Membangun Konsensus Baru

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

SEKIAN lamanya bangsa ini bernegara dan di sepanjang waktu itu pula kita banyak temukan catatan peristiwa penting dalam sejarah tentang banyak hal dalam proses perjalanan bernegara di republik ini hingga sekarang.

Catatan-catatan itu tidak akan dibahas, tetapi andaikata dari catatan tersebut dihimpun dalam satu rekaman empirik dari sekian banyak pandangan umum seluruh warga bangsa yang hidup pada zamannya pasti tidak akan kita temukan pandangan umum yang seratus persen. Mirip-mirip bisa jadi ada banyak ditemukan. Tapi pandangan umum tadi banyak pula yang berbeda-beda satu sama lain karena memang melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Jika kita telaten memilahnya, pasti akan kita temukan tentang apa yang menjadi keinginan dan pengharapan dari pandangan umum segenap warga bangsa itu adalah sebuah jawaban “tunggal”, yakni bagaimana hidup berbangsa dan bernegara agar menjadi lebih baik dan semakin baik ke depannya di bidang apapun.

Inilah mengapa, opini ini mengangkat topik dengan judul “Membangun Konsensus Baru”. Upaya ini kita butuhkan karena memang sudah banyak aspek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah berubah dan,ini terjadi di seluruh negara di dunia. Di republik ini saja, misal di bidang ekonomi, kita mengenal berbagai doktrin dan falsafah ekonomi agar rumah tangga ekonomi negara ini dapat dikembangkan dan dikelola sesuai yang diperlukan pada zamannya.

Kita kenal ekonomi sosialis, ekonomi terpimpin, ekonomi berdikari, ekonomi Pancasila dan ekonomi liberal. Dewasa ini kita kenali juga istilah ekonomi berkeadilan dan ekonomi inklusif, serta ekonomi syariah. Bangsa dan negara mau memilih doktrin yang mana sebagai pondasi untuk membangun perekonomian ke depan, tidak bisa diputuskan sepihak.

Apa diputuskan oleh pemerintah saja, atau oleh lembaga legislatif, atau oleh parpol dan atau oleh masyarakat luas, dalam konteks bernegara tidak bisa dilaksanakan secara sepihak. Masing-masing pihak menginisiasi dan memunculkan gagasan dan konsepsinya bisa saja dilakukan dan hal yang demikian memang harus dilakukan.

Sekarang ini di ruang publik terus terjadi perdebatan panjang, pasang surut tentang doktrin ekonomi nasional. Kutubnya hanya dua yang paling menonjol di perdebatan itu dan lucunya debat itu terjadi manakala muncul tekanan kuat atas perekomian nasional yang dinilai mengancam sendi-sendi dalam rumah tangga ekonomi negara dan masyarakat.

Dua kutub itu adalah liberal dan “sosial” barangkali. Rasa sentimentilnya mencuat ke permukaan begitu kerasnya dan semangatnya seperti ingin mengatakan go to hell liberalisme. Apalagi kalau sudah mulai masuk ke ranah pentingnya kedaulatan pangan dan kedaulatan energi, perdebatannya berlangsung seru dan banyak menghabiskan energi.

Debat itu seperti tidak ada tempatnya untuk landing agar perbedaan pandangan tadi dapat diorganisir. Mendesak dan urgent untuk membangun konsensus baru. Kita sudah diingatkan dan di bangunkan oleh “Anthony Giddens” dalam bukunya berjudul “The Third Way” .Jalan Ketiga, Pembaharuan Demokrasi Sosial .Kalau kita cari apa jalan ketiga yang ditawarkan oleh Giddens, jangan berharap anda akan menemukan jawabanya di buku tersebut.

Penulis mencoba menjawab sendiri tentang the third way itu dalam pemahaman subyektif, yakni kita harus terus mencari jalan keluar agar bisa keluar dari segala hal yang bisa membelenggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik pada tataran filosofis, doktrin maupun pada tataran praktis.

Jalan ketiga itu memang harus bisa kita temukan dan jika sudah ada yang berhasil menemukan, maka tuangkan dalam bentuk gagasan dan konsepsi dan sesudah itu rembugkan bersama secara nasional oleh seluruh komponen bangsa. Prosesnya harus melalui konsensus, tidak bisa hanya diputuskan sepihak, karena menyangkut kepentingan yang luas dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Dr Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya berjudul “Renew Your Life dengan sederhana mengatakan “perbaharui hidupmu”. Slogannya yang dipakai adalah “Sambutlah Hari Esok Tanpa Cemas”. Dalam mukadimahnya ada satu kalimat yang menarik ,yaitu disebutkan bahwa segala sesuatu yang berpotensi untuk menghancurkan keagungan dan keindahan fithrah, mesti dicegah dan dihancurkan, bukan hanya sekedar pasrah dan membiarkannya.

Manusia harus berjalan sesuai dengan koridor ini. Artinya pemikiran yang berkembang secara dinamis di masyarakat, baik yang positif maupun negatif harus bisa diorganisir dan dipilah-pilah untuk mencari formulasi apa sebenarnya yang sebaiknya harus dilakukan. Yang pasti, membangun konsensus baru dalam konteks berbangsa dan bernegara sangat diperlukan. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar