Mengatasi Penderitaan

Oleh: T. Hartono

ilustrasi

ilustrasi

STRES atau perasaan tertekan merupakan penderitaan, timbul dari perasaan negatif dalam batin kita, karena tidak terlaksananya keinginan. Penyebabnya sering karena keinginan tidak realistis sehingga sulit dicapai.

Keinginan itu sendiri sebenarnya normal, tetapi akan memperbudak apabila kita menempatkan keinginan itu di atas pengertian dan dikejar demi kepuasan belaka. Dalam keadaan demikian kita tanpa sadar sudah diperbudak keinginan. Penderitaan semacam ini sudah pasti akan mengganggu jiwa dan pikiran menjadi kacau, resah dan gelisah.

Masalahnya adalah bagaimana menghindari penderitaan atau lebih tepat mengatasi penderitaan itu dan membuat agar stres tersebut bermanfaat bagi kita. Dr. Dale Carnegie mengatakan, bahwa apabila kita memperoleh jeruk yang masam, mengapa tidak kita buat saja minuman jeruk yang masam manis sedap untuk diminum?

Hakikat Penderitaan

Penderitaan bukanlah musuh, tetapi merupakan petunjuk untuk memperbaiki diri. Penderitaan berasal dari hasil tindakan kita sendiri di masa lampau yang telah lupa kapan dilakukannya, yakni buah hasil tanaman kita sendiri. Kita sering menggunakan pikiran sebagai budak nafsu dan emosi. Pikiran protes tetapi kita tidak tanggap. Akhirnya protes tersebut terungkap dalam bentuk bencana, penderitaan atau penyakit.

Setiap bentuk penderitaan jangan ditolak atau dimusuhi (mengeluh, menyesali), sebaliknya pelajari atau dianalisa sebab-sebabnya. Kematangan jiwa seseorang ditempa oleh berbagai krisis atau penderitaan yang dihadapinya dengan tabah dan akhirnya dia dapat berdiri tegar di atas kejayaannya karena lulus dari segala macam ujian.

Datangnya penderitaan tidak bisa dihindari dan memang tidak perlu dihindari, sebab penderitaan itu berasal dari hasil perbuatan kita sendiri. Oleh karena itu, semua yang datang kepada diri kita (walau itu penderitaan) harus diterima dengan rasa mengerti dan ikhlas. Dengan demikian kita tidak kehilangan apa yang sebenarnya sedang diajarkan Tuhan kepada kita. Mengerti bahwa keadaan kita sekarang adalah buah perbuatan kita sendiri yang dulu ditanam, maka kita kuat menerima penderitaan dan mampu meniadakan penderitaan di masa datang.

Penderitaan sebenarnya adalah bentuk peringatan Tuhan atas perbuatan kita sendiri, karena kasih sayang Tuhan kepada semua hamba-Nya. Apabila manusia tidak pernah menderita, ia tidak pernah mengetahui kesalahannya. Berbahagialah manusia yang tidak pernah merasa menderita, berarti ia telah dapat merasakan kasih sayang Tuhan, dan pengampunan Tuhan kepada-Nya. Sepatutnyalah ia selalu bersyukur dengan kerendahan hati kepada-Nya.

Cara Mengatasinya

Manusia di mana pun berada harus sadar bahwa manusia adalah hamba Tuhan, dan harus percaya bahwa Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Mahaadil. Keadilan Tuhan berjalan menjadi hukum perbuatan; bahwa semua perbuatan akan ada hasilnya.

Sedang Mahakasih dan sayang Tuhan adalah pengampunan kepada hamba, apabila hamba menyadari perbuatannya salah dan mohon ampun, bertobat dan berjanji untuk memperbaiki diri dan diikuti dengan selalu berbuat baik; yaitu dengan hati ringan membantu kesulitan orang lain, tanpa paksaan dan tidak mengharapkan balas budi (imbalan).

Cara mengatasi penderitaan adalah dengan sadar dan mohon ampun atas segala perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, kemudian menerima keadaan apa pun yang datang dengan rasa positif dan berikhtiar dengan benar; yaitu menyederhanakan keinginan, agar sesuai dengan kemampuan dan keadaan kita yang sebenarnya dan selalu berusaha berbuat baik. Setelah itu semua kejadian dijalani dengan kesabaran karena sadar, bahwa Tuhan Maha Penolong, Maha Penghibur kepada hamba-Nya yang sungguh percaya kepada-Nya.

Dengan demikian kita dapat menjalankan hidup yang berat (penderitaan) tanpa merasa berat, karena hati ikhlas menerimanya. Mungkin bagi orang lain yang melihatnya akan merasa kasihan, tetapi ketika kita dekat dengan Tuhan semua yang berat akan terasa ringan, pikiran tidak kacau, hati tenang.

Kondisi kejiwaan seperti ini akan membuat seseorang menjadi efektif dan efisien dalam berbuat. Kesabaran dan ketekunan menghadapi setiap perikehidupan yang terasa berat akan membawa kita pada tercapainya cita-cita yang menuju kebahagiaan. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar