Mengapa Jalan Tol di Indonesia tidak Aman

Oleh: Gatot Rusbintardjo

 

PERKERASAN jalan dibuat dari perkerasan kaku yaitu dengan Beton Semen. Perkerasan dengan Beton Semen tidak mempunyai Skid Resistance atau kecil skid resistance-nya. Skid resistance adalah Daya cengkeram ban dengan permukaan perkerasan jalan. Karena skid resisten-nya kecil atau bahkan nol. Maka apabila mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan mengerem,  mobil tidak segera berhenti karena tidak ada  daya cengkeram yang  memadai antara ban dan permukaan perkerasan jakan.

Mobil akan meluncur cukup jauh sebelum berhenti. sehingga sering terdengar mobil menabrak truck atau mobil lain yang ada  di depannya.

Karena itu tolong perhatikan, jalan beton bukan jalan untuk kecepatan tinggi!

“Sehingga menurut saya, salah membangun jalan tol dengan perkerasan kaku,’’ katanya

Di tengah jalan Tol diberi pembatas dinding beton yang Tebal dan kokoh. Akibarnya jika ada mobil yang selip atau kemudinya berbelok maka akan menabrak tembok beton dan karena kecepatannya tinggi, maka akibatnya fatal seperti yg dialami mobil VA dan juga dosen Fak. Teknik Sipil UNDIP beberapa waktu yang lalu.

Jalan Tol yang aman di tengahnya (mediannya) harus berupa rumput dengan lebar min.  2 x 5 meter dengan kelandaian 5%. (Seperti jalan Tol Jagorawi pada awal dibuatnya).

Dengan demikian jika ada sopir mengantuk atau mobil pecah ban, mobil tidak menabrak tembok beton, tetapi meluncur di atas rumput yang landai dan akhirnya berhenti dengan selamat.

‘’Sekali lagi ingat!! Jalan Tol di Indonesia adalah jalan yang tidak aman terutama untuk kecepatan tinggi,’’ katanya sembari mengatkan taatilah rambu pembatas kecepatan.

.Jangan bangga dapat menempuh waktu 3,5 jam dari Semarang ke Surabaya. Tapi banggalah dapat membawa keluarga dengan selamat dari Semarang ke Surabaya walaupun harus ditempuh dalam waktu lebih dari 4.5 jam.(penulis adalah pemerhati konstruksi jalan raya dan jalan KA)

Berita Terkait

  • Tidak Ada

Komentar

Komentar