Memetik Pelajaran dari Waduk Gajahmungkur

Oleh: Enderson Tambunan

waduk-gajahmungkur

DALAM kunjungannya di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (29/11/2014), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menemukan kenyataan yang memprihatinkan. Waduk Gajahmungkur, yang dibangun 1982, dan punya kapasitas daya tampung sekitar 440 juta meter kubik, sudah agak lama “terpapar” sedimentasi.

Tutupan sedimentasi itu tentu saja mengurangi daya tampung waduk, yang dulu pembebasan lahannya sungguh susah diselesaikan oleh pemerintah. Untuk menanggulanginya, waduk itu harus dikeruk dan jutaan kubik lumpur dikeluarkan. Pengerukan membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Merujuk berita media massa, Sabtu, Jokowi meminta agar pengerukan waduk diselesaikan sesegera mungkin. Selain itu, dia meminta di kawasan hulu waduk ditanami pohon, supaya sedimentasi dapat dihentikan.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono mengakui, penyebab sedimentasi adalah kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di atas waduk. Sedimentasi dimulai tahun 2008. Lebih masalah lagi, karena sedimentasi, yang diperkirakan 7 juta kubik, mengendap di depan “intake” atau mulut aliran air. Kondisi demikian berpotensi menghambat aliran air.

Persoalan sedimentasi di Waduk Gajahmungkur bukan masalah sederhana, yang cukup ditangani dengan pengerukan. Tapi dengan langkah tepat, berupa menjaga kawasan tangkapan air di sekelilingnya agar tetap berfungsi secara utuh. Keberadaan waduk tersebut amat penting bagi para petani. Kita pun yakin banyak penduduk yang menggantungkan sumber pencaharian pada waduk tersebut.

Berdasarkan penjelasan Menteri PU-Pera, akar masalah yang dihadapi Waduk Gajahmungkur adalah kurang lestarinya penghijauan di kawasan hulu. Aliran air, yang membawa tanah dan benda-benda lainnya, dengan cepat memasuki waduk. Itu berlangsung cukup lama dan “hasilnya” jutaan kubik lumpur mesti dibuang.

Masalah yang dihadapi Waduk Gajahmungkur juga menimpa prasarana pertanian dan sumber air lainnya di Tanah Air. Umpamanya, dalam kasus banjir di Jakarta, tingginya genangan air tidak terlepas dari berkurangnya kemampuan kawasan hulu untuk menyerap air hujan. Pun sungai yang bersumber dari hulu, seperti Sungai Ciliwung, didera sedimentasi dan okupasi bangunan. Pada sisi lain, upaya menormalisasi sungai itu bukan pekerjaan mudah.

11 Proyek Waduk

Dua “perintah” penting dari Presiden Jokowi untuk menyelesaikan secara tuntas masalah sedimentasi Waduk Gajahmunkur. Pertama, mengeruk waduk sampai timbunan sedimen terakhir terangkat. Kedua, menanami kawasan hulu waduk supaya lebih berkemampuan menyerap air. Perintah tersebut dapat dianggap sebagai “payung hukum” agar aparat pelaksana di lapangan tidak main-main.

Oleh karena itu, kita juga berharap supaya lembaga yang berwenang melakukan pengawasan, termasuk pemerintah kabupaten dan provinsi, lebih menajamkan “mata dan telinga” untuk memastikan perintah presiden itu terlaksana dan berhasil.

Pada sisi lain, kasus sedimentasi ini menjadi pelajaran berharga dikaitkan dengan rencana pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla untuk membangun 11 waduk tahun depan. Tatkala meninjau pameran hasil pertanian dalam rangka memperingati Hari Pangan se-Dunia di Makassar, 3 November 2014, Presiden Jokowi mengatakan, pada Januari – Februari 2015, akan dibangun lima waduk besar. Kemudian, Juni – Juli, dibangun enam lagi waduk.

Pembangunan waduk-waduk itu seiring dengan program pemerintah untuk mencapai swasembada pangan tiga tahun ke depan. Seperti sering diberitakan, pengembangan sektor pertanian menjadi salah satu program kerja pemerintahan Jokowi – JK. Rencana berikutnya, dalam lima tahun ke depan akan dibangun 24 waduk. Semuanya itu terkait dengan upaya peningkatan produksi pertanian pangan.

Ketersediaan air untuk lahan pertanian jelas tidak dapat diabaikan. Manajemen air, untuk mencegah banjir pada musim hujan dan mengatasi kekeringan pada musim kemarau, mesti diterapkan. Di sinilah pentingnya keberadaan waduk, yang dilengkapi dengan irigasi teknis. Itu menjadi keharusan. Apalagi, jika waduk-waduk tersebut dapat dijadikan multifungsi, mulai dari pengendalian banjir, sumber air, perikanan sampai pariwisata.

Program pembangunan banyak waduk di seantero Tanah Air bisa salah satu pilihan tepat dalam melengkapi infrastruktur. Tapi, kita perlu memetik pelajaran dari soal lapisan sedimen di Waduk Gajahmungkur. Merawat kawasan hulu, agar tetap berkemampuan menyerap air, harus konsisten dan berkesinambungan. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar