Menghadapi Ketidakjujuran

Oleh: W. Suryolegowo

Ilustrasi

Ilustrasi

PERNAHKAH anda menghadapi orang yang tidak jujur? Kalau anda mengerti bahwa orang yang anda hadapi tidak jujur, berarti orang tersebut tidak pandai mengelabui orang sehingga anda tahu ketidakjujurannya.

Namun demikian kita toh masih saja membiarkan diri untuk bersikap marah, jengkel, pedih, sebal, dan lain-lain perasaan negatif yang merasuk dalam hati sanubari. Kadang kala sampai menimbulkan sakit hati yang berkepanjangan, sekaligus disertai melekatnya rasa dendam untuk membalas ketidakjujurannya. Ah, betapa menderitanya jiwa ini.

Penderitaan jiwa itu sesungguhnya karena kita tidak dapat menerima kenyataan yang ada, mungkin juga kurang ikhlas, karena ketidakjujuran orang itu telah mengakibatkan hilangnya milik berupa benda yang sangat berharga atau kehilangan harta benda kita.

Kata orang arif, beliau merasa sangat bersuka cita dan penuh cinta tatkala merasa dibohongi oleh seseorang; mengapa? Menurut beliau, karena pembohong itu bukanlah seorang pembohong yang ulung. Sebab si pembohong ketahuan kebohongannya. Pastilah ia sedang menderita karena ketidakjujurannya.

Betapa seringnya sesungguhnya kita dibohongi, digosipkan, difitnah, dicerca, dihina, dipermalukan, semuanya terjadi di balik punggung kita. Memang sebenarnya bukan soal kebohongannya, fitnahannya, omongannya atau gosipnya, namun justru soal bagaimanakah sikap kita dalam menghadapinya apabila kita mengetahuinya. Kalau kita mengetahuinya, kita dapat saja memilih untuk jengkel, sebal, sakit hati atau dendam berkepanjangan. Namun, apa gunanya? Bukankah yang sedang menderita sesungguhnya mereka yang sedang berbohong, yang sedang mencerca, dan yang sedang meremehkan kita? Mengapa kita harus ikut serta menderita?

Alangkah senangnya, apabila ternyata kita tidak ambil peduli terhadap perbuatan itu. Lebih senang lagi apabila kita tidak mengetahui semua perbuatannya. Sebab, keduanya itu dapat membuat kita tetap menyayanginya, tanpa sakit hati, tanpa harus marah dan juga mungkin tanpa harus dendam berkepanjangan.

Jadi, mengetahui atau tidak mengetahui, sebaiknya kita tetap mencintainya, menghormatinya, dan leburkanlah diri kita dengan penuh kasih, oleh karena ia adalah bagian dari kita.

Sebaiknya kita belajar mau menerima perlakuan yang tidak baik atau apabila suatu saat kita diperlakukan jahat oleh siapa saja. Janganlah diingat-ingat perbuatan buruk itu. Bagaimana caranya? Caranya tutuplah keburukannya dengan kebaikannya yang pernah ia lakukan kepada kita atau ingat-ingatlah kebaikannya, sehingga dapat menghilangkan atau dapat menutupi kejahatannnya. Apabila hal itu dibiasakan pada diri kita, maka kasih sayang kita kepada sesama hidup tidak pernah surut.

Memang tidak mudah untuk mencintai sesama hidup, apalagi terhadap orang yang bersikap tidak jujur kepada diri kita, atau orang yang memanfaatkan keberadaan kita untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi, demi Allah, yaitu kita sadar bahwa kita adalah hamba Allah, usahakanlah selalu mau memaafkan orang yang tidak jujur kepada kita. Mohonlah kepada Allah, semoga orang tersebut dibukakan mata hatinya agar dapat berbuat benar, dan ia sadar pada kealpaannya. Dengan jalan demikian, akan memperkecil kemungkinan kita dibohongi lagi oleh orang yang sama.

Penulis tinggal di Jakarta

Berita Terkait

Komentar

Komentar