Breaking

Mendag: Eksekusi Sapi BelumOptimal

index

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Tiap tahun, harga pangan selalu naik menjelang Puasa dan Lebaran. Beda dengan sebelumnya, kenaikan harga pangan tahun ini sudah terjadi sebulan menjelang hari-H.

Terkait hal ini, Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong mengakui adanya masalah yang memicu kenaikan harga pangan khususnya daging sapi. “Saya harus akui bahwa implementasi eksekusi kami, khususnya di sapi belum optimal,” ujar Mendag Thomas usai Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (8/6/2016).

Mendag Tom, sapaan akrab Thomas Lembong bilang, kenaikan harga terjadi karena masalah perencanaan yang memang kurang matang. “Pak Presiden telah mengumpulkan menko (perekonomian), menkeu, mentan, mendag, menteri BUMN dan Wapres. Presiden menghimbau banyak hal terkait perencanaan,” papar Mendag Tom.

Thomas bilang, andai saja sejak perencanaan sudah diantisipatif jauh-jauh hari, atau langkah preventif disusun beberapa bulan silam, gejolak harga pasti bisa segera diatasi. Tidak seperti saat ini, di mana harga pangan bergerak di luar batas kewajaran.

Khusus untuk daging sapi, lanjut Mendag Tom, sejak November-Desember 2015, sudah ada persiapan untuk impor sapi bakalan. “Sudah ada hitungannya, semua berapa ratus ribu ekor untuk 2016 (stok sapi),” papar Mendag Tom.

Masih kata Mendag Tom, telah ada kesepakatan dalam rapat koordinasi (rakor) menteri-menteri ekonomi agar diterbitkan importasi di 2016. Tujuannya supaya tidak terjadi keterlambatan importasi sapi bakalan.

Sayangnya, kata dia, kesepakatan itu tidak segera diimplementasikan. Padahal, apa yang telah diputuskan dalam rapat kabinet atau rakor ekonomi, harus dipatuhi dan dijalankan. “Ketaatan dan kepatuhan kepada keputusan itu dalam sekali sidang kabinet atau rakor ekonomi sudah memutuskan dan harus dipatuhi,” ungkap Mendag Tom.

Kendati begitu, Mendag Tom terlihat berseri-seri ketika menjelaskan perkembangan harga beras yang bisa terkendali. “Jadi dengan tahun lalu kita putuskan impor 1,5 juta ton beras. Sekarang stok beras di gudang Bulog mencapai 2,1 juta ton,” paparnya.

Dengan begitu, lanjut dia, stok beras mencukupi untuk digelarnya operasi pasar (OP) besar-besaran. “Memang ada yang optimal tapi ada juga yang kurang optimal. Namanya juga hidup,” pungkas Mendag Tom. (red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar