Memupuk Rasa Persaudaraan Sesama Bangsa Indonesia (1)

Oleh: Benny Hartanto

Tulisan pertama

ilustrasi

ilustrasi

HUBUNGAN antarsesama (human relationship) itu dimulai dari sekedar pertemanan biasa (friendship) sampai ke yang lebih mendalam berupa persaudaraan (brotherhood/sisterhood). Persaudaraan dapat diartikan sebagai persahabatan yang sangat akrab, seperti layaknya saudara sendiri. Rasa persaudaraan dapat diterapkan untuk siapa saja mulai dari lingkungan keluarga, negara sampai dunia.

Negara kita, Republik Indonesia merupakan negara kepulauan dari sekitar 17.500 pulau, berpenduduk 240 juta dengan banyak suku bangsa (>300) dan bahasa (>700) serta 6 agama resmi yang diakui Pemerintah. Beruntung di negara kita sejak jaman dahulu telah terjadi hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan serta toleransi yang tinggi diantara sesamanya.

Tentunya berkat semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika dan dasar negara Pancasila. Akan tetapi, keadaan negara kesatuan yang kita cintai ini (NKRI) dalam beberapa dekade terakhir terganggu oleh berbagai peristiwa kekerasan dan kejahatan. Hal ini menandakan adanya kemerosotan karakter bangsa, perilaku dan sikap toleransi sesama warga negara yang berakibat pada penurunan nilai-nilai persaudaraan dan kebangsaan.

Oleh karena itu, dimulai dari pribadi kita masing-masing, dirasakan perlu untuk membangun, memupuk dan meningkatkan karakter bangsa yang baik agar bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam tulisan ini, diuraikan beberapa watak dan perilaku yang perlu dimiliki oleh setiap orang dalam rangka mewujudkan rasa persaudaraan diantara sesama warga negara Indonesia.

Watak dan Perilaku untuk Meningkatkan Persaudaraan

Agar supaya kehidupan bermasyarakat itu bisa berjalan dengan baik dan terwujudkan rasa persaudaraan, maka ada beberapa watak dan perilaku yang perlu untuk dibangun, dipupuk dan ditingkatkan mutunya pada setiap individu seperti di bawah ini.

Tidak Membeda-bedakan dan Memperlakukan Orang Lain dengan Kasih Sayang

Orang hidup bermasyarakat dan bernegara itu terikat pada peraturan, norma, adat dan etika. Sebagai warga negara, kita perlu menghindari kebiasaan berbuat sekehendak sendiri, tetapi menyadari bahwa hak merdeka yang dimiliki setiap orang haruslah diterapkan secara bertanggungjawab dan tidak melanggar hak orang lain.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu mengembangkan rasa kasih sayang kepada sesama hidup, tanpa membedakan jenis, suku, derajat, agama/keyakinan.

Salah satu caranya kita harus memperlakukan siapa pun dengan sabar serta kasih sayang, seperti perlakuan terhadap orang yang disayangi dan kasih sayang kepada sesama janganlah pula dibeda-bedakan. Jangan pernah dilupakan bahwa kasih sayang atas dasar adil, serta santun tanpa mengabaikan tata krama dan kesusilaan. Bagaikan sebuah tubuh, masyarakat yang guyub rukun akan saling berempati dan bersimpati.

Menghormati Agama Orang Lain

Agama itu merupakan petunjuk jalan menuju Tuhan Yang Maha Esa, oleh karenanya seharusnya setiap manusia itu bisa menghormati dan menerapkan kesabaran terhadap agama orang lain dan hendaklah menghormati agama orang lain, seperti halnya menghormati agamanya sendiri.

Perbedaan (syariat) agama hendaknya jangan sampai memicu timbulnya perselisihan atau perpecahan dan membatasi pergaulan antar umat beragama, oleh karena setiap pribadi bertanggung jawab langsung kepada Tuhan mengenai hal ini. Berusaha menghormati agama lain (dan pemeluknya) dapat mewujudkan kerukunan umat beragama dan menambah rasa persaudaraan diantara penganut agama yang berbeda. Sebagai warga negara kita harus selalu sadar bahwa kita sebangsa dan setanah air, senegara.

Dalam kondisi negara yang pluralis ini, keutuhan negara harus dikedepankan agar cita-cita berdiam disatu negara yang adil dan beradab, tenang dan tenteram dapat terwujud, maka sangat diperlukan hidup berdampingan dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Oleh karenanya, setiap manusia hendaknya tidak membeda-bedakan derajat dan status sosialnya masing-masing, melainkan justru mendukung keutuhan NKRI dengan tidak mentolerir adanya penghinaan terhadap SARA (suku, agama, ras dan antar golongan). Perbedaan agama dalam hal syariatnya akan dihormati karena itu merupakan ajaran atau perintah dalam agamanya masing-masing. Dengan demikian maka rasa persaudaraan dan perdamaian akan mudah diwujudkan.

Tolong-menolong

Tolong-menolong itu merupakan perbuatan mulia, yaitu mewujudkan kasih sayang kepada sesama makhluk dengan cara menolong orang lain (dalam kesengsaraan) sesuai dengan kebutuhan yang ditolong dan sesuai dengan kekuatan yang menolong. Perbuatan baik /tolong menolong yang sempurna adalah yang keluar dari kesucian hati sendiri, tidak dipaksa oleh peraturan dan tanpa pamrih, kecuali hanya karena berbakti kepada Tuhan. Untuk itu kita harus belajar dan membiasakan ringan tangan dengan hati yang tulus, apabila dimintai pertolongan, sebagai perwujudan rasa ikhlas.

Setiap orang itu sesungguhnya wajib memberi dan menerima pertolongan. Ada ungkapan yang mengatakan: “Orang hidup itu hanya bergantian”, maksudnya orang yang menolong suatu saat pasti akan bergantian membutuhkan pertolongan orang lain. Maka sudah selayaknya jika kita itu tolong-menolong. Tetapi, janganlah kebaikan dipakai sebagai alat untuk ‘mengail agar diperoleh ikan yang besar’, atau bahkan untuk tujuan mempengaruhi kebijakan/keputusan, menekan atau mengalahkan.

Disamping itu, sangat penting untuk diperhatikan bahwa menolong orang lain itu bukan dalam hal kemaksiatan, kejahatan dan ketidakadilan. Perlu kewaspadaan dengan ketulusan hati, oleh karena kita hanya membantu dan memberi pertolongan kepada mereka yang melakukan perbuatan utama, dan jangan sekali-kali menyetujui dan membantu perbuatan jahat yang melanggar kesusilaan, keutamaan, dan keadilan. Jadi, yang dilarang dalam tolong-menolong itu ialah berkonspirasi, bekerja sama dan memberikan pertolongan untuk tujuan kemaksiatan, kejahatan dan ketidakadilan.

Orang yang pernah menolong kita, pantas atau bahkan wajib kita balas. Jika orang tidak membalas kebaikan teman sama sekali, maka teman itu lama-lama akan menjauh juga. Oleh karena itu, kebaikan seorang teman perlu diimbangi dengan kebaikan pula. Persahabatan seharusnya tidak bertepuk sebelah tangan (Friendship should not be all on one side).

Orang yang tahu berterima kasih atau membalas budi adalah orang yang bermartabat, dekat dengan pertolongan dan jauh dari gunjingan. Disisi lain, kita tidak boleh menyakiti hati dengan menolak pemberian orang lain atau balas budi yang keluar dari kemurnian hati dan yang tidak akan menyusahkan hidup kita. (bersambung…)

Berita Terkait

Komentar

Komentar