyetir mobil amat safe. Tetapi entah bagaimana saya selalu waswas meskipun saya duduk di jok belakang, sementara suami saya almarhum ada di jok depan di sebelah anaknya sambil sesekali memberi komando. Baru setahun kemudian, berangsur-angsur kepercayaan saya padanya mulai terbentuk. Masih dengan mobil yang sama, keterampilan yang sama dan co-pilot yang sama, saya merasakan hal yang lain. Ada rasa percaya dan saya bisa tertidur di mobil ketika pemandangan di kiri kanan mulai menjemukan.

Kepercayaan memang tidak bisa dibeli. Kepercayaan hanya bisa dibentuk dan diupayakan sendiri. Hidup kita di dunia saat ini bisa diibaratkan seperti seseorang yang sedang menempuh perjalananan dan suatu saat nanti mobil yang tumpangi akan berputar balik, membuat U-turn kembali menuju rumah. Namun, hati kita akan resah, perjalanan yang sebenarnya menyimpan sisi indah seperti pemandangan gunung dan sawah tidak lagi bisa kita nikmati karena perasaan kita dipenuhi rasa waswas.

Kita khawatir kalau-kalau sopir mobil tidak bisa menguasai kendaraan. Kita tidak lagi tahu di mana kita berada dan kapan sopir harus berputar balik. Tahu-tahu kita sudah berada di depan garasi rumah tanpa bisa bercerita banyak apa saja yang sudah kita lakukan selama di perjalanan tadi. Sebuah perjalanan yang sia-sia telah kita lakukan gara-gara kita tidak percaya kepada pengemudi.

Kalau saja kita mau menyadari bahwa sebenarnya Utusan Tuhan yang abadi adalah driver kita yang terbaik, tidak ada gunanya kita habiskan seluruh hidup keseharian kita dengan mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di perjalanan kehidupan kita. Perjalanan kita saat ini sudah ada pada jalur yang benar, dengan sopir yang handal yang akan mengantarkan kita pada rumah kita yang abadi.

Kepercayaan kepada Tuhan dan Utusannya memang harus ditumbuhkan setiap hari. Ada cara sederhana untuk menumbuhkan kepercayaan yaitu belajar menghitung dengan rasa syukur bahwa setiap harinya kita selalu dituntun dan dicukupi hidup kita oleh Tuhan bila kita pasrah kepada-Nya. Udara yang kita hidup gratis, air mandi yang segar, nasi goreng plus dendeng dan telor ceplok untuk sarapan, bukankah semua itu fasilitas yang disediakan Tuhan untuk kita? Belum lagi terhitung bonus yang tak terhingga banyaknya termasuk bunga melati di pagar rumah yang tidak pernah bosan berbunga dan selalu menaburkan baru wangi…’Melati Bunga Hati’. Sepertinya memang kita tidak punya alasan apa pun untuk tidak mempercayai-Nya.***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar