Memupuk Rasa Persaudaraan Sesama Bangsa Indonesia (4)

Oleh: Benny Hartanto

Tulisan keempat (habis)

ilustrasi

ilustrasi

Beberapa Perbuatan Penyebab Retaknya Persaudaraan

Tidak jujur

Orang yang ingkar adalah orang yang tidak menetapi janji atau kesanggupannya. Sedangkan orang yang berbohong itu suka mengatakan sesuatu yang tidak benar atau tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Satu tingkat lebih buruk dari berbohong adalah menipu, yaitu berbuat atau berkata yang tidak jujur dengan maksud untuk menyesatkan, mengakali, atau mencari untung. Adapun orang yang munafik itu suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya (bermuka dua) atau berpura-pura percaya atau setia, tetapi sebenarnya tidak.

Baik ingkar, berbohong menipu maupun munafik itu merupakan watak tidak jujur dan ini harus dibuang jauh-jauh. Watak tidak jujur ini jelas tidak disukai dalam pergaulan, karena dapat menimbulkan kekecewaan, pelecehan, penghinaan, penghianatan, penipuan dan bahkan mungkin tindakan pidana. Yang jelas, sekali ketahuan berbuat tidak jujur, selanjutnya orang tak akan percaya lagi padanya.

Mengadu dan Menghasut

Tidak jarang di dalam kehidupan bermasyarakat itu terjadi adu domba antar sesama untuk tujuan memecah belah, misalnya dalam kehidupan berpolitik. Demikian juga menghasut ataupun provokasi sering dilakukan untuk mengacaukan suasana dan menimbulkan kerusuhan dan perpecahan. Mengadu (domba) artinya menjadikan/membuat supaya berselisih (bertikai) atau bermusuhan diantara pihak yang sepaham.

Sedangkan menghasut itu membangkitkan hati orang supaya marah (melawan, memberontak, dsb). Ini sering berkaitan dengan provokasi yaitu perbuatan untuk membangkitkan kemarahan atau tindakan unntuk menghasut orang lain. Kelakuan-kelakuan ini sangat tidak terpuji karena akan memecah belah persahabatan atau persaudaraan yang sudah terjalin, hanya karena tujuan-tujuan tertentu yang berbau konflik kepentingan.

Membicarakan keburukan orang lain

Membicarakan keburukan orang lain biasanya sangat disukai oleh orang-orang tertentu antartetangga atau dalam suatu perkumpulan. Selain hal ini sebenarnya tidak perlu dan tidak baik untuk dilakukan, juga dapat mempengaruhi orang lain untuk menjauhkan rasa persahabatan. Apalagi kalau kita tidak tahu persis peristiwa dan latar belakang terjadinya sifat buruk atau kesalahan orang tersebut.

Apabila kita mengetahui kesalahan orang lain, jangan dipersalahkan di depan orang banyak atau dibangkit-bangkitkan kesalahannya, sebab tidak akan berfaedah bagi orang yang dipersalahkan. Tetapi tunjukkan kesalahannya dan upayakan menuju ke perbuatan yang baik, maksudnya agar dapat mengubah tindakannya. Orang baik akan senantiasa gelisah setelah melakukan kesalahan atau kebohongan, sehingga ia sebenarnya sudah tidak perlu dipersalahkan lagi.

Biasanya orang yang tidak melakukan kejahatan atau kesalahan apa pun akan hidup tenang dan tidurnya pun nyenyak. Disamping itu, janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, karena hal ini dasarnya rasa iri hati dan benci. Hal ini hanya akan menimbulkan pertengkaran dan sakit hati orang lain.

Memfitnah

Tindakan yang dapat menghancurkan persaudaraan adalah fitnah. Dalam bahasa Indonesia (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fitnah artinya perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran, yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Jadi, memfitnah dapat dapat mempengaruhi kehormatan, wibawa, atau reputasi seseorang menjadi lebih buruk.

Mematikan nafkah orang lain

Di lingkungan bisnis banyak kejadian pengusaha atau pedagang besar mematikan nafkah pedagang kecil. Oleh karenanya, semua pihak yang terkait harus saling memahami kepentingan bersama dan berdasarkan peraturan atau kesepakatan yang telah disetujui. Kita semua harus berusaha menyingkir dari semua perbuatan yang menyebabkan perselisihan atau membuat retaknya kerukunan (persaudaraan) yang diantaranya ialah mematikan nafkah orang lain dan semua perbuatan serupa yang tergolong membinasakan. Jadi, hendaknya kita jangan mengedepankan kepentingan sendiri sehingga menghancurkan kepentingan orang lain.

Murka dan Ngangsa-angsa

Kedua kata murka dan ngangsa-angsa mempunyai arti yang mirip satu sama lain. Murka (Jawa) artinya serakah, rakus (Indonesia), tamak (Arab), greedy (Inggris), yaitu keinginan yang kuat terhadap sesuatu melebihi haknya atau diluar batas kewajaran, sehingga menimbulkan sikap tak pernah merasa puas terhadap yang sudah dicapai dan dimilikinya. Adapun ngangsa-angsa artinya memaksakan diri untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak.

Orang yang serakah dan ngangsa-angsa biasanya tidak akan pernah puas terhadap apa yang telah dimiliki dan selalu berusaha untuk menambahnya. Sehingga karena ketidakpuasan itu, maka segala sesuatu akan diperoleh dengan berbagai cara, tanpa memperhatikan sepenuhnya apakah halal atau haram, asalkan keinginannya bisa terpenuhi. Hal ini sangat tidak baik dalam membangun suatu persaudaraan, karena bisa merugikan orang lain. Sering terjadi karena serakah ingin mendapatkan tambahan sedikit harus kehilangan sesuatu yang lebih berharga.

Mewujudkan rasa persaudaraan, banyak menuntut pengorbanan akan tetapi apabila dilaksanakan dengan niat yang baik dan tulus tanpa beban pasti dapat terlaksana. Sehingga seseorang mudah memberi maaf kepada orang lain, serta mudah membuat senang hati orang lain dan tidak ingin membuat sakit hati orang lain. Dengan demikian kegiatan tolong-menolong kepada sesama sudah menjadi bagian dari dirinya. Pribadi-pribadi demikianlah yang dibutuhkan untuk menegakkan ketenteram, kedamaian masyarakat. Persaudaraan pun terjalin dalam satu bangsa dan negara. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar