Site icon TubasMedia.com

Menanam dan Merawat

Laporan : Enderson Tambunan
-bagian pertama dari dua tulisan

PENGHARGAAN patut diberikan kepada mereka yang peduli pada lingkungan. Terutama mereka yang memberikan aksi nyata atau tindakan untuk menyelamatkan dunia. Sekecil apa pun peranan seseorang dalam mengimplementasikan kepedulian pada lingkungan akan sangat banyak artinya. Lingkungan adalah masa depan kita.

Kalau makin banyak penduduk planet ini memberikan kontribusi bagi penyelamatan bumi dari pemanasan global atau global warming, maka gelombang panas dan badai salju, akan berkurang. Kalau lingkungan makin hijau dan lestari, bencana banjir dan longsor dapat dikurangi.

Menarik membaca berita seorang figur terkenal mengimbau tamunya untuk memberikan kado berupa pohon pada saat dia merayakan hari ulang tahun, beberapa waktu lalu. Cornelia Agatha, pemeran, yang kini menekuni dunia teater, mengimbau tamunya untuk menyumbangkan pohon untuk penghijauan Merapi. (Kompas, 17/1/11). Cara unik itu jarang dilakukan dan bahkan mungkin tak pernah dilakukan orang lain. Pesan yang disampaikan jelas, kepedulian pada lingkungan. Itu amat berarti bagi lingkungan, apalagi bagi kawasan sekitar Gunung Merapi, yang meletus, belum lama ini.

Berbagai kegiatan yang fokus pada penanaman pohon dan atau tanaman hias dilakukan oleh berbagai pihak, beberapa tahun terakhir ini. Ada sekolah yang meminta murid yang baru lulus untuk menyumbangkan tanaman hias. Maka halaman sekolah pun dipenuhi berbagai jenis tanaman. Sebuah kebun tanaman pun terhidang. Sejumlah komunitas, seperti klub sepeda motor, secara rutin melaksanakan penanaman pohon. Semuanya itu sebagai tanda, sesungguhnya banyak orang yang peduli pada lingkungan. Ini yang harus terus diperluas dan dirawat agar tidak hanya sekali dan semusim, tapi secara berkesinambungan.

Menggembirakan, karena gerakan menanam pohon terus menyebar. Berbagai pemerintah daerah menyelenggarakan acara serupa, terutama pada saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Secara nasional, kita tengah berada dalam program penanaman pohon 1 miliar, yang berlangsung dari Sabang sampai Merauke. Program ini dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 28 November 2010 di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Sudah ratusan juta pohon ditanam dan akan terus bertambah lagi. Komitmen itu terus berlangsung, terutama untuk menghijaukan kawasan-kawasan tandus.
Tentu, kita membayangkan pada saatnya nanti bukan hanya kawasan-kawasan gundul dan tandus yang hijau berkat sentuhan tangan penduduk yang rindu pada jernihnya air dan merdunya kicauan burung. Kita pun mengharapkan sudut-sudut kota besar ditumbuhi pepohonan berdaun rindang. Trotoar jalan yang padat lalu lintas berhiaskan pohon yang tetap tumbuh kokoh diterpa angin kencang. Tepi pantai dibentengi oleh hutan bakau sebagai penahan ombak dan “rumah” bagi biota laut.

Oleh karena itu, gerakan penghijauan secara massal, rasanya, perlu pula digalakkan di tengah-tengah kota. Memang, selama ini, setiap kota memiliki dinas pertamanan, yang bidang tugasnya, antara lain, menjaga kota tetap hijau, menata kota tetap teduh dan indah. Bagus benar taman kota sebagai ruang terbuka hijau (RTH) menjadi “paru-paru” yang memberikan kesegaran. Ramai-ramai menghijaukan kota pasti dapat terwujud.
Kota-kota besar memerlukan RTH dan berdasarkan undang-undang mengenai tata ruang, RTH ini diatur dalam persentase sekitar 30 persen dari keseluruhan luas kota. Kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, masih dalam proses untuk mencapai luas RTH yang diamanatkan oleh undang-undang itu. Kita mengharapkan ada pihak- pihak yang mengawal agar pemenuhan RTH di kota-kota besar menjadi kenyataan. (bersambung)

Exit mobile version